WARTAKOTALIVE.COM, BEKASI - Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengecam keras dugaan kasus pencabulan yang terjadi di Pondok Pesantren Ndholo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati.
Gus Ipul mengaku kecewa dan geram atas dugaan tindakan yang mencoreng dunia pendidikan berbasis keagamaan tersebut.
“Wah kami terus terang tidak hanya berhati-hati, kami mengecam keras, kami kecewa, kami sungguh-sungguh mengutuk ada pesantren dijadikan kedok,” ujar Gus Ipul saat ditemui di Bekasi Utara, Kota Bekasi, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, pesantren seharusnya menjadi tempat mendidik dan membina akhlak, bukan justru dimanfaatkan untuk tindakan menyimpang.
Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama memberikan perlindungan kepada para santri, baik korban maupun santri lain yang masih berada di lingkungan pesantren.
Baca juga: Kiai di Pati Lecehkan 50 Santri, Pemerintah Diminta Pulihkan Korban dan Keluarganya
“Semua harus kita beri perlindungan, kita perlu juga berikan rehabilitasi dan pemberdayaan,” katanya.
Meski demikian, Gus Ipul meminta masyarakat tidak menggeneralisasi seluruh pondok pesantren akibat kasus tersebut.
Ia menegaskan masih banyak pesantren yang menjalankan pendidikan dengan baik dan sungguh-sungguh membina para santri.
“Jangan samaratakan, banyak pesantren yang telah mendidik dengan sungguh-sungguh para santrinya,” imbuhnya.
Terkait pelaku, Gus Ipul berharap aparat penegak hukum memberikan hukuman maksimal jika terbukti bersalah.
Menurutnya, hukuman berat diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus menjadi peringatan keras bagi pihak lain.
“Kami berharap hukuman ini bisa menghadirkan efek jera dan menjadi pesan agar jangan melakukan hal-hal keji seperti ini,” tegasnya.
Baca juga: Pendakwah Inisial SAM Dipolisikan atas Dugaan Pelecehan Santri, Begini Modusnya
Ia juga menilai tindakan tersebut memiliki konsekuensi moral yang sangat berat.
“Ini dosanya berlipat-lipat,” tandasnya.
Sementara terkait nasib pondok pesantren tersebut, Gus Ipul menegaskan fokus utama pemerintah saat ini adalah keselamatan dan masa depan para santri.
“Kalau memang harus ditutup maka kita harus carikan solusi santrinya seperti apa,” ujarnya.
Pemerintah melalui Kementerian Sosial, lanjut dia, telah melakukan asesmen dan pendampingan terhadap para korban.
“Kami lakukan pendampingan juga, melakukan komunikasi dan asesmen,” paparnya.
Gus Ipul memastikan negara hadir untuk membantu proses pemulihan korban, baik secara mental maupun fisik.
“Kalau diperlukan layanan psikososial termasuk layanan residensial, kami siap membantu,” pungkasnya. (*)