AK Manufaktur Bantaeng Inisiasi Kolaborasi Multisektor Kembangkan Wirausaha Industri
Hasriyani Latif May 07, 2026 08:22 PM

Citizen Reporter

Andi Nur Bau Massepe, Dosen FEB Unhas

Melaporkan dari Bantaeng

TRIBUN-TIMUR.COM - Akademi Komunitas (AK) Manufaktur Bantaeng, lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Perindustrian, menggelar seminar ekonomi dan kewirausahaan berskala besar di Gedung Aula Graha Vokasi Kampus AK Bantaeng, Sulawesi Selatan (Sulsel), Rabu (6/5/2026).

Seminar bertajuk 'Penguatan Kewirausahaan Industri Melalui Kolaborasi Multi-Sektor untuk Pengembangan Daya Saing dan Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten Bantaeng'.

Acara ini menjadi momentum krusial bagi kebangkitan ekonomi daerah melalui sinergi antara akademisi, pemerintah, industri, perbankan, dan komunitas.

Direktur AK Manufaktur Bantaeng, Arminas menegaskan komitmen institusinya dalam memperkuat unit inkubator bisnis. 

Menurutnya, indikator keberhasilan kampus vokasi tidak hanya diukur dari keterserapan lulusan di industri, tetapi juga kemampuan mencetak wirausaha baru.

"Kami mengembangkan unit inkubator bisnis dengan target utama mencetak wirausaha industri. Mahasiswa kami didorong agar selain siap bekerja di manufaktur, juga mampu menjadi wirausaha mandiri yang membuka lapangan kerja," kata Arminas di hadapan 300 peserta yang terdiri dari perangkat desa, pelaku UMKM, dan mahasiswa.

Bupati Bantaeng, M Fathul Fauzy Nurdin yang hadir sebagai pembicara utama, memaparkan landscape ekonomi terkini. 

Ia tidak menampik adanya tantangan berat, mulai dari efisiensi anggaran pusat hingga lesunya industri nikel global akibat dampak perang yang turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi di daerah.

"Menghadapi badai efisiensi dan penurunan industri nikel, kami tidak tinggal diam. Solusinya adalah mencari peluang baru. Sektor UKM dan pertanian harus menjadi motor penggerak utama," kata bupati yang akrab disapa Uji tersebut.

Uji juga memaparkan langkah konkret pemerintah daerah yang menggandeng Universitas Hasanuddin (Unhas) dalam pengembangan varietas Jagung JJ Unhas sebagai komoditas unggul untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha agribisnis di Bantaeng.

Dari perspektif akademisi, Andi Nur Bau Massepe, Dosen FEB Unhas sekaligus Kasubdit Pengembangan Usaha Unhas, menggarisbawahi kemajuan UMKM sangat bergantung pada kekuatan ekosistem kewirausahaan industri. 

Ia merinci enam aktor utama dalam ekosistem tersebut, yakni kebijakan pemerintah (regulasi), akses pendanaan, kualitas SDM, sistem pendukung (inkubator), akses pasar, dan budaya kewirausahaan.

"Inkubator bisnis yang diinisiasi kampus seperti AKM Bantaeng memegang peran vital. Lembaga ini bukan sekadar tempat pelatihan, tapi penyedia layanan lengkap mulai dari tempat kerja, kurikulum bisnis, akses pendanaan, hingga jejaring pasar," jelas Andi Nur Bau Massepe.

Dukungan Sektor Perbankan Syariah

Sinergi ini semakin kuat dengan kehadiran Dwi Agno Ganestra Chaniago, Area Mikro & Pawning Manager Area Makassar Bank Syariah Indonesia (BSI). 

Ia memaparkan peran perbankan syariah dalam memperkuat struktur modal UMKM melalui berbagai program, termasuk fasilitas UMKM Centre yang menjadi wadah pembinaan bagi pelaku usaha lokal.

Seminar ini membuahkan kesepakatan strategis untuk masa depan ekonomi Bantaeng. 

Kedepannya, akan dijalankan kolaborasi berkelanjutan antara Inkubator Bisnis AK Manufaktur Bantaeng, Pemerintah Daerah, dan BSI dalam bentuk program pembinaan UKM Unggulan. 

Program ini akan mencakup pendampingan teknis secara intensif, pengembangan manajemen usaha, hingga penyaluran pendanaan bagi pelaku usaha yang kompetitif.

Melalui kolaborasi multi-sektor ini, Kabupaten Bantaeng optimis dapat menciptakan ekosistem kewirausahaan yang tangguh, sekaligus menjadi model pengembangan ekonomi daerah berbasis vokasi dan kemitraan strategis di Sulsel.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.