Tribunlampung.co.id, Palembang - Kondisi enam jenazah korban tewas dalam kecelakaan maut Bus ALS dan truk tangki minyak di Muratara membuat tim DVI Polda Sumsel kesulitan melakukan identifikasi. Sebagian besar tubuh korban disebut mengalami luka bakar sangat parah.
Hingga Kamis (7/5/2026) siang, baru 10 dari total 16 korban meninggal dunia yang berhasil dikenali identitasnya.
Sementara enam korban lainnya masih menjalani proses pemeriksaan lanjutan di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang.
Korban tewas dalam insiden itu terdiri dari sopir, kru, dan penumpang Bus ALS, termasuk pengemudi serta penumpang truk tangki minyak yang terlibat tabrakan di Jalinsum wilayah Kelurahan Karang Jaya.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumsel kini masih bekerja mencocokkan data antemortem dan postmortem untuk memastikan identitas para korban. Pemeriksaan DNA juga dilakukan karena kondisi jenazah yang sulit dikenali.
Baca juga: Seolah Diarahkan Naik Bus ALS Maut, Sekeluarga Asal Lampung Jadi Korban Tewas
“Ya, saat ini ada 6 korban yang masih sulit diidentifikasi karena kondisi tubuhnya cukup parah,” kata Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu'min Wijaya, sebagaimana dilansir Tribunnews.com.
Menurut Nandang, luka bakar berat yang dialami korban menjadi tantangan utama dalam proses identifikasi.
Karena itu, tim DVI harus melakukan pemeriksaan secara menyeluruh dan ilmiah agar tidak terjadi kesalahan saat penyerahan jenazah kepada keluarga.
“Proses identifikasi dilakukan secara akurat dan ilmiah, termasuk pemeriksaan DNA untuk memastikan identitas korban,” jelasnya.
Seluruh jenazah saat ini masih berada di RS Bhayangkara Mohammad Hasan Palembang untuk menjalani proses identifikasi lanjutan.
Polda Sumsel juga terus memfasilitasi keluarga korban selama proses berlangsung.
Selain itu, polisi membuka layanan Call Center Posko DVI di nomor +62 821-7803-8910 guna membantu masyarakat mendapatkan informasi resmi terkait perkembangan identifikasi korban.
Seperti diarahkan menuju bus maut, satu keluarga jadi korban tewas dalam kecelakaan Bus ALS di Muratara setelah dua kali gagal berangkat. Perjalanan yang sempat tertunda itu justru berakhir tragis.
Duka mendalam masih dirasakan keluarga korban kecelakaan maut Bus ALS yang terjadi di Muratara, Rabu (6/5/2026).
Hambali (44), ayah dari Rani (24), mengaku tak punya firasat apa pun sebelum anak, menantu, dan cucunya meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Ia menceritakan, perjalanan Aldi Sulistiawan (26), Rani, dan putri mereka Bella yang masih berusia 1 tahun 8 bulan sebenarnya sempat beberapa kali tertunda.
Awalnya mereka sudah memesan tiket Bus Handoyo. Namun keberangkatan gagal karena bus tidak mau menunggu saat kereta api melintas cukup lama.
Setelah itu, mereka kembali mencoba berangkat. Namun lagi-lagi tertunda karena tidak ada jadwal bus yang tersedia.
“Awalnya bukan bus itu yang mau ditumpangi. Tapi karena tertunda terus, akhirnya naik bus yang kecelakaan itu,” ujar Hambali saat ditemui Sripoku.com dan dikutip dari TribunSumsel.com.
Hambali menjelaskan, anak dan menantunya sempat ingin menggunakan bus lain dari wilayah Way Tuba, Lampung.
Namun berbagai kendala, termasuk keterlambatan akibat perjalanan kereta, membuat mereka akhirnya memilih bus nahas tersebut pada Selasa (5/5/2026).
Dalam kecelakaan itu, Hambali kehilangan tiga anggota keluarganya sekaligus, yakni Rani, Aldi, dan Bella yang masih balita.
Di lokasi yang sama, paman korban, Ramdi, juga tak kuasa menahan kesedihan.
Menurutnya, Aldi dan Rani berangkat ke Pekanbaru dengan harapan membuka usaha dan hidup mandiri di sana.
“Aldi pergi bersama Rani ke sana hendak usaha di Pekanbaru. Sempat kami larang, namun mereka ingin hidup mandiri di sana,” katanya.
Ramdi mengatakan, seminggu sebelum keberangkatan, keluarga sebenarnya sudah menyiapkan pasir dan semen agar pasangan itu membangun rumah di kampung halaman.
Namun Aldi dan Rani tetap memilih merantau.
“Kami awalnya tidak memberikan izin mereka untuk berangkat. Seminggu sebelumnya kami sudah membelikan pasir dan semen untuk mereka bangun rumah di sini."
"Namun mereka tetap mau pergi, kami juga tidak menyangka adanya peristiwa ini,” tutupnya.