Solar Non-Subsidi Naik, Pengusaha Ekspedisi Terpaksa Naikkan Tarif Kiriman
Try Juliansyah May 07, 2026 01:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kenaikan harga solar non-subsidi berdampak signifikan terhadap pelaku usaha ekspedisi di Kalimantan Barat. 

Lonjakan ltersebut bahkan mendorong peningkatan biaya operasional secara drastis.

Direktur PT Fur Express Indonesia, Afif Fadhil Fadhlullah, mengatakan kenaikan harga solar non-subsidi memberikan tekanan besar terhadap operasional perusahaan.

“Kenaikan harga solar non subsidi nih dampaknya sangat banyak, terutama ke biaya operasional. Dampak dari kenaikannya saat ini tuh nekan kenaikan biaya operasional sampai 40 persen,” ujarnya kepada tribunpontianak.co.id, Rabu 6 Mei 2026.

Dengan meningkatnya beban operasional tersebut, pengusaha ekspedisi terpaksa melakukan penyesuaian tarif pengiriman.

“Dengan beban operasional yang semakin meningkat ini, terpaksa pengusaha jasa kirim tuh menaikkan tarif kiriman,” lanjutnya.

Baca juga: Kenaikan BBM Non-Subsidi Picu Kekhawatiran pada Kenaikan Harga Barang

Afif menambahkan, kondisi tersebut turut berdampak pada aktivitas pengiriman yang dijalankan perusahaannya baik dalam provinsi maupun antar provinsi.

Ia juga menyoroti adanya peralihan penggunaan bahan bakar oleh sebagian pelaku usaha ke solar subsidi.

Kondisi tersebut menyebabkan kelangkaan serta antrean panjang di sejumlah titik.

Untuk menekan biaya operasional, pihaknya juga melakukan berbagai langkah efisiensi. 

“Kami pun terpaksa demi efisiensi bahan bakar, muatan kami hingga ODOL agar menekan biaya operasional,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga berupaya melakukan penyesuaian dengan pelanggan.

“Langkah kami dengan naiknya harga solar non-subsidi yang pasti mencoba negosiasi dengan pengguna jasa, terutama yang terikat kontrak, untuk melakukan penyesuaian tarif,” jelasnya. (*)

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.