TRIBUNNEWS.COM - Batalnya transfer Jean-Philippe Mateta ke klub legendaris Italia, AC Milan, pada musim dingin 2026 meninggalkan cerita sedih.
Dalam pengakuan Jean-Philippe Mateta kepada media Prancis, L'Equipe, urungnya kepindahan ke AC Milan membuat mentalnya sempat terguncang.
Bahkan, striker asal Prancis ini hingga kini masih merasakan sakit hati atas pembatalan secara sepihak.
Meski demikian, kegagalannya untuk berbaju Merah Hitam khas Rossoneri membuatnya bangkit untuk membuktikan kualitasnya kepada pelatih Crystal Palace, Oliver Glasner.
"Sejujurnya, itu menyakiti saya," tegas singkat Mateta soal pembatalan transfer AC Milan terhadap dirinya.
Semula, AC Milan optimis untuk merekrut Mateta dari klub Premier League, Crystal Palace.
Kesepakatan awal antara Mateta dan Milan telah tercapai di penghujung Januari 2026.
Mateta bahkan disebut sudah setuju untuk mendarat ke San Siro dengan kontrak permanen selama 4 tahun. Namun keinginan Mateta untuk bermain di bawah arahan Massimiliano Allegri akhirnya pupus.
Ibarat cinta, Mateta dengan Milan bak bertepuk sebelah tangan.
Ada dua faktor yang mendasari batalnya kepindahan sang bomber. Pertama, AC Milan ragu untuk meminang penyerang timnas Prancis karena riwayat cederanya.
Maklum, Milan membutuhkan sosok striker yang benar-benar fit di lini depan, karena ketajaman Sergio Gimenez yang kala itu tak bisa diandalkan.
Baca juga: Sayonara Modric & Allegri, Harga Mahal AC Milan Gagal Lolos ke UCL 2026/2027
Kedua, kubu Crytsla Palace juga hanya akan membiarkan Mateta pergi jika mereka menemukan pengganti sepadan.
Secara garis besar, AC Milan lah yang menarik diri dari perburuan tanda tangan Mateta. Kondisi itu membuat Mateta frustrasi.
Bahkan, bentuk dari kekecewaan sang pemain, sempat mogok tak mau bermain untuk Crystal Palace dalam beberapa laga.
Kini, nasi sudah menjadi bubur.
Striker yang pernah menjadi klub dari Olympique Lyon ini hanya bisa menahan rasa kecewa, dan mengubahnya sebagai pelecut semangat untuk pembuktian.
Bahkan keputusan AC Milan menggagalkan kepindahannya secara sepihak adalah salah.
"Kemudian, sekarang saya sudah bangkit dan memikirkan cara untuk pulih," tegasnya berkomitmen.
"Saya berkonsultasi dengan beberapa spesialis (soal cedera lutut-red), dan ketika mereka meyakinkan saya bahwa itu tidak membutuhkan operasi, saya fokus ke langkah selanjutnya."
"Saya bekerja keras untuk membuktikan kepada (Oliver-red) Glasner, bahwa JP (panggilan akrab Mateta-red), ada di sana untuk merebut kembali posisinya sebagai striker utama dan memenangkan semuanya bersama tim," ucap Mateta.
Performa Mateta pun tidak bisa dikatakan jelek. Sempat menghilang dalam beberapa laga akibat cedera, Mateta musim ini sudah mengumpulkan 13 gol dan tiga assist dari 44 pertandingan.
Hanya saja, ketajamannya belum bisa menghindarkan Crystal Palace dari ancaman degradasi ke Divisi Championship 2026/2027.
The Eagles, julukan Crystal Palace, mengumpulkan 43 poin dari 34 laga dan duduk di peringkat ke-15.
Dengan empat laga sisa dikantongi, Mateta dan kolega membutuhkan tiga poin lagi untuk memastikan mereka eksis di Premier League musim depan.
Sementara untuk AC Milan, setelah Scudetto 2025/2026 diamankan Inter Milan, fokus mereka ialah menyegel tiket tampil Liga Champions musim depan.
Duduk di posisi ketiga klasemen Serie A berbekal 67 poin, secara persentase, finis di 4 besar alias zona UCL sangat terbuka bagi Milan.
Hanya saja, persaingan di zona Liga Champions Serie A sangatlah ketat melibatkan tak hanya Milan, namun juga Napoli, Juventus, AS Roma, dan Como.
Jika dalam tiga laga sisa AC Milan tak bisa menyapu bersih kemenangan, atau bahkan hattrick kekalahan, bukan hal mustahil saudara tua Inter ini akan finis di luar empat besar pada klasemen akhir.
(Tribunnews.com/Giri)