TRIBUNJATIM.COM - Suasana Dusun Sumber Tempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, mendadak gempar pada Rabu (6/5/2026) pagi.
Warga dikejutkan oleh peristiwa berdarah yang menewaskan seorang perempuan bernama Siti Arafah (54), sementara putrinya, Sri Wahyuni (35), ditemukan kritis bersimbah darah di dalam rumah.
Pelaku diduga adalah ES (44), seorang pria yang sehari-hari bekerja sebagai badut keliling dan merupakan suami Sri Wahyuni sekaligus menantu korban tewas.
Peristiwa mengerikan itu pertama kali diketahui warga sekitar yang curiga melihat pelaku berjalan dengan tangan berlumuran darah.
Ketua RT setempat, M Suroto mengaku sempat bertanya kepada ES mengenai darah di tangannya.
Namun, pelaku berdalih darah tersebut berasal dari luka terkena kaca.
Kecurigaan Suroto semakin kuat hingga akhirnya mereka mendatangi rumah korban.
Pintu rumah ditemukan terkunci dari luar.
Setelah mencoba melihat dari celah ventilasi, Suroto mendapati genangan darah di dalam rumah korban.
"Saya lihat ada genangan darah di bagian tengah rumah. Saat itu saya yakin ada sesuatu yang terjadi," ujar Suroto yang ikut pertama kali menemukan korban dalam SAKSI KATA 'Terkuak Motif Menantu Bunuh Mertua dan Aniaya Istri di Mojokerto' yang tayang di kanal YouTube TribunJatim.com, Kamis (7/5/2026).
Suroto kemudian menghubungi perangkat desa, hingga polisi untuk melakukan pengecekan dan evakuasi.
Baca juga: Terkuak Motif Menantu Bunuh Mertua dan Aniaya Istri di Mojokerto, Berawal dari Panggilan Paket COD
Saat petugas masuk ke dalam rumah, mereka menemukan Siti Arafah sudah meninggal dunia.
Sementara Sri Wahyuni ditemukan masih bernapas meski mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.
Menurut keterangan warga, rumah tangga pasangan tersebut memang kerap diwarnai pertengkaran.
Faktor ekonomi disebut menjadi salah satu pemicu konflik yang berkepanjangan.
Baca juga: Profesi Menantu Tega Habisi Mertua dan Aniaya Istri di Mojokerto, Polisi Buru Keberadaan Pelaku
Pelaku diketahui bekerja sebagai badut, sementara kondisi ekonomi keluarga disebut tidak stabil.
Korban Sri Wahyuni sempat mencoba membantu perekonomian keluarga dengan berjualan makanan kecil hingga bekerja di luar rumah.
“Sering cekcok karena masalah ekonomi dan utang,” ungkap Suroto.
Ketua RT menyebut adanya persoalan lain dalam rumah tangga pasangan tersebut yang memicu rasa cemburu dan pertengkaran.
Usai melakukan penganiayaan, ES melarikan diri meninggalkan rumah.
Polisi yang menerima laporan langsung melakukan pengejaran.
Kapolres Mojokerto menyampaikan pihaknya menemukan satu korban meninggal dunia dan satu korban luka berat saat melakukan olah tempat kejadian perkara.
“Benar ada dugaan penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Setelah melakukan TKP, satu korban meninggal dunia dan satu korban masih menjalani perawatan intensif,” ujar Kasat Reskrim Polres Mojokerto, AKP Aldhino Prima Wirdhan.
Kurang dari enam jam setelah kejadian, pelaku akhirnya berhasil ditangkap di kawasan Asemrowo, Surabaya, hasil kerja sama tim gabungan Resmob dan Jatanras.
Saat ditangkap, pelaku diketahui sempat melarikan diri menggunakan kendaraan umum.
Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk senjata tajam yang diduga digunakan untuk melukai korban.
Meski demikian, polisi masih mendalami motif utama pelaku melakukan aksi brutal tersebut.
Hasil autopsi dan pemeriksaan forensik masih menunggu proses lebih lanjut untuk memastikan penyebab kematian korban.
Baca juga: Pelarian Berakhir, Pembunuh Mertua di Mojokerto Diringkus Polisi di Asemrowo Surabaya
Kasus ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga sekitar.
Lingkungan yang selama ini dikenal tenang mendadak berubah mencekam setelah tragedi pembunuhan dalam satu keluarga itu.
Warga mengaku tidak menyangka pertengkaran rumah tangga yang selama ini sering terdengar berakhir menjadi aksi kekerasan mematikan.
Kini, polisi masih terus mendalami kasus tersebut sembari menunggu kondisi Sri Wahyuni membaik agar bisa dimintai keterangan terkait kronologi lengkap kejadian tragis itu.