Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM,Aris Ninu
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - SDK Wukur merupakan salah satu sekolah dasar yang berada di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Berdasarkan penelusuran pada laman https://data-sekolah.zekolah.id/sekolah/sdk-wukur-181792
yang diperoleh TRIBUNFLORES.COM di Maumere, Kamis (7/5/2026) sore, sekolah ini berdiri sejak tahun 1954 dengan Nomor SK Pendirian 81 Tahun 1981 dan memiliki luas tanah sekitar 2.300 meter persegi.
SDK Wukur menyelenggarakan pendidikan jenjang sekolah dasar dengan waktu belajar pagi selama enam hari dalam sepekan.
Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Persekolahan Umat Katolik Kabupaten Sikka (SANPUKAT) dan berkomitmen memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik.
Baca juga: Murid SDK Wukur Kabupaten Sikka Belajar di Ruangan Kelas Rusak Berat Membahayakan Keselamatan
Namun, fasilitas penunjang masih terbatas, di antaranya belum tersedianya akses internet serta keterbatasan listrik yang hanya bersumber dari PLTS dan belum optimal digunakan untuk kegiatan belajar mengajar di pagi hari.
Saat ini SDK Wukur memiliki 34 siswa dari kelas I hingga kelas VI. Sebagai sekolah yang berada di wilayah pesisir selatan Flores, akses menuju sekolah masih menjadi tantangan tersendiri.
Jalan menuju lokasi belum bisa dilalui kendaraan roda dua di beberapa titik akibat tertimbun material tanah, serta kondisi medan yang bertebing dan dekat dengan pantai, sehingga guru maupun warga harus berjalan kaki untuk mencapai sekolah tersebut.
Beberapa waktu lalu sempat viral, seorang guru di SDK Wukur hanya digaji per bulan Rp. 150 ribu. Sang guru pun harus menempuh jarak sejauh 6 kilometer dengan berjalan kaki setiap hari hanya untuk mengajar di sekolah itu.
Kondisi Guru Honorer di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela yang sempat viral ini ditanggapi, Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) Kabupaten Sikka, Patrisius Pederiko saat dikondirmasi media ini, 6 Mei 2026.
Patrisius mengaku sudah melakukan kunjungan ke SDK Wukur bersama Ketua Sanpukat, RD. Yulius Heribertus, pada Rabu 6 Mei 2026.
Ia menjelaskan, di sekolah itu terdapat 7 orang guru honorer, dua orang di antaranya sudah mendapatkan tunjangan profesi guru, sementara 5 orang guru belum mendapatkan tunjangan karena masih dalam proses pendidikan Sarjana.
Untuk pembiayaan, masing-masing guru honorer hanya mendapatkan 193 ribu rupiah yang bersumber dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) karena jumlah murid hanya 34 orang.
Sementara itu, pembiayaan guru honorer yang menggunakan iuaran komite atau sumbangan dari orang tua murid pun terkendala karena kondisi ekonomi masyarakat. Dalam satu tahun, Iuran Komite per siswa sebesar 300 ribu atau 25 ribu persiswa setiap bulan namun pembiayaan dari komite tidak normal.
Sehingga para guru honorer, termasuk Yustina Yuniarti, mendapatkan tunjangan guru honorer hanya 150 ribu per bulan, namun tidak normal.
"Itu juga kadang-kadang mereka dapat, kadang juga tidak dapat karena tergantung dari pembayaran orang tua murid, " Jelasnya.
Kata dia, atas perintah Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, menginstruksikan untuk semua sekolah termasuk SDK Wukur dengan jumlah murid di bawah 100 siswa akan mendapatkan insentif daerah sebesar 600 ribu rupiah.
"Ini kami sementara melakukan perhitungan, untuk melihat dengan kuota yang disiapkan,apakah bisa memungkinkan bisa membiayai semua guru honor atau mungkin hanya beberapa yang masih pertimbangan, insentif daerah ini 600 ribu per bulan," jelasnya.
Ia lalu memberikan klarifikasi terkait, Guru Honorer Yustina Yuniarti terkait gaji yang diterima meliputi, Sejak Januari 2022, Yustina Yuniarti mendapatkan insentif 500 ribu per bulan.
Kemudian Insentif melalui dana BOSP sejak tahun 2016 sampai Desember 2024 sebesar 350 ribu. Pembiayaan melalui Komite 150 ribu per bulan dan tunjangan Profesi Guru sejak Januari 2025 smpai sekarang sebesar 2 juta per bulan.