TRIBUNNEWS.COM - Laga panas antara Persija Jakarta melawan Persib Bandung pada pekan ke-32 Super League 2025/2026 dipastikan tidak digelar di Jakarta. Operator kompetisi I.League resmi memindahkan venue pertandingan ke Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (10/5/2026) pukul 15.30 WIB.
Keputusan tersebut langsung memicu beragam respons dari klub, suporter, hingga tuan rumah baru pertandingan.
Bagi Persija dan The Jakmania, pemindahan venue menjadi pukulan tersendiri karena mereka kembali gagal menggelar duel klasik melawan Persib di Jakarta setelah tujuh tahun.
Sementara Persib memilih menghormati keputusan operator liga, sedangkan Borneo FC menilai laga besar itu menjadi berkah bagi Samarinda.
Pertandingan bertajuk El Clasico Indonesia itu memang sangat menentukan dalam perebutan gelar juara musim ini. Persib Bandung dan Borneo FC sama-sama mengoleksi 72 poin dari 31 laga di papan atas klasemen.
Persija berada di posisi ketiga dengan selisih tujuh poin dan masih memiliki peluang menjaga asa juara.
Jika Persija mampu mengalahkan Persib, persaingan perebutan trofi dipastikan kembali terbuka.
Namun, bermain di luar Jakarta dinilai menjadi kerugian bagi Macan Kemayoran yang kehilangan dukungan langsung mayoritas suporternya.
Baca juga: Paulo Ricardo: Kami Menghormati Persib Tapi Persija Datang untuk Menang
Direktur Utama I.League, Ferry Paulus, mengatakan keputusan memindahkan pertandingan diambil setelah koordinasi dengan pihak kepolisian terkait situasi keamanan di Jakarta sepanjang Mei 2026.
“Mei merupakan bulan dengan banyak agenda yang dikhawatirkan dapat menimbulkan hal-hal di luar kepentingan atau kondisi yang diharapkan,” kata Ferry Paulus.
Ia menegaskan pertandingan tidak mungkin diundur sehingga operator akhirnya memilih Samarinda sebagai venue alternatif.
“Sehingga, kami akhirnya memutuskan pertandingan akan digelar di Kalimantan Timur, tepatnya di Samarinda,” ujarnya.
Sebelumnya, operator sempat mempertimbangkan sejumlah stadion di Pulau Jawa dan Bali. Namun, pertandingan di wilayah Jawa disebut hanya diizinkan tanpa penonton.
Ketua Panitia Pelaksana Persija, Ferry Indrasjarief, menyebut Samarinda dipilih karena memungkinkan laga tetap digelar dengan penonton.
“Kalau memang kalian bisa menyelenggarakan di Samarinda dipersilakan saja, pihak kepolisian juga akan bantu perizinannya dengan penonton,” kata Ferry Indrasjarief.
Meski begitu, suporter tim tamu tetap tidak diperbolehkan hadir dalam pertandingan tersebut.
Ketua Umum The Jakmania, Diky Soemarno, mengaku kecewa berat dengan keputusan tersebut. Ia menyebut Jakmania sudah tujuh tahun menantikan laga Persija kontra Persib kembali digelar di Jakarta.
“Yang pertama, sudah pasti yang paling kecewa dengan situasi ini adalah Jakmania. Kenapa? Karena sudah tujuh tahun kami tidak menggelar pertandingan Persija vs Persib di Jakarta. Terakhir itu tahun 2019,” ujar Diky di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Meski demikian, Diky meminta Persija menjadikan situasi itu sebagai motivasi untuk meraih kemenangan.
“Dan harapan kami sederhana sekali, kekecewaan Jakmania sangat amat besar, cuma bisa satu obatnya, Persija menang,” katanya.
“Persija harus membawa energi kekecewaan kami menjadi energi untuk mereka sehingga mereka bisa menang pertandingan nanti, mereka bisa pulang ke Jakarta membawa poin tiga,” lanjutnya.
Diky juga menegaskan Jakmania selama ini terus berupaya menjaga keamanan setiap pertandingan di Jakarta.
“Mereka pulang dengan aman dan nyaman. Dari situ terlihat bagaimana Jakmania sangat konsen menjaga keamanan dan ketertiban, apalagi di kota sendiri,” ucap Diky.
Baca juga: Bojan Hodak Tertantang Lanjutkan Tren Positif Persib Lawan Persija, 5 Laga Belum Terkalahkan
Di sisi lain, Persib Bandung memilih menghormati keputusan operator liga. Deputi CEO PT Persib Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menegaskan Persib tidak ikut campur dalam penentuan venue.
“Sebagai klub profesional, Persib senantiasa menghormati kewenangan operator liga dalam mengambil keputusan terkait kompetisi,” ujar Adhitia.
“Kami tidak pernah mengintervensi proses maupun keputusan yang menjadi otoritas operator liga,” tegasnya.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, juga memastikan timnya siap bermain di mana pun.
“Semua pemain oke. Atmosfer kembali bagus,” kata Bojan Hodak.
Sementara Komisaris sekaligus manajer Persib, Umuh Muchtar, menyebut laga kontra Persija layaknya final bagi Maung Bandung dalam perebutan gelar juara.
“Pertandingan besok itu seperti final, bahkan lebih dari final sebetulnya,” kata Umuh.
“Kami fokus untuk tiga kali menang, menang, dan menang. Itu targetnya agar tidak ada hambatan menuju tangga juara,” tegasnya.
Baca juga: Persija Percaya Diri Hadapi Persib Meski Andritany Belum Fit 100 Persen
Dari Samarinda, manajer Borneo FC, Dandri Dauri, justru menyambut positif kehadiran laga besar tersebut. Ia menilai pertandingan itu bisa membawa dampak ekonomi bagi masyarakat lokal, khususnya pelaku UMKM.
“Karena ini juga menjadi berkah bagi warga Samarinda, terutama pelaku UMKM yang bisa kembali berjualan,” ujar Dandri.
Ia juga menilai jika ada suporter Borneo FC yang mendukung Persija demi persaingan gelar juara, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
“Kalau ada tanggapan seperti itu, saya pikir itu hal yang wajar dan manusiawi,” ujar Dandri.
Meski begitu, ia menegaskan Borneo FC tetap fokus pada pertandingan mereka sendiri.
“Kami percaya semuanya berjalan sesuai kehendak Tuhan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pusamania, Lasihadu, memastikan kelompok suporter Borneo FC akan bersikap netral dalam pertandingan Persija vs Persib.
“Intinya Pusamania menerima keduanya, berteman antara suporter The Jakmania juga Viking berteman semuanya lah,” kata Lasihadu.
“Kalau secara organisasi saya tak memperbolehkan, harus netral, Jakarta teman, kemudian Bandung teman,” pungkasnya.