19 Kali Ditolak Beasiswa, Pritta Akhirnya Lolos LPDP ke London
GH News May 06, 2026 06:09 PM
Jakarta -

Kisah seseorang dalam meraih beasiswa untuk melanjutkan studi tidak selalu mulus. Seperti yang dialami Pritta Novia Lora Damanik.

Ia bahkan ditolak 19 kali dahulu sebelum akhirnya meraih beasiswa. Banyak hal yang sudah dia korbankan juga untuk meraih beasiswa mulai dari tenaga, mental, hingga finansial.

Namun, kisah Pritta ini menjadi contoh bahwa perjuangan yang terus dilakukan tidak akan sia-sia. Bagaimana akhirnya Pritta meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)?

7 Tahun Berjuang Raih Beasiswa

Pritta bernostalgia, ia mengingat kembali kali pertamanya ditolak beasiswa yakni pada 2015. Selama tujuh tahun, Pritta masih belum mendapatkan kesempatannya.

"Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh," ujarnya dikutip dari laman Media Keuangan LPDP, Rabu (6/5/2026).

Setiap gagal dapat beasiswa, Pritta merenung dan memperbaiki kekurangannya. Suatu ketika, Pritta sempat berhenti sejenak mengejar beasiswa karena ia sempat menjadi penyintas gempa Palu.

Setelah itu, Pritta bangkit kembali mencoba peruntungan lain. Ia hanya yakin bahwa jika terus berjalan, maka ia akan meraihnya.

Akhirnya, beasiswa LPDP berhasil didapat pada 2023. Ia melanjutkan pendidikan magister di bidang Education Policy and Society di King's College London.

Perjalanan Kuliah di London

Pritta sadar bahwa pendidikannya kali ini dibiayai oleh negara. Dengan begitu, ia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.

"LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia," tuturnya.

Selama kuliah di London, Pritta tak hanya memperoleh pengetahuan akademik tapi juga memperluas perspektifnya soal sistem pendidikan dan kebijakan publik.

"Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini," ungkap Pritta.

Tertarik dengan Isu Perlidungan Anak

Pritta sangat tertarik terhadap isu perlindungan anak. Perempuan asal Pematangsiantar ini sejak kecil sudah gemar membaca koran hingga majalah.

Sehingga ia sudah cukup berteman dengan isu sosial. Setelah melihat realita, Pritta semakin merasakan banyak nilai masyarakat yang bertentangan dengan hak perlindungan anak.

Dari sana, ia memantapkan hati untuk berkarier di bidang pembangunan sosial. Ia terlibat di banyak komunitas advokasi.

Pulang ke RI untuk Mengabdi

Selepas S2, Pritta langsung pulang ke Indonesia. Ia merasa ada tanggung jawab yang harus dibereskan dan ilmu yang harus disalurkan di negerinya.

Pritta semakin menekuni bidang perlindungan anak. Ia aktif dalam organisasi nonpemerintah (NGO), baik di tingkat nasional maupun dalam kemitraan dengan lembaga internasional.

Kini, ia bekerja di sebuah NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia. Ia berperan menjembatani kebijakan pemerintah dan hal yang diperlukan anak-anak di lapangan.

"Bagi saya, salah satu sektor strategis untuk mengimplementasikan perlindungan anak adalah melalui pendidikan," ungkapnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.