SURYA.co.id, Jakarta - Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia secara resmi di Vatikan.
Dalam pertemuan dengan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) di Wisma Keuskupan Agung Jakarta, Senin (4/5/2026), Kardinal Suharyo menyebut dua alasan utama penggunaan bahasa Indonesia di Vatikan: yakni Dari sudut diplomasi internasional dan Dari sudut dinamika Gereja Katolik Indonesia.
Ia menyambut baik penandatanganan MoU penggunaan bahasa Indonesia di Vatican News.
“Kehidupan Gereja Katolik Indonesia itu sangat maju, dinamikanya sangat hidup, namun kekurangannya informasinya tidak tersebar luas. Karena itu bagi saya pribadi yang paling diharapkan adalah bagaimana cerita-cerita mengenai gereja di Indonesia yang menginspirasi itu tersebar luas dan bisa dimengerti oleh forum luar negeri,” ujarnya.
Kardinal Suharyo menambahkan, MoU ini membuka pintu komunikasi internasional yang sebelumnya terhambat.
“Semoga sekarang sudah mendapat pintu masuknya. Setelah MoU ini, diharapkan cerita positif tentang Indonesia banyak dan dapat disebarkan ke seluruh dunia,” katanya.
Namun ia juga mengingatkan tantangan, seperti pengalaman Radio Veritas edisi bahasa Indonesia di Filipina yang terhenti karena biaya besar.
“Itu sudah lama sekali. Jadi tantangannya seperti itu, tidak mudah,” ucapnya.
Kardinal Suharyo menegaskan Gereja Katolik Indonesia lebih maju dibandingkan di Eropa.
Ia mencontohkan agenda Sinode Uskup di Roma yang sebenarnya sudah dilaksanakan di Indonesia sejak 20 tahun lalu.
“Kita sudah punya dewan paroki sejak tahun berapa itu, ada ketua lingkungan, wilayah. Itu kan berjalan bersama. Tidak pernah seorang uskup itu mengambil keputusan sendiri. Tetapi diberikan kepada paroki-paroki,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan sejarah panjang Gereja Indonesia, sejak 1934 sudah membicarakan gagasan yang baru dicetuskan Konsili Vatikan II tahun 1962.
Ketua PWKI Asni Ovier menegaskan komitmen PWKI membantu pelaksanaan MoU.
“Sebagai tanggung jawab kami adalah memberi masukan kepada Komsos KWI. Dan diharapkan bahwa semua akan berjalan lancar dan memberikan harapan baik bagi bangsa, negara dan Gereja Katolik Indonesia,” ujarnya.
Ovier menambahkan, konten yang akan diangkat menyangkut perdamaian, toleransi, kerukunan, hubungan antaragama, kemanusiaan, dan kebhinnekaan.