Arti Kata Agender, Agender Artinya, Arti Agender dalam Bahasa Gaul, Hukum dan Agender Menurut Islam
Nolpitos Hendri May 07, 2026 12:21 AM

Baca juga: Arti Kata Peres, Peres Artinya, Apa Arti Peres, Arti Peres dalam Bahasa Jawa dan dalam Bahasa Gaul

Kata atau istilah agender sudah sering digunakan kaula muda dalam bahasa formal dan bahasa pergaulan di Riau, baik di media sosial maupun di dunia nyata.

Bagi para kaula muda Pekanbaru atau kaula muda Riau umumnya yang ingin menggunakan kata ini sebagai bahasa dalam pergaulan, simak penjelasannya agar paham artinya dan lawan bicara tidak salah paham.

A. Arti Kata Agender atau Agender Artinya atau Apa Arti Agender

Secara bahasa dan secara harfiah, arti kata agender atau agender artinya atau apa arti agender adalah tidak memiliki gender; atau tidak merasa dirinya laki-laki maupun perempuan.

Berikut penjelasan arti kata agender atau agender artinya atau apa arti agender : 

- Orang yang agender itu merasa bahwa identitas dirinya netral.

- Dia tidak merasa sebagai cowok.

- Dia tidak merasa sebagai cewek.

- Dia merasa dirinya cuma sebagai manusia biasa tanpa label jenis kelamin.

Istilah lainnya juga sering disebut gender neutral atau genderless.

Beda agender dengan yang lain : 

- Cowok (Pria): Merasa dirinya laki-laki.

- Cewek (Wanita): Merasa dirinya perempuan.

- Agender: Merasa dirinya bukan keduanya atau kosong atau  netral.

Berikut ciri-ciri agender atau sifat agender : 

- Biasanya gak peduli dipanggil dia, dia, kak, bang, atau nama panggilan apa saja.

- Suka berpakaian yang netral (gak kelihatan cowok atau cewek banget).

- Merasa aneh atau tidak nyaman kalau dipaksa masuk ke kategori laki-laki atau perempuan.

Contoh kalimat : 

- Dia itu agender, jadi jangan bingung mau panggil dia cowok atau cewek ya.

- Aku agender, aku cuma merasa jadi diri sendiri aja.

Berikut penjelasan tentang agender : 

1. Agender itu masuk dalam spektrum Asexual dan Non-Binary

Agender termasuk ke dalam golongan Non-Binary, artinya mereka tidak merasa berada di antara garis laki-laki atau perempuan.Mereka juga sering masuk dalam kelompok A-Spectrum (Spektrum Huruf A), sama seperti : 

- Asexual = Tidak merasakan ketertarikan seksual.

- Aromantic = Tidak merasakan ketertarikan romantis.

- Agender = Tidak memiliki identitas gender.

2. Apakah Agender sama dengan Transgender?

Jawabannya, bisa iya, bisa tidak.

- Kalau dilihat dari definisi luas: Ya, karena gender identity-nya berbeda dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir (assigned sex). Jadi mereka masuk kategori Transgender atau Trans umbrella.

- Tapi: Agender itu lebih spesifik. Transgender biasanya artinya pindah dari A ke B (misal: Laki-laki ke Perempuan). Sedangkan Agender itu tidak ada atau kosong, bukan pindah ke mana-mana.

3. Soal Pakaian dan Penampilan

Orang Agender biasanya suka gaya Androgini atau Neutral.

Mereka tidak mau terlihat terlalu cowok atau terlalu cewek.

Tujuannya supaya orang lain bingung atau tidak bisa langsung menebak gender mereka hanya dari tampilan.

Suka memakai baju oversized, warna netral (hitam, putih, abu-abu), potongan rambut pendek atau gaya yang tidak feminin atau masculin banget.

4. Soal Nama dan Panggilan

Karena mereka tidak merasa laki atau perempuan, mereka sering:

Memilih nama yang Unisex (bisa dipakai siapa saja, contoh: Chris, Alex, Jordan, atau nama Indonesia seperti 'Bayu', 'Wulan' yang netral).

Lebih suka dipanggil dengan kata ganti netral.

Di Inggris: Mereka suka dipanggil They atau Them.

