Guru Besar UI Firdaus Ali Soroti Ancaman Krisis Air dan Masa Depan Kota Modern
Feryanto Hadi May 07, 2026 01:34 AM

 

 

WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK-  Prof. Ir. Firdaus Ali, M.Sc., Ph.D. dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap dalam Bidang Rekayasa dan Inovasi Pengelolaan Air, Fakultas Teknik (FT) Universitas Indonesia (UI).

Pengukuhan ini dilaksanakan pada Rabu (6/5), di Makara Art Center UI

Pengukuhan tersebut turut dihadiri oleh Gubernur DKI Jakarta, Dr. Pramono Anung Wibowo, M.M., beserta Wakil Gubernur DKI Jakarta, H. Rano Karno, SIP.

Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Krisis Iklim, Ketahanan Air dan Daya Dukung Lingkungan: Tantangan Kritis Peradaban Kota Modern”, Prof. Firdaus menyebut air sebagai fondasi utama peradaban sekaligus penanda batas kemampuan lingkungan.

Menurutnya, selama ini peradaban besar dunia tumbuh di wilayah yang mampu mengelola air dengan baik, namun kemampuan itu kini menghadapi tekanan berat akibat krisis iklim dan pertumbuhan populasi global yang terus meningkat.

“Meskipun 71 % permukaan bumi tertutup air, hanya kurang dari 1 % yang dapat diakses langsung sebagai air tawar untuk kebutuhan manusia. Jumlah ini tidak bertambah sejak awal peradaban, sementara populasi dunia telah mencapai hampir 8,3 miliar jiwa,” ujarnya.

Dalam perspektif batas daya dukung planet (planetary boundaries), kondisi ini menempatkan air sebagai indikator kritis keberlanjutan sistem kehidupan, di mana sejumlah wilayah bahkan telah melampaui ambang batas aman pemanfaatannya. Tekanan terhadap sumber daya air semakin meningkat seiring laju urbanisasi.

Saat ini, lebih dari 55 % penduduk dunia tinggal di kawasan perkotaan, dan angka tersebut diproyeksikan meningkat hingga 68 % pada 2050.  

Baca juga: Guru Besar UI Dorong Baterai Ramah Lingkungan, Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Di Indonesia, konsumsi air rumah tangga di kawasan perkotaan telah mencapai 140–180 liter per orang per hari, melampaui kebutuhan dasar.

Secara global, lebih dari 2 miliar orang hidup di wilayah rawan air, dan sekitar 4 miliar orang mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun.

Tak hanya itu, urbanisasi juga berdampak pada rusaknya sistem hidrologi alami. Alih fungsi lahan mengurangi daya resap tanah dan meningkatkan limpasan air permukaan, yang berujung pada meningkatnya frekuensi banjir.

Kondisi ini diperburuk oleh tingginya ketergantungan terhadap air tanah, khususnya di kawasan perkotaan.

Eksploitasi berlebihan memicu penurunan muka tanah, meningkatkan risiko banjir, serta mempercepat intrusi air laut di wilayah pesisir.  

Krisis iklim turut memperparah tekanan tersebut. Perubahan pola curah hujan, meningkatnya intensitas hujan ekstrem, serta periode kekeringan yang lebih panjang membuat bencana air semakin sering dan destruktif.

Lebih dari 80?ncana alam global berkaitan dengan air, dan kawasan Asia menanggung beban terbesar. 

Baca juga: Krisis Air Terjawab, Ratusan Warga dan Santri Bekasi Kini Dapat Akses Air Layak Minum

Rangkaian banjir besar di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi menjadi tantangan utama peradaban modern.

Dalam menghadapi kompleksitas ini, Prof. Firdaus menilai pendekatan parsial tidak lagi memadai. Dibutuhkan strategi ketahanan wilayah yang terintegrasi, mencakup aspek ekologis, sosial, ekonomi, tata kelola, serta penegakan hukum.

Infrastruktur skala besar seperti pembangunan tanggul laut menjadi salah satu opsi penting, khususnya bagi kota pesisir, namun harus diiringi pengelolaan hulu-hilir yang terpadu.

Di sisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuka peluang baru dalam pengelolaan air, termasuk melalui pemanfaatan big data dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan akurasi prediksi bencana. Meski demikian, ia menekankan bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa tata kelola yang kuat dan konsisten.

“Pendekatan preventif menjadi kunci utama. Berbagai studi menunjukkan investasi sekitar 1?ri nilai ekonomi wilayah untuk pencegahan dapat menekan kerugian akibat bencana secara signifikan.

Ini menunjukkan bahwa ketahanan air bukan sekadar isu teknis, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan pembangunan,” kata Prof. Firdaus.

Sebagai akademisi dan praktisi di bidang teknik lingkungan, Prof. Firdaus memiliki kepakaran dalam rekayasa pengelolaan air, pengolahan air limbah, serta pengembangan sistem ketahanan air perkotaan.

Ia meraih gelar Sarjana Teknik Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung pada 1988, kemudian menamatkan studi Magister (1998) dan Doktor (2002) di bidang Environmental Engineering di University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat, dengan fokus pada teknologi pengolahan air tanah tercemar. 

Selain aktif sebagai pendidik dan peneliti di UI sejak 1988, ia berperan dalam berbagai kebijakan strategis nasional, antara lain sebagai Staf Khusus Menteri PUPR bidang sumber daya air (20192024) dan saat ini sebagai Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta.

Ia juga merupakan pendiri Indonesia Water Institute serta terlibat dalam berbagai forum internasional seperti Asia Water Council dan International Water Resources Association.

Kontribusinya juga tercermin dalam berbagai inovasi, termasuk pengembangan konsep Giant Sea Wall Jakarta dan metode pemetaan wilayah kelangkaan air berbasis Water Stress Index, serta puluhan publikasi ilmiah di jurnal internasional.  

Melalui kontribusi keilmuan dan pengalamannya ini, Prof. Firdaus berharap dalam melahirkan inovasi berkelanjutan yang mampu meningkatkan kualitas pengelolaan sumber daya air sekaligus memperkuat daya tahan kota dan wilayah terhadap risiko bencana di masa depan, serta mendorong lahirnya kebijakan publik yang lebih adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.