Percepat Identifikasi Korban Bus ALS, Polda Sumsel Buka Posko DVI di RS Bhayangkara Palembang
Weni Wahyuny May 07, 2026 11:32 AM

TRIBUNSUMSEL.COM- Polda Sumatera Selatan resmi membuka Posko Disaster Victim Identification (DVI) di Rumah Sakit Bhayangkara Moh. Hasan, Palembang, Kamis (7/5/2026). 

Langkah ini diambil guna mempercepat identifikasi 16 jenazah korban kecelakaan maut bus ALS vs truk tangki BBM di Muratara yang tiba di Palembang sekitar pukul  05.10 WIB hingga pukul 05.32 WIB.

Kabid Dokkes Polda Sumsel, AKBP Andrianto, menjelaskan bahwa proses identifikasi menjadi tantangan berat bagi tim medis. 

Hal ini dikarenakan mayoritas korban ditemukan dalam kondisi luka bakar serius yang menyulitkan pengenalan secara fisik.

Baca juga: Jeritan Para Penumpang Bus ALS Terjebak Kobaran Api Dalam Kecelakaan Dengan Truk Tangki di Muratara

Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh keluarga yang merasa memiliki anggota keluarga di dalam bus ALS tersebut untuk segera mendatangi Posko DVI. 

Keluarga diminta membawa data-data pendukung untuk proses identifikasi primer maupun sekunder, antara lain:

  • Identitas resmi (KTP/Kartu Keluarga/ijazah).
  • Data medis (hasil rontgen gigi, catatan medis, atau ciri fisik khusus).
  • Data profil DNA jika diperlukan.

Kepala Rumah Sakit (Karumkit) Bhayangkara Moh. Hasan Palembang, AKBP dr. Andrianto mengatakan, tindakan pemeriksaan jenazah akan dilakukan pagi ini dibantu dengan tim DVI yang sudah dibentuk.

"InsyaAllah pagi ini jam 8 pagi kami mulai. Tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan yang direncanakan tim DVI, kita juga menunggu tim dari Jakarta," ujar Andrianto.

Pemeriksaan dan proses identifikasi jenazah dibantu oleh 30 orang tenaga medis serta tujuh orang dokter forensik.

"Ada lima dokter forensik dari Jakarta. Jadi total kita ada tujuh dokter forensik yang membantu proses identifikasi," katanya.

Proses identifikasi jenazah akan memakan waktu selama beberapa hari dikarenakan kondisi jenazah yang mengalami luka bakar.

"Karena kondisi jenazah mengalami luka bakar, proses identifikasi cukup sulit dan membutuhkan waktu beberapa hari. Untuk membantu identifikasi, kami mulai mendata dari pihak keluarga mengenai ciri-ciri korban," tuturnya.

Baca juga: Breaking News : 16 Jenazah Korban Bus ALS vs Truk Tangki Terbakar di Muratara Tiba di Palembang

Andrianto mengimbau, jika ada pihak keluarga yang merasa kehilangan salah satu anggotanya, silakan menghubungi posko DVI Polri di RS Bhayangkara Moh. Hasan Palembang atau menghubungi call center posko tim DVI 082178038910 (Dokpol).

"Langsung lapor ke posko, nanti akan dijelaskan persyaratannya seperti KTP, ijazah, dan pemeriksaan dokter yang diperlukan," katanya.

Hingga Kamis pagi, dilaporkan sudah ada sekitar lima jenazah yang mulai mendekati hasil identifikasi pasti, termasuk pengemudi truk tangki bernama Aryanto dan sopir bus ALS bernama Alif.

Namun, pihak RS Bhayangkara menegaskan akan melakukan verifikasi saintifik secara menyeluruh sebelum jenazah diserahkan secara resmi kepada pihak keluarga.

"Ini bukan bicara soal durasi lama atau cepat, tapi ketepatan. Kami melakukan rekonsiliasi gabungan dari hasil pemeriksaan. Hingga saat ini, diperkirakan sudah ada lima jenazah yang mendekati hasil identifikasi pasti, namun kami masih menunggu keputusan pimpinan untuk diumumkan secara resmi," katanya menambahkan.

5 Dari 16 Jenazah Teridentifikasi

Lima korban yang mulai teridentifikasi itu terdiri dari dua korban dari truk tangki PT Seleraya dan tiga korban dari bus ALS, yakni:

  • Aryanto atau Yanto (48): Pengemudi truk tangki PT Seleraya, warga Lubuklinggau.
  • Martono (47): Penumpang truk tangki PT Seleraya, warga Desa Belani.
  • Alif (44): Pengemudi bus ALS, warga Jawa Tengah.
  • Saf (50): Kru bus ALS, warga Medan.
  • Maleh (42): Kru bus ALS, warga Medan.

Kronologi

Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang terbakar hangus setelah menabrak truk tangki BBM milik PT Seleraya di Jalan Lintas Sumatera, Kelurahan Karang Jaya, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Muratara, Sumatera Selatan, diduga menghindari lubang sehingga mengambil lajur sebelah kanan.

Hal itu terungkap berdasarkan hasil penyelidikan sementara Satlantas Polres Musi Rawas Utara (Muratara) bersama Ditlantas Polda Sumatera Selatan seusai melakukan olah TKP.

Kabid Humas Polda Sumatera Selatan, Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya, mengatakan, berdasarkan hasil penyelidikan awal, pengemudi bus diduga kehilangan jalur ketika mencoba menghindari kerusakan jalan.

"Dari hasil penyelidikan awal, kecelakaan diduga karena faktor human error, di mana pengemudi bus ALS berupaya menghindari lubang di badan jalan, lalu mengambil jalur kanan," kata Nandang, Kamis (7/5/2026).

Saat bus masuk ke jalur kanan, dari arah berlawanan, melaju truk tangki BBM milik PT Seleraya yang dikemudikan sopir bernama Hariyanto alias Yanto.

Karena jarak kedua kendaraan sudah terlalu dekat, tabrakan pun tidak dapat dihindarkan.

Benturan keras memicu kebakaran hebat hingga menghanguskan bus dan truk tangki beserta sejumlah korban di dalamnya.

"Dari insiden ini menyebabkan 16 orang meninggal dunia. Tiga orang dilaporkan mengalami luka berat dan satu orang mengalami luka ringan," ungkap Nandang.

Bus ALS Sering Alami Masalah Mesin

Bus tersebut dilaporkan tidak layak jalan saat melintas di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum).

Hal itu berdasarkan kesaksian korban selamat, Ngadiono (44) bersama istrinya, Jumiatun (34), penumpang ALS asal Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah tujuan ke Medan, Sumatra Utara (Sumut).

Sepanjang perjalanan, ia menyaksikan mobil tersebut tidak layak jalan.

Bus sempat mengalami kendala (trouble) pada bagian mesin dan radiator yang panas.

Namun, kerusakan tersebut sempat diatasi sopir hingga kenek bus, sehingga bus terus melaju menuju Kabupaten Muratara.

"Sempat rusak bagian mesin dan radiator, sempat diperbaiki lalu jalan lagi," ujar Ngadiono saat memberikan keterangan kepada kepolisian di Puskesmas Karang Jaya, Muratara.

Kekhawatiran Ngadiono pun akhirnya terjadi.

Bus tiba-tiba menghantam sesuatu, kemudian langsung disusul ledakan besar. Api membesar dan membakar bus.

Ngadiono dan istrinya berupaya memanjat dan keluar melalui jendela untuk menyelamatkan diri.

Tak lama kemudian, aksi tersebut disusul oleh seorang penumpang lain.

"Saya langsung refleks melompat keluar disusul istri. Yang saya lihat, kernet juga ikut melompat keluar," ungkapnya.

Ngadiono sempat terpaku menyaksikan api melahap badan bus yang disertai api yang semakin membesar.

Ia juga mendengar jeritan penumpang, lalu suara itu hilang seketika saat api melahap seluruh badan kendaraan.

"Setelah itu saya pingsan. Begitu bangun sudah di rumah sakit," tambahnya. (Aggi Suzatri/Rachmad Kurniawan/Eko Mustiawan/Tribunsumsel.com)

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.