Di Indonesia: Mereka lebih suka dipanggil Kamu, Dia, Kak, Guys, atau dipanggil langsung namanya saja, tanpa embel-embel Mas, Mbak, Bro, Sis.

5. Simbol Agender

Ada bendera khusus lho!  Bendera Agender punya arti:

Hitam = Representasi gender yang tidak ada  atau tertutup.

Putih = Representasi gender yang netral.

Abu-abu = Representasi orang yang semi-gender atau di antara keduanya.

Hijau Muda = Representasi identitas di luar biner (karena hijau adalah warna pelengkap dari ungu yang sering dipakai warna umum queer).

6. Perbedaan Agender dengan istilah lain

- Bigender: Merasa punya dua gender (bisa jadi cowok bisa jadi cewek).

- Genderfluid: Gender-nya bisa berubah-ubah (hari ini merasa cowok, besok merasa cewek).

- Agender: Tetap tidak punya gender sama sekali, tidak berubah, tidak bergerak. Rasanya netral terus.

7. Dalam Bahasa Gaul atau Istilah Umum

Sering disebut juga sebagai:

- Genderless = Tanpa gender.

- Null-gender = Gender-nya nol atau kosong.

- Neutrois = Istilah lama yang artinya netral.

B. Arti Agender dalam Bahasa Gaul

Secara bahasa, arti agender dalam Bahasa Gaul adalah gak gender, netral banget, cuma manusia biasa aja.

Orang agender itu gak merasa jadi cowok, gak merasa jadi cewek juga.

Rasanya kayak kosong atau nggak ada gendernya.

Gak mau ribet sama label Laki-laki atau Perempuan, pokoknya jadi diri sendiri aja.

Contoh kalimat : 

- Dia itu agender lho, jadi panggil aja namanya, gak usah panggil 'Mas' atau 'Mbak'.

- Gue agender, gue gak merasa cowok gak juga cewek, gue cuma gue.

- Gayanya agender banget, baju oversized, rambut pendek, bikin orang bingung mau tebak gender.

C. Hukum Agender di Indonesia

Berikut penjelasan tentang hukum agender di Indonesia : 

Dalam hukum Indonesia, agender belum diakui secara resmi dan belum ada aturan khusus yang mengaturnya.

Hukum Indonesia hanya mengenal dua jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan.

1. Tidak ada pilihan selain Laki-laki atau Perempuan

Di semua dokumen resmi negara (KTP, KK, Akta Lahir, Paspor, SIM), kolom Jenis Kelamin hanya ada dua opsi: L atau P.

Tidak ada kolom kosong, tanda strip (-), atau pilihan Netral atau Lainnya.

Jadi secara hukum, identitas Agender tidak bisa dicatat dalam administrasi kependudukan.

2. Apakah dilarang atau ilegal?

Tidak. Menjadi orang Agender itu bukan tindak pidana dan tidak ada hukum yang menghukum orang hanya karena identitas gendernya.

Kamu bebas merasa diri sendiri, berpakaian sesuai keinginan, dan hidup seperti biasa.

Hukum tidak menangkap orang hanya karena dia mengaku Agender atau Non-Binary.

3. Perlindungan Hukum

Secara teori, UUD 1945 Pasal 27 ayat 1 dan UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM menjamin bahwa semua warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan berhak dilindungi dari diskriminasi.

Namun dalam praktiknya, belum ada undang-undang khusus yang secara tegas melindungi orang dari diskriminasi berdasarkan identitas gender non-biner.

Kalau mengalami perundungan atau diskriminasi, bisa dilaporkan, tapi prosesnya mungkin lebih sulit karena aturannya belum spesifik.

4. Perbedaan Jenis Kelamin vs Gender

Hukum Indonesia lebih berpegang pada biologi atau jenis kelamin yang ditentukan saat lahir, bukan pada gender (identitas sosial atau psikologis).

Jadi meskipun kamu merasa Agender, di mata hukum kamu tetap tercatat sebagai Laki-laki atau Perempuan sesuai fisik saat lahir.

Mengubah data di KTP pun sangat sulit dan biasanya hanya diizinkan untuk kasus kelainan bawaan (interseks), bukan karena perasaan atau identitas gender.

