RS Ben Mboi Tangani Remaja Alor Tertancap Panah di Kepala
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Ben Mboi Kupang melakukan penanganan pada seorang remaja dari Kabupaten Alor yang bagian kepalanya tertancap anak panah.
Remaja 17 tahun itu merupakan pasien rujukan dan masuk ke RSUP dr. Ben Mboi pada Selasa, 5 Mei 2026 petang. RM merupakan warga Nusa Kenari yang terkena panah ketika melintas di pertigaan Kampung Baru, Kabupaten Alor.
RM sebelumnya dirawat di RSUD Kalabahi, Kabupaten Alor. Ia lalu dibawa ke Kupang pada Selasa siang menggunakan kapal cepat. Korban lalu dilarikan ke RSUP Ben Mboi.
"Kita dapat info dari Alor mereka ada rujukan pasien yang terkena panah. Waktu kami terima, panah di kepala," kata Direktur RSUP dr Ben Mboi Kupang dr. Robinzon Gunawan Fanggidae, Rabu (6/5/2026) diwawancarai di kantornya.
Baca juga: RSUP Ben Mboi Kupang Komitmen Layani Pasien Rujukan dengan Cepat
Dokter Robinzon berkata, pasien ketika datang di RSUP Ben Mboi dalam kondisi setengah sadar. Bahkan, pasien sempat mengalami kejang hingga dilakukan tindakan darurat oleh petugas medis. Dari CT Scan, terlihat panah menancap pada bagian sensitif di dalam tempurung kepala.
Dia mengaku, karena kondisi pasien yang belum stabil maka tindakan lanjutan belum bisa dilakukan. Apalagi, tensi darah korban juga tidak dalam kondisi baik.
Petugas di RSUP Ben Mboi memberikan pertolongan dengan peralatan untuk menstabilkan kondisi pasien.
"Hari ini kayaknya, dokter bedah saraf sudah lihat. Mereka rencana mau lakukan tindakan operasi," kata dokter Robinzon.
Dengan kondisi seperti itu, kata dia, tindakan pun dilakukan penuh risiko. Namun, dokter Robinzon menegaskan pihaknya tetap berusaha semaksimal mungkin agar panah yang tertancap di area sensitif itu bisa dicabut.
"Kalau panah tidak dicabut, pertama kan risiko sudah merusak otak. Pendarahan bisa jalan terus. Risiko terinfeksi tinggi," katanya.
Dokter Robinzon mengatakan, biasanya pasien remaja seperti RM jika mengalami kejadian serupa, kondisinya masih cukup stabil.
Berbeda dengan RM yang memburuk. Pasien seperti kecelakaan di mengalami benturan seperti di kepala sering dilakukan penanganan di RS Ben Mboi.
"Sebenarnya model begitu, tergantung kondisi awal. Contohnya kecelakaan tulang kepala sampai menekan otak. Itu sering disini. Kalau dia datang sadar, kita ada penilaian kesadaran. Memberatnya itu adalah ketika dia datang kesadarannya rendah. Tambah jaringan otak yang rusak, banyak," ujarnya.
Meski demikian, dokter Robinzon mengatakan, harus ada penanganan agar tidak terjadi pendarahan di otak. Khusus penanganan RM, RS Ben Mboi menyiapkan tim dari sejumlah disiplin keilmuan.
Standar operasi, menurut dia, minimal empat jam. Itupun tergantung situasi yang dihadapi ketika penanganan dilakukan. Dia mengatakan, pihaknya terus berusaha untuk melaksanakan tindakan tersebut.
"Dokter bedah saraf, anastesi, dokter neurologi juga, dokter radiologi yang CT Scan. Tim perawat kamar oper dan tim perawat ICU. Tim sudah siap semua," katanya.
Plt. Direktur Medik dan Keperawatan RS Ben Mboi dr. Iwan Heryawan, SpOG, Subsp. Obginsos menambahkan, ia sempat melihat kondisi pasien ketika berada di ICU. Dokter Iwan memastikan pihaknya tetap berusaha menangani pasien.
"Kita usahakan semaksimal. Minimal panah harus dikasih keluar. Sumber pendarahan karena tertusuk di dalam. Itu terbukti ketika di CT Scan," katanya. (fan)