TRIBUNSTYLE.COM - Langkah IPB University mendirikan Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat menuai riuh di media sosial. Aksi penolakan dari BEM KM IPB University melalui surat terbuka memicu diskusi hangat mengenai peran akademik kampus. Namun, pihak IPB menegaskan bahwa keterlibatan mereka bukanlah tanpa alasan kuat.
IPB University memosisikan diri sebagai Center of Excellence (CoE) nasional untuk program MBG. Kolaborasi ini melibatkan kementerian strategis seperti Bappenas, Badan Gizi Nasional (BGN), hingga organisasi internasional UNICEF.
Direktur Kerjasama, Komunikasi, dan Pemasaran IPB University, Dr. Alfian Helmi, menjelaskan bahwa keterlibatan ini adalah jawaban atas rapuhnya ekosistem pangan nasional. Banyak dapur di level nasional yang belum memenuhi standar kesehatan.
“Ada pertanyaan mendasar: mengapa IPB merasa terpanggil sehingga perlu terlibat? Jawabannya ada pada kondisi MBG secara nasional yang masih memerlukan peningkatan tata kelola dan belum semua ekosistem hulu-hilirnya terbangun,” ungkap Dr. Alfian.
Dari ribuan dapur yang terdaftar, tidak semuanya memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Di sinilah IPB hadir untuk menutup celah tersebut melalui riset pangan dan agribisnis agar program besar ini memiliki fondasi yang kokoh.
Baca juga: Korban Dugaan Keracunan Menu MBG di Tulung Klaten Capai 584 Orang, Sampel Makanan Kini Diteliti
Salah satu poin krusial yang diperdebatkan adalah sumber pendanaan. IPB University meluruskan bahwa operasional dapur MBG sama sekali tidak menyedot dana pendidikan atau operasional akademik kampus.
Rektor IPB University, Dr. Alim Setiawan Slamet, menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga integritas institusi.
"Jadi tidak ada anggaran, SDM atau aset IPB yang digunakan untuk operasional SPPG; sehingga tidak mengganggu kepentingan akademik," ujar Alim melalui pesan singkat.
Dapur tersebut dikelola secara profesional oleh PT BLST, holding company milik IPB, melalui yayasan khusus yang terpisah secara hukum dan anggaran.
Baca juga: Bicara Soal MBG dan Koperasi, Presiden Prabowo Ajak Rakyat Berhenti Rendah Diri di Hadapan Asing!
Bukan sekadar urusan masak-memasak, kehadiran dapur ini diharapkan menjadi model nasional yang bisa direplikasi. Direktur PT BLST, Luhur Budijarso, bermimpi membawa inovasi kampus langsung ke masyarakat.
"Dan kalau inovasi kampus bisa ikut mengalir di dalamnya, dari laboratorium ke meja makan anak-anak Indonesia, maka itulah makna sesungguhnya dari kampus yang berdampak," kata Luhur.
Tak hanya soal gizi di piring, proyek ini juga merangkul ekonomi lokal. Para petani, peternak, hingga pengusaha tahu-tempe di sekitar kampus dibina menjadi pemasok terstandar. Semua proses ini diawasi ketat dengan prinsip ASUH, Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.
Merespons seruan mahasiswa, Rektor IPB memastikan bahwa pintu diskusi selalu terbuka. Ia menegaskan bahwa aspirasi mahasiswa adalah bagian dari tata kelola yang sudah dipertimbangkan sejak awal, demi memastikan program pemerintah ini berjalan efektif, terukur, dan benar-benar berdampak nyata bagi masyarakat.
(TribunStyle.com/Kompas.com)