SURYA.CO.ID, SURABAYA - Tak banyak yang menyangka lahan kosong penuh sampah di kawasan Manukan, Surabaya Barat, kini berubah menjadi salah satu kampung wisata tematik yang menarik perhatian warga.
Kasur bekas, kayu material bangunan, galon rusak hingga sisa pipa yang dulu menumpuk di lokasi itu kini berganti menjadi ornamen khas Jepang yang instagramable.
Kawasan tersebut kini dikenal sebagai Kampung Jepang Surabaya yang berada di Jalan Manukan Lor RT 5 RW 1, Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).
Di balik perubahan itu ada sosok I Komang Sujana, bersama warga setempat yang sejak 2019 mulai menyulap lahan kumuh menjadi destinasi wisata kreatif bernuansa negeri Sakura.
“Saya ingin mengubah kampung ini jadi kampung yang menghasilkan dan menarik masyarakat. Dulu gundukan sampah, kasur, gragal, kayu, jaman dulu. Sekarang sudah bisa dinikmati,” kata Ketua Tim Kreatif Kampung Jepang, I Komang Sujana, saat ditemui SURYA.co.id pada Selasa (5/5/2026) malam.
Komang menceritakan, awal mula pembangunan Kampung Jepang dimulai dari gerakan membersihkan lingkungan sekitar.
Barang-barang bekas yang sebelumnya dianggap sampah, kemudian dimanfaatkan menjadi dekorasi dan spot foto.
Salah satunya adalah lampion yang dibuat dari paralon bekas. Pipa tersebut dipotong sepanjang sekitar 50 sentimeter lalu dipoles menjadi hiasan lampion di pintu masuk kampung.
Tak hanya itu, kayu-kayu sisa material bangunan juga dicat ulang dan dijadikan ornamen bernuansa Jepang.
Berkat gotong royong warga, lahan seluas sekitar 30 x 30 meter kini berubah menjadi kawasan wisata kecil dengan nuansa khas Jepang.
Saat memasuki kawasan tersebut, pengunjung langsung disambut dekorasi dominan merah seperti lampion, huruf kanji, hingga bunga sakura buatan.
Tak sekadar menawarkan spot foto, Kampung Jepang Surabaya juga menyediakan penyewaan pakaian tradisional Jepang.
Pengunjung dapat menyewa yukata dan berbagai aksesoris pelengkap dengan harga mulai Rp25 ribu.
Komang menyebut, tersedia sekitar 100 pasang pakaian yang bisa dipilih pengunjung untuk berfoto maupun berjalan-jalan di area kampung wisata.
Selain itu, lokasi ini juga sering digunakan untuk berbagai kegiatan seperti prewedding, ulang tahun, arisan hingga gathering komunitas.
“Kami juga pernah cooking class kerja sama dengan mahasiswa bikin mochi. Untuk paket kami juga punya souvenir pohon sakura kalau ada studi tiru,” ujarnya.
Daya Tarik Kampung Jepang Surabaya:
Komang bersama tim kreatif dan karang taruna mengaku terus mengembangkan Kampung Jepang bukan hanya sebagai tempat wisata, tetapi juga ruang edukasi lingkungan dan budaya.
Usaha tersebut membuahkan hasil. Kampung Jepang berhasil menorehkan prestasi di berbagai ajang seperti Surabaya Smart City dan Kampung Surabaya Hebat.
“Yang tidak mungkin jadi mungkin, saya ubah kampung ini dan mendapatkan prestasi. Pencapaian itu jadi senjata untuk memberikan motivasi mental kepada warga,” katanya.
Menurut Komang, konsep utama yang dijual bukan hanya dekorasi Jepang, tetapi juga nilai kearifan lokal masyarakat kampung.
“Kami memotivasi bahwa yang kami jual itu kearifan lokal. Sosial, ekonomi, budaya dan adab kampung kita,” ujarnya.
Selain wisata foto, Kampung Jepang juga membuka kerja sama kegiatan edukasi seperti pelatihan tari budaya, pembuatan biopori, hingga pemanfaatan limbah plastik menjadi kerajinan.
Komang berharap, kampung tersebut bisa berkembang menjadi kampung madani yang memberi manfaat ekonomi sekaligus edukasi bagi warga sekitar.
Kampung Jepang Surabaya buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 20.00 WIB.
Kawasan ini bahkan pernah dikunjungi Konsulat Jenderal Jepang dan sejumlah tokoh dari berbagai daerah untuk berbagi konsep wisata kreatif.
Ke depan, Komang berencana memperbarui area panggung menjadi spot podcast, dan membangun area open bar untuk tempat berkumpul warga dan karang taruna.
Dari Kampung Jepang, kawasan tersebut kini berkembang dengan konsep tematik lain seperti Kampung Bali, hingga terbentuk kawasan wisata yang dikenal sebagai Wetan Wonderland.
“Awalnya di sini. Ketika viral dan menghasilkan, kami bentuk di RT masing-masing sehingga dibentuk Wetan Wonderland,” tutup Komang.