Pertama, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membuka peluang pembangunan Jembatan Bailey di Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, sebagai solusi sementara pasca putusnya Jembatan Sungai Lubuk Aur akibat banjir bandang November 2025 lalu.
Saat ini, Pemkab Padang Pariaman masih berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait realisasi pembangunan jembatan darurat tersebut.
Kedua, sempat membuat petani cemas, anak Harimau Sumatera yang sempat muncul di Kabupaten Agam sudah tidak lagi terlihat, Kamis (7/5/2026).
Lokasi tepatnya berada di Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
Terakhir, insiden kecelakaan tunggal tragis kembali terjadi di wilayah hukum Polres Dharmasraya, Sumatera Barat.
Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) berinisial WR (15) dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di Jalan Umum Jalur Dua, Jorong Pasar Baru, Kenagarian Sungai Rumbai, Kamis (7/5/2026).
Baca selengkapnya berikut ini:
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman membuka peluang pembangunan Jembatan Bailey di Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, sebagai solusi sementara pasca putusnya Jembatan Sungai Lubuk Aur akibat banjir bandang November 2025 lalu.
Saat ini, Pemkab Padang Pariaman masih berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat terkait realisasi pembangunan jembatan darurat tersebut.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Padang Pariaman, Hendra Aswara, mengatakan keberadaan Jembatan Bailey dinilai penting untuk memulihkan akses masyarakat yang selama ini bergantung pada rakit penyeberangan.
"Untuk pembangunan Jembatan Bailey, kami masih berkoordinasi dengan provinsi. Mudah-mudahan segera datang untuk Nagari Anduring," kata Hendra Aswara kepada TribunPadang.com saat meninjau lokasi, Rabu (6/5/2026) sore.
Baca juga: Apes! Curanmor di Padang Jatuh Tabrak Kendaraan Lain Saat Dikejar Korban, Berakhir Diamankan Warga
Menurutnya, jalur penghubung tersebut menjadi akses utama masyarakat Nagari Anduring, Nagari Kayu Tanam, hingga Nagari Guguak.
Ia menyebut, setiap hari sekitar seribuan sepeda motor dan becak melintasi kawasan tersebut untuk aktivitas sekolah, bekerja hingga ke pasar.
"Kurang lebih ada seribuan kendaraan roda dua dan becak yang melintas setiap hari," ujarnya.
Hendra mengatakan, sebelum pembangunan jembatan darurat dilakukan, pemerintah terlebih dahulu memprioritaskan normalisasi Sungai Lubuk Aur.
Langkah itu diambil setelah adanya masukan dari masyarakat dan anggota DPRD Padang Pariaman terkait kondisi aliran sungai yang dinilai membahayakan saat hujan deras.
"Kita fokus dulu melakukan normalisasi sungai. Karena kondisi sungai sekarang cukup berisiko ketika debit air meningkat," jelasnya.
Ia menyebutkan, alat berat milik Pemkab Padang Pariaman mulai dikerahkan untuk pengerjaan normalisasi sungai di kawasan Jembatan Anduring.
Namun, keterbatasan alat berat membuat pemerintah daerah meminta dukungan tambahan alat dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
"Kalau hanya satu alat berat, proses normalisasi bisa memakan waktu lama. Karena itu kita minta dukungan provinsi," katanya.
Baca juga: Cuma Punya Satu, Pemkab Padang Pariaman Minta Tambahan Alat Berat Percepat Normalisasi Lubuk Aur
Selain itu, Pemkab Padang Pariaman juga berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) V untuk mendukung penanganan sungai di kawasan tersebut.
Sebelumnya, kawasan Sungai Lubuk Aur menjadi sorotan setelah seorang lansia bernama Afrizal Yatim (70) terseret arus saat menyeberang pada Minggu (3/5/2026) sore. Korban berhasil diselamatkan warga setempat.
Sejak jembatan putus akibat banjir bandang, masyarakat setempat menggunakan rakit sederhana dari papan kayu dan drum besi untuk menyeberangi sungai.
Embun pagi masih setia menggantung di atap-atap rumah warga Nagari Anduring, Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Rabu (6/5/2026) pagi.
Dari balik jajaran perbukitan, suara kokok ayam bersahutan, memecah sunyi pagi yang belum sepenuhnya beranjak.
Namun, kehidupan di kampung ini sudah bergerak sejak fajar. Sejumlah warga tampak bergegas keluar rumah.
Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB, tetapi antrean sudah mulai terbentuk di tepian Sungai Lubuk Aur.
Di hadapan mereka, bukan jembatan kokoh yang menyambungkan dua sisi kampung, melainkan sebuah rakit sederhana tersusun dari papan kayu yang ditopang delapan drum besi.
Baca juga: Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumbar: Waspada Hujan Petir di Sawahlunto dan Hujan Ringan di Padang
Rakit itu diikat dengan kawat dan katrol seadanya, lalu ditarik manual oleh enam warga.
Pagi itu, arus sungai terlihat deras. Air berwarna kecokelatan mengalir cepat, membawa ancaman yang tak bisa dianggap sepele.
Namun kondisi tersebut tak menyurutkan langkah warga. Satu per satu, mereka menunggu giliran menyeberang. Tak ada yang menyerobot.
Semua paham, keselamatan adalah taruhan utama. Sekali terpeleset, tubuh bisa terseret arus dan menghantam batu-batu besar di dasar sungai.
Di antara antrean itu, berdiri Afdal (18), pelajar kelas XI SMA Negeri 1 2x11 Kayu Tanam.
Dengan seragam pramuka yang dikenakannya, ia tampak sabar menunggu, meski waktu terus berjalan.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.05 WIB. Artinya, ia telah terlambat masuk sekolah yang dimulai pukul 07.30 WIB.
“Dari jam 06.20 WIB sudah di sini. Tapi banyak yang datang lebih dulu, jadi harus antre,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Bagi Afdal, rakit ini adalah satu-satunya akses tercepat menuju sekolah sejak jembatan di dekat rumahnya roboh akibat banjir bandang pada November 2025 lalu.
Ia sadar risiko terlambat menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, hal itu tak menyurutkan semangatnya untuk tetap bersekolah.
“Guru sudah tahu kondisi kami. Jadi diberi toleransi kalau terlambat,” katanya.
Awalnya, Afdal mengaku takut menyeberangi sungai dengan rakit sederhana tersebut. Derasnya arus dan kondisi rakit yang jauh dari kata aman sempat membuatnya ragu.
Namun waktu mengubah segalanya.
“Dulu takut, sekarang sudah terbiasa,” ucapnya.
Hal serupa dirasakan Alif (17), pelajar lainnya. Setiap hari, ia juga mengandalkan rakit itu untuk pergi dan pulang sekolah.
“Lewat sini terus. Rakit ini sangat membantu,” katanya.
Baca juga: Arah Pembangunan Ekonomi Sumbar Harus Bersifat Integratif
Untuk menyeberang, warga tidak dikenakan tarif pasti. Mereka cukup membayar seikhlasnya.
“Bayarnya seikhlas kita saja,” tambah Alif.
Di balik kesederhanaannya, rakit ini menjadi urat nadi kehidupan warga.
Tak hanya pelajar, para guru, petani, hingga masyarakat umum bergantung padanya untuk mencapai jalan utama Padang–Bukittinggi.
Namun, ancaman selalu mengintai.
Baca juga: Pengangguran Sumbar Turun: Ini Bentuk Survival Employment, Bukan Produktivitas Meningkat
Beberapa waktu lalu, kawasan ini sempat viral setelah seorang lansia, Afrizal Yatim (70), terseret arus saat mencoba menyeberang. Ia hanyut beberapa meter sebelum akhirnya berhasil diselamatkan warga.
Peristiwa itu menjadi pengingat nyata betapa berbahayanya akses yang kini harus dilalui setiap hari.
Hingga kini, jembatan yang roboh akibat banjir bandang 2025 belum juga diperbaiki. Meski sebuah alat berat sudah terlihat di lokasi.
Di tengah ketidakpastian itu, harapan tetap hidup.
Afdal dan Alif, seperti warga lainnya, hanya menginginkan satu hal sederhana yaitu jembatan yang kembali berdiri, agar mereka bisa menyeberang tanpa rasa cemas, dan tiba di sekolah tepat waktu.
“Semoga cepat dibangun lagi, supaya tidak telat sekolah,” kata mereka.
Baca juga: Hardiknas 2026, UIN Imam Bonjol Padang Perkuat Pendidikan Karakter dan Kepedulian Lingkungan
Putusnya akses penghubung tiga nagari yakni Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak ini berdampak pada sekitar 30 ribu warga, termasuk para pelajar di Padang Pariaman.
Sejak jembatan utama roboh akibat galodo November 2025, mobilitas ekonomi dan distribusi hasil pertanian masyarakat menjadi terhambat.
Sejak putusnya jembatan, warga terpaksa menggunakan rakit sederhana berbahan drum sebagai sarana penyeberangan darurat.
Meski membantu memangkas jarak tempuh dan biaya transportasi, fasilitas ini dinilai jauh dari standar keselamatan.
Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, menyebutkan bahwa inisiatif pembuatan rakit berasal dari para pemuda setempat sebagai solusi sementara.
“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh. Ini bisa menghemat waktu dan bahan bakar,” ujarnya dikutip dari laman Pemkab Padang Pariaman, Rabu (6/5/2026).
Baca juga: Ekonomi Sumbar Tumbuh 5,02 Persen, Sektor Pariwisata dan Ekspor CPO Melejit Tajam di Awal 2026
Ia menambahkan, layanan penyeberangan tersebut bersifat sukarela dengan biaya seikhlasnya. “Ada yang bayar Rp5.000, ada Rp2.000, bahkan ada yang gratis seperti anak sekolah,” katanya.
Namun demikian, ia mengakui risiko keselamatan tetap tinggi, terutama saat kondisi arus sungai tidak stabil.
Sempat membuat petani cemas, anak Harimau Sumatera yang sempat muncul di Kabupaten Agam sudah tidak lagi terlihat, Kamis (7/5/2026).
Lokasi tepatnya berada di Nagari Matua Hilia, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.
Anak harimau ini muncul pada Selasa (5/5/2026) lalu, membuat petani yang melihatnya harus mengamankan diri di sebuah pondok.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumatera Barat, Ade Putra mengatakan tanda-tanda keberadaan Harimau Sumatera tersebut sudah tidak ada.
Kata dia, kemungkinan satwa langka tersebut sudah meninggalkan lokasi awal kemunculan.
"Tidak ada lagi tanda-tanda yang kita temukan di lokasi hari ini," kata Ade saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Pemkab Solok Selatan Gelar Pelatihan Kue Tampah, Dorong UMKM Kuliner Lokal Naik Kelas
Ia menjelaskan, sebelumnya pihak BKSDA telah memasang kamera trap di sekitar lokasi kemunculan Harimau Sumatera.
Akan tetapi, berdasarkan hasil pantauan kamera tersebut, tidak ditemukan keberadaan anak Harimau Sumatera.
"Total empat kamera di beberapa titik lokasi keberadaan Harimau Sumatera sebelumnya, namun belum ada tanda-tanda baru," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah nagari setempat untuk membatasi aktivitas masyarakat.
"Kita sudah berkoordinasi dengan wali nagari dan aparat terkait, untuk membatasi sementara aktivitas masyarakat," tambahnya.
Baca juga: PT Semen Padang Latih 20 Tukang Pasang Sepablock, Percepat Pembangunan Huntap di Balai Gadang
Kemunculan Panthera tigris sumatrae tersebut viral di media sosial, salah satunya di akun Instagram @sumbarheadline.
Dalam postingannya, Harimau Sumatera muncul di perkebunan warga, yang juga terlihat berjalan di tepi-tepi sawah.
Hingga dipantau TribunPadang.com pada Rabu (6/5/2026) pukul 10:03 WIB, postingan tersebut sudah mencapai 50 ribu tayangan dan berbagai komentar dari warganet.
Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau BKSDA Sumatera Barat, Ade Putra membenarkan terkait kemunculan Harimau Sumatera di perkebunan warga tersebut.
Baca juga: PLN Payakumbuh dan Pemkab Lima Puluh Kota Sinergi Optