Kemenag Tana Tidung Dorong Kurikulum Berbasis Cinta, Tekan Bullying dan Rasisme di Sekolah
Junisah May 07, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tana Tidung terus mendorong penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan pendidikan sebagai upaya membangun karakter siswa yang menghargai perbedaan dan menjunjung nilai kasih sayang.

Program tersebut merupakan bagian dari implementasi Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025 tentang delapan program prioritas Menteri Agama.

Kepala Kantor Kemenag Tana Tidung Hamzah menyampaikan, kurikulum berbasis cinta bukan berarti mengganti kurikulum yang telah ada, melainkan menambahkan nilai-nilai kasih sayang dalam proses pembelajaran.

“Kurikulum Berbasis Cinta ini bukan merubah kurikulum yang ada, tetapi memberikan nuansa cinta dalam pembelajaran,” ujar Hamzah kepada TribunKaltara.com, Kamis (7/5/2026).

Baca juga: Pemkab Nunukan Gaungkan Kurikulum Berbasis Cinta Bagi Siswa Perbatasan, Begini Tujuannya

Hamzah menjelaskan, konsep tersebut mengajarkan siswa untuk saling menghargai tanpa membedakan agama, fisik, bahasa maupun latar belakang lainnya.

“Bagaimana kita menghargai seseorang, terutama antar sesama siswa, tanpa membedakan bentuk fisik, agama dan sebagainya, itu yang ingin ditanamkan,” jelasnya.

Menurutnya, nilai kasih sayang menjadi dasar utama dalam membangun hubungan antarsesama manusia.

“Yang bisa melakukan itu adalah rasa cinta, sehingga kurikulum ini mengedepankan kasih sayang walaupun berbeda agama, fisik maupun bahasa,” terangnya.

Ia menilai, penerapan kurikulum berbasis cinta dapat menjadi solusi dalam menekan kasus bullying dan rasisme di lingkungan sekolah.

“Dengan adanya kurikulum ini, diharapkan bisa menghilangkan bullying, rasisme dan perilaku saling merendahkan di kalangan siswa,” katanya.

Baca juga: Kurikulum Berbasis Cinta Jadi Sorotan, Dirjen Kemenag: Guru Kunci Lahirkan Generasi Penuh Empati

Hamzah menambahkan, konsep cinta dalam kurikulum tersebut tidak hanya ditujukan kepada sesama manusia, tetapi juga kepada lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

“Kurikulum berbasis cinta ini juga mengajarkan cinta kepada hewan, tumbuhan dan lingkungan,” ungkapnya.

Ia mencontohkan, perilaku membuang sampah sembarangan maupun mengejek orang lain merupakan bentuk kurangnya rasa cinta terhadap sesama dan lingkungan.

“Orang yang buang sampah sembarangan berarti tidak cinta lingkungan, begitu juga orang yang mengejek orang lain berarti tidak mencintai sesama manusia,” tegasnya.

Saat ini, kata dia, implementasi kurikulum berbasis cinta telah mulai berjalan sejak diterbitkannya KMA Nomor 244 Tahun 2025 dan tengah disosialisasikan secara masif ke sekolah-sekolah.

“Sekarang kami sedang masif melakukan sosialisasi ke sekolah terkait implementasi kurikulum berbasis cinta ini,” jelasnya.

HAMZAH - Kepala Kemenag Tana Tidung, Hamzah saat ditemui di kantornya Jalan Trans Kaltara, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara,
HAMZAH - Kepala Kemenag Tana Tidung, Hamzah saat ditemui di kantornya Jalan Trans Kaltara, Tideng Pale, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, (TribunKaltara.com/Rismayanti)

Bahkan, pihak Kemenag Tana Tidung berencana menjalin kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tana Tidung guna memperkuat penerapan program tersebut.

“Insya Allah kami akan melakukan MoU dengan Disdikbud Tana Tidung terkait implementasi kurikulum berbasis cinta, khususnya pada bidang pendidikan agama,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.