TRIBUNNEWS.COM - Turnamen Piala Dunia FIFA 2026 akan resmi digelar mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Edisi kali ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 negara peserta dan total 104 pertandingan.
Meski tinggal sekitar satu bulan menuju kick-off, sejumlah pengamat menilai atmosfer dan antusiasme publik belum sekuat edisi-edisi sebelumnya.
Pengamat sepak bola Justinus Lhaksana alias Coach Justin menyebut kondisi tersebut masih tergolong wajar.
Menurutnya, gairah publik bisa kembali meningkat ketika pertandingan mulai menyajikan kualitas dan kejutan dari tim-tim nonunggulan.
“Sebenarnya menurun ini mungkin menjelang ke sana. Tapi kalau kualitasnya bagus, pelan-pelan akan bangkit lagi,” ujarnya.
Ia menilai format baru dengan 48 peserta justru membuka peluang munculnya kejutan dari negara-negara debutan atau tim yang sebelumnya tidak diperhitungkan.
Salah satu negara yang disebut berpotensi mencuri perhatian adalah Uzbekistan, yang diprediksi mampu memberi kejutan di turnamen nanti.
Baca juga: Profil Kylian Mbappe, Mesin Gol Timnas Prancis di Piala Dunia 2026
Menurut Justinus, budaya menonton sepak bola di Indonesia tidak hanya soal pertandingan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi sosial masyarakat.
“Bukan cuma soal pertandingan, tapi soal kebersamaan dan momen-momen keseruan kecil yang dibangun di sekitarnya,” katanya.
Tradisi nonton bareng di rumah, warung kopi, hingga ruang publik diperkirakan tetap menjadi bagian penting dalam menyambut pesta sepak bola empat tahunan tersebut.
Menjelang perhelatan akbar itu, berbagai pihak mulai menghadirkan program untuk meningkatkan animo publik terhadap Piala Dunia FIFA 2026.
Lay’s resmi mengumumkan kolaborasi global bersama FIFA sebagai sponsor resmi turnamen.
Di Indonesia, kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kemasan edisi khusus bergambar pemain dunia seperti Lionel Messi dan David Beckham.
Selain itu, konsumen juga berkesempatan mengoleksi kartu resmi Panini edisi khusus Piala Dunia FIFA 2026 melalui pembelian produk tertentu.
Tradisi mengoleksi atribut Piala Dunia, mulai dari jersey hingga kartu pemain, dinilai masih menjadi bagian dari budaya sepak bola yang melekat di tengah masyarakat.
Senior Marketing Manager PepsiCo Indonesia, Hanussa Hamzah, mengatakan sepak bola memiliki kekuatan besar untuk menyatukan banyak orang dalam satu momen yang sama.
“Kami ingin menghadirkan pengalaman menonton yang lebih seru dan berkesan,” ujarnya.
Dengan jumlah penggemar sepak bola Indonesia yang disebut mencapai 165 juta orang, berbagai program aktivasi seperti watch party dan koleksi edisi khusus diprediksi akan ikut memeriahkan atmosfer menjelang turnamen.
Sementara itu, pihak TVRI menegaskan adanya aturan ketat terkait penayangan dan distribusi konten pertandingan Piala Dunia FIFA 2026.
Chief Editor Siaran Piala Dunia TVRI, Usman Kansong, mengatakan penggunaan logo resmi World Cup 2026 tidak diperbolehkan dalam siaran maupun media cetak tanpa izin resmi.
Selain itu, pertandingan juga tidak boleh disisipi iklan selama jalannya laga berlangsung.
“Penonton harus menyaksikan pertandingan secara utuh. Tidak boleh ada iklan yang mengganggu jalannya siaran,” ujarnya.
Baca juga: Profil Fabio Cannavaro, dari Kapten Juara hingga Jadi Pelatih Timnas Uzbekistan di Piala Dunia 2026
Usman juga mengingatkan agar masyarakat maupun media tidak memanfaatkan tayangan pertandingan demi kepentingan pribadi atau monetisasi digital.
Menurutnya, TVRI akan merilis panduan resmi berupa do and don’t terkait penggunaan konten Piala Dunia agar seluruh pihak memahami batasan yang berlaku.
“Ini demi menghadirkan tontonan Piala Dunia yang utuh dan menyenangkan bagi masyarakat,” katanya.