D. Agender Menurut Islam dan Agender Menurut Agama di Indonesia

Secara umum, pandangan agama-agama di Indonesia terhadap agender cenderung berbeda-beda, namun mayoritas berpegang pada konsep bahwa manusia diciptakan dalam dua jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan.

Berikut penjelasan agender menurut Islam dan agender menurut agama di Indonesia : 

1. Agender Menurut Islam

Islam memiliki pandangan yang tegas mengenai penciptaan manusia.

a. Dasar Ajaran:

Dalam Al-Qur'an (QS. An-Najm: 45) ditegaskan bahwa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan, yaitu laki-laki dan perempuan. Islam mengakui jenis kelamin biologis sebagai ketetapan Tuhan yang harus dihormati.

b. Tentang Agender:

Konsep tidak memiliki gender atau netral belum dikenal secara spesifik dalam kitab suci atau fikih klasik. Namun, perilaku yang bertujuan untuk menghilangkan ciri khas laki-laki atau perempuan atau meniru lawan jenis sering dikaitkan dengan istilah mukhannats atau mutarajjilah, yang dalam banyak hadis disebutkan sebagai perbuatan yang dicela atau dilaknat karena dianggap mengubah ciptaan Allah.

c. Pandangan Ulama:

Mayoritas ulama berpendapat bahwa identitas gender harus sesuai dengan jenis kelamin biologis saat lahir. Menganggap diri sendiri bukan laki-laki maupun perempuan dipandang sebagai ketidakpuasan terhadap takdir penciptaan.

d. Kasus Khusus:

Islam mengenal istilah khuntha atau kunsa (orang yang memiliki ciri fisik kedua jenis kelamin sejak lahir), namun ini adalah kondisi biologis, bukan identitas psikologis seperti Agender.

Dalam fikih Islam, jenis kelamin khuntha atau kunsa ditentukan sejalan dengan perkembangan tubuh, apabila perkembangan tubuhnya mayoritas laki-laki, maka jenis kelaminnya ditetapkan laki-laki, jika perkembangan tubuhnya mayoritas perempuan maka jenis kelaminnya ditetapkan perempuan.

Perkembangan tubuh meliputi organ tubuh, jaringan tubuh, bagian tubuh, mulai dari rambut sampai kaki.

2. Agender Menurut Agama Kristen dan Katolik

Secara umum, gereja di Indonesia memegang teguh ajaran kitab suci.

a. Dasar Ajaran:

Dalam Kitab Kejadian (Kejadian 1:27) tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Ini menjadi dasar bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan adalah bagian dari rencana ilahi yang baik.

b. Tentang Agender:

Gereja Katolik dan banyak denominasi Kristen memandang bahwa gender tidak bisa dipisahkan dari jenis kelamin biologis. Paus Benediktus XVI pernah menyatakan bahwa ideologi yang menghapus batas laki-laki dan perempuan adalah upaya manusia untuk menciptakan diri sendiri yang bertentangan dengan kebenaran penciptaan.

c. Sikap:

Meskipun mengajarkan untuk mengasihi sesama manusia tanpa membeda-bedakan, ajaran resmi gereja tidak mengakui identitas non-biner dan menekankan penerimaan diri sesuai dengan apa yang telah diciptakan Tuhan.

3. Menurut Hindu

Hindu memiliki pandangan yang lebih beragam dan fleksibel dibanding agama monoteis.

a. Konsep Ketuhanan:

Dalam filsafat Hindu, Tuhan (Brahman) itu bersifat Netral atau Tanpa Gender (Nirguna). Selain itu, ada konsep dewa seperti Ardhanarishvara yang merupakan perpaduan sempurna antara laki-laki (Siwa) dan perempuan (Parvati), yang melambangkan kesatuan dan keseimbangan.

b. Tentang Manusia:

Secara tradisional, Hindu juga mengenal adanya Jenis Kelamin Ketiga dalam kitab-kitab kuno, yang merujuk pada orang-orang yang tidak sepenuhnya laki-laki atau perempuan. Mereka sering memiliki peran khusus dalam upacara keagamaan.

c. Pandangan Modern:

Meskipun teologinya terbuka terhadap konsep netralitas, dalam praktik sosial dan ritual di Indonesia, pembagian peran masih sangat didasarkan pada laki-laki dan perempuan. Namun, sikap masyarakat Hindu umumnya lebih toleran terhadap keragaman ekspresi gender dibandingkan agama lain.

