Harga Aspal Meroket 53 Persen
Abdul Azis Alimuddin May 07, 2026 01:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Kenaikan harga aspal tak lagi sekadar kabar teknis proyek.

Kini, ia menjelma menjadi sinyal bahwa ada yang sedang berubah dalam ritme pembangunan.

Di Sulawesi Selatan, lonjakan harga aspal hingga 53 persen datang di waktu yang tidak sederhana.

Pemerintah Provinsi sedang menggarap proyek multiyears jalan senilai Rp 3,7 triliun.

Lima paket pekerjaan berjalan bersamaan.

Jalan-jalan penghubung daerah dibuka, diperbaiki, dan diharapkan menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat.

Namun di tengah proses itu, harga material utama justru melambung.

Kenaikannya bukan kecil. Dampaknya pun tidak ringan.

“Sekarang memang ada kenaikan aspal maupun BBM industri. Lumayan kenaikannya. Ini kami sudah rapatkan, tinggal menunggu bagaimana regulasinya dari pusat,” kata Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Sulsel, Andi Ihsan, Rabu (6/5/2026).

Di titik ini, persoalan tidak lagi sesederhana harga naik dan proyek tetap jalan.

Ada ruang yang mulai menyempit—antara anggaran yang tetap dan biaya yang melonjak.

Kontraktor sudah merasakan tekanan lebih dulu.

Kenaikan harga aspal bukan hanya angka, tetapi langsung berdampak pada perhitungan di lapangan.

Namun pemerintah daerah memilih tidak tergesa.

Setiap langkah harus tetap berpijak pada aturan.

“Kalau pagunya harus kita lihat secara detail bagaimana secara regulasi. Apakah bisa kita gunakan maksimal 10 persen adanya kenaikan ini, tapi kan harus merujuk kembali lagi aturan,” katanya.

Artinya, ruang penyesuaian tidak sepenuhnya bebas.

Ada batas, ada ketentuan, dan ada konsekuensi.

Ketika celah itu makin sempit, pilihan lain mulai muncul ke permukaan.

“Kalaupun aturan itu susah memberikan kenaikan, kemungkinan revisi gambar. Karena ini bukan kemauan kita. Memang keadaan dunia yang lagi kurang bersahabat,” katanya.

Revisi gambar bukan sekadar istilah teknis.

Di dalamnya ada kemungkinan pengurangan panjang jalan, penyesuaian spesifikasi, atau perubahan skala pekerjaan.

Di sinilah pembangunan diuji.

Antara menjaga kualitas atau menyesuaikan kuantitas.

Andi Ihsan menegaskan, kualitas tetap menjadi prioritas.

Jalan yang dibangun harus tetap memenuhi standar.

“Ya itu utama itu, kualitas. Kalau kuantitas nantinya jumlahnya dengan adanya keadaan dunia yang tidak baik pasti berpengaruh kuantitas,” ujarnya.

Fenomena ini juga tidak berdiri sendiri.

Kenaikan harga aspal disebut sebagai bagian dari dinamika global yang berdampak hingga ke daerah.

Apa yang sebelumnya terasa jauh—gejolak ekonomi dunia—kini hadir dalam bentuk sangat nyata: biaya proyek yang membengkak.

Di lapangan, pelaku jasa konstruksi sudah mulai berhitung ulang. Risiko meningkat, margin menipis, dan ketidakpastian menjadi tantangan baru.

Pada akhirnya, kenaikan harga aspal bukan hanya soal material.

Ia menjadi cermin bagaimana pembangunan harus beradaptasi dengan situasi yang terus berubah.

Proyek boleh berjalan. Anggaran boleh terbatas.

Tetapi arah pembangunan tidak boleh kehilangan pijakan.

Karena di balik setiap jalan yang dibangun, ada harapan tentang konektivitas, pertumbuhan, dan masa depan yang lebih baik.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.