Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti
TRIBUNJATIM.COM, MAGETAN - Puluhan peternak ayam di Kabupaten Magetan menggelar aksi unik dengan membagikan 3 ton telur gratis kepada masyarakat di Alun-alun Magetan, Rabu (6/5/2026).
Aksi itu bukan sekadar berbagi, melainkan bentuk protes atas anjloknya harga telur yang dinilai jauh dari harapan peternak.
Dalam aksi tersebut, para pengendara yang melintas tampak antusias menerima telur gratis. Namun di balik itu, peternak tengah menghadapi tekanan berat akibat harga jual yang berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Usai pembagian telur, massa bergerak menuju Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Magetan untuk menyampaikan aspirasi dan menggelar audiensi dengan pemerintah daerah.
Salah satu peternak, Teguh Wahyudi, menegaskan bahwa pihaknya mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur.
Baca juga: Kasus Dugaan Penganiayaan Bayi Magetan Jalan di Tempat, DPRD Jatim Terima Aduan sang Ibu
Menurutnya, intervensi diperlukan terutama dalam meningkatkan penyerapan hasil produksi peternak.
"Kami minta ada intervensi nyata dari pemerintah. Penyerapan harus ditingkatkan, baik melalui program sosial maupun program lain seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Kalau penyerapan naik, harga bisa terdorong dan peternak tidak terus merugi," ujar Teguh.
Ia menjelaskan, daya serap pasar saat ini masih jauh dari ideal. Salah satunya terlihat dari penyerapan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru mencapai sekitar 150 kilogram per pekan untuk satu dapur, angka yang dinilai sangat kecil dibandingkan produksi peternak.
Kondisi tersebut diperparah dengan surplus produksi yang tidak diimbangi penyerapan optimal. Teguh menyebut, saat ini penyerapan pasar diperkirakan baru mencapai sekitar 60 persen, sehingga stok telur menumpuk di tingkat peternak.
"Dengan produksi yang melimpah, penyerapan seperti itu jelas belum mampu menahan kejatuhan harga," tambahnya.
Baca juga: Tak Beli Telur Sejak Akhir 2025, Arip Berkebun dan Berternak hingga Dapat Rp 2 Juta dari Pohon Sukun
Selain harga jual yang rendah, peternak juga mengeluhkan tingginya biaya produksi, terutama pakan yang terus mengalami kenaikan.
Sementara itu, Kepala Disnakkan Magetan, Nur Haryani, mengungkapkan bahwa produksi telur ayam negeri di Kabupaten Magetan mencapai sekitar 81 ton per hari. Dengan jumlah tersebut, kelebihan pasokan sulit dihindari ketika daya serap pasar melemah.
Berdasarkan data Disnakkan, populasi ayam petelur di Magetan pada 2025 mencapai sekitar 2,5 juta ekor. Tingginya produksi yang tidak sebanding dengan penyerapan pasar menjadi penyebab utama turunnya harga telur.
"Saat ini harga telur sekitar Rp 22.800 per kilogram, jauh di bawah HAP sebesar Rp 26.500. Sementara biaya pakan menyumbang sekitar 70 persen dari total biaya produksi, dan harga jagung juga mengalami kenaikan," jelas Nur Haryani.
Ia menambahkan, sekitar 40 persen produksi telur diserap pasar lokal, sedangkan 60 persen lainnya didistribusikan ke luar daerah.
Sebagai upaya penanganan, Disnakkan Magetan akan mendorong peningkatan penyerapan melalui berbagai program, seperti bantuan sosial, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta gerakan konsumsi telur oleh aparatur sipil negara (ASN) dan masyarakat.
"Kami juga akan melaporkan kondisi ini ke pemerintah provinsi dan pusat agar ada kebijakan yang lebih berpihak kepada peternak lokal," pungkasnya.