4. Menurut Buddha

Ajaran Buddha lebih fokus pada batin dan perilaku daripada label fisik.

a. Dasar Ajaran:

Buddha mengajarkan persamaan derajat. Laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama untuk mencapai pencerahan. Ajaran ini tidak terlalu menekankan pada jenis kelamin, melainkan pada Kamma (perbuatan) dan hati nurani.

b. Tentang Agender:

Tidak ada ajaran spesifik yang melarang atau menghukum orang yang merasa dirinya netral. Buddha lebih menekankan pada Jalan Tengah dan menghindari ekstrem.

c. Sikap:

Selama perilaku seseorang tidak merugikan orang lain dan menjaga Sila (aturan moral), identitas gender biasanya tidak menjadi masalah besar. Namun, dalam struktur monastik (Sangha), pembagian antara Bhikkhu (laki-laki) dan Bhikkhuni (perempuan) masih sangat ketat.

5. Menurut Konghucu

Dalam agama Konghucu, konsep Agender tidak dibahas secara spesifik dalam kitab-kitab suci, karena ajarannya lebih fokus pada etika, tata krama, dan keharmonisan sosial daripada label identitas pribadi.

Namun, jika dilihat dari dasar ajarannya, pandangannya bisa dijelaskan seperti ini:

a. Dasar Filosofi: Yin dan Yang

Konghucu sangat menganut konsep kosmis Yin dan Yang yang saling melengkapi.

Yang: Melambangkan sifat laki-laki, aktif, kuat, langit, atas.

Yin: Melambangkan sifat perempuan, pasif, lembut, bumi, bawah.

Dalam pandangan tradisional, setiap manusia lahir dengan dominasi salah satu dari keduanya sesuai jenis kelamin biologisnya.

Laki-laki seharusnya menonjolkan sifat Yang.

Perempuan seharusnya menonjolkan sifat Yin.

Jadi, konsep tidak memiliki gender atau netral agak sulit ditempatkan dalam kerangka klasik ini, karena dianggap mengganggu keseimbangan alam semesta yang sudah ditetapkan.

b. Tentang Peran dan Tata Krama

Ajaran Konghucu sangat menekankan pada Li (Tata Krama) dan peran masing-masing dalam masyarakat.

Ada aturan jelas bagaimana laki-laki harus bersikap dan berpakaian, serta bagaimana perempuan harus bersikap dan berpakaian.

Tujuannya adalah supaya masyarakat menjadi teratur, rapi, dan harmonis.

Jika seseorang mengidentifikasi diri sebagai Agender dan menolak label laki-laki atau perempuan, hal ini bisa dianggap kurang sesuai dengan tata krama tradisional, karena bisa membingungkan peran sosial yang sudah ditetapkan sejak lama.

c. Sikap Agama: Fokus pada Perbuatan, Bukan Label

Meskipun strukturnya tradisional, inti ajaran Konghucu adalah Ren (Kemanusiaan atau Budi Luhur).

Konghucu mengajarkan bahwa yang paling penting bukanlah apa jenis kelamin atau gendermu, tapi bagaimana kelakuanmu terhadap orang lain.

Selama seseorang berperilaku baik, sopan, jujur, dan tidak merugikan orang lain, pada dasarnya mereka tetap dianggap sebagai orang yang baik.

Tidak ada ajaran yang mengatakan bahwa orang Agender itu dosa atau harus dihukum.

Sumber: tribunpekabaru.com, kbbi.web.id, kbbi.co.id, urbandictionary.com, yourdictionary.com, hukumonline.com, Kamus Bahasa Indonesia - Bahasa Melayu Riau

Demikian penjelasan tentang arti kata agender atau agender artinya atau apa arti agender dan arti agender dalam Bahasa Gaul serta hukum agender di Indonesia hingga agender menurut Islam dan agender menurut agama di Indonesia .

( Tribunpekanbaru.com atau Pitos Punjadi )

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.