Warga Wajo Sudah Lama Pakai Gas Alam, Warga Maros Masih Andalkan Gas Melon
Abdul Azis Alimuddin May 07, 2026 01:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Warga Wajo sudah lama pakai gas alam.

Mereka tak asing lagi dengan energi alternatif ini.

Di tengah wacana penggantian gas LPG 3 kilogram ke Compressed Natural Gas (CNG), Wajo justru sudah lebih dulu melangkah.

Bukan tanpa alasan. Sebagian besar warga telah terhubung jaringan gas rumah tangga atau jargas.

"Kami sudah lama pakai gas bumi," kata Anti (42) warga Kecamatan Tempe, Selasa (5/5/2026).

Fasilitas itu berasal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Programnya sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir.

Bahkan terus bertambah.

Pada 2025, Wajo mendapat lagi bantuan 4.000 sambungan rumah.

Jargas pun makin meluas.

Masuk ke permukiman warga.

Digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Memasak, air panas, hingga usaha kecil.

Bagi warga, ini bukan hal baru.

Sudah jadi kebiasaan.

"Kalau memang tidak digunakan lagi itu gas Melon karena sering langka, kami bisa pakai gas alam," ujarnya.

Meski begitu, Anti menyatakan LPG 3 kilogram belum sepenuhnya ditinggalkan.

Warga masih menggunakan dua sumber energi.

Gas melon dan gas alam.

Saling melengkapi.

Jika LPG langka, gas alam jadi pilihan.

Sebaliknya juga begitu.

Namun tak semua berjalan mulus.

Masalah masih ada.

Kebocoran pipa kadang terjadi.

Tekanan api juga lebih kecil.

Belum sekuat LPG.

"Masih kadang bocor pipanya itu gas alam. Apinya tidak terlalu besar dibandingkan gas LPG," kata Anti.

Artinya, jargas masih butuh penyempurnaan.

Baik dari sisi keamanan.

Maupun kualitas distribusi.

Di sisi lain, pemerintah daerah terus bergerak.

Mendorong pemanfaatan gas bumi lebih luas.

Termasuk membuka peluang kerja sama investasi energi.

Salah satunya dengan PT Famindo Global Energi.

Pertemuan dengan Pemkab Wajo sudah dilakukan.

Melibatkan PT Wajo Energy Jaya.

"Fokus kerjasama adalah membangun jaringan market produksi CNG di Kabupaten Wajo," kata Direktur Utama PT Wajo Energy Jaya, Nurman Dai Basri belum lama ini.

Langkah ini dinilai strategis.

Memaksimalkan potensi energi daerah.

Sekaligus menekan ketergantungan LPG.

Wajo pun perlahan mengambil posisi.

Sebagai daerah percontohan.

Dalam transisi energi rumah tangga.

Dari gas melon ke gas alam.

Gas Melon Masih Andalan Warga Maros

Gas melon masih jadi andalan warga Kabupaten Maros.

Bukan tanpa alasan.

Informasi soal CNG dinilai masih minim.

Sosialisasi juga belum merata.

Akibatnya, warga masih bertahan dengan LPG 3 kilogram.

Seperti dikatakan Rika, warga Maros.

Ia mengaku baru pertama kali mendengar penggunaan CNG untuk rumah tangga.

Belum paham cara pakainya.

Belum tahu sistem pembeliannya.

"Kalau menguntungkan kenapa tidak, tapi kalau merugikan jangan dulu," ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Saat ini, Rika masih mengandalkan LPG 3 kilogram.

Dibeli di toko kelontong.

Dengan harga sekira Rp23 ribu hingga Rp24 ribu.

Baginya, kondisi ekonomi saat ini membuat masyarakat harus lebih berhati-hati.

Tidak bisa sembarangan menerima kebijakan baru.

"Apalagi sekarang kondisi ekonomi lagi tidak baik-baik saja," katanya.

Ia juga menyoroti soal keamanan.

Menurutnya, penggunaan CNG harus benar-benar dipastikan aman.

"Jangan sampai rawan terbakar. Karena masih baru, harus dipastikan keamanannya, jangan sampai mudah meledak," katanya.

Selain itu, distribusi juga jadi perhatian.

Warga berharap gas tetap mudah didapatkan.

Tidak menimbulkan persoalan baru.

"Penyalurannya harus mudah, jangan sampai sulit didapatkan," jelasnya.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Nurhana.

Ia juga belum mengetahui rencana penggantian LPG ke CNG.

Menurutnya, sosialisasi sangat penting.

Agar masyarakat tidak kebingungan.

"Harus disosialisasikan dulu dengan jelas. Jangan sampai masyarakat bingung karena ini menyangkut kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Nurhana menambahkan, harga bukan satu-satunya pertimbangan.

Keamanan dan ketersediaan juga jadi hal utama.

Harus dipastikan sebelum kebijakan dijalankan.

"Kalau memang lebih murah dan aman tentu bagus. Tapi jangan sampai susah didapat atau justru berbahaya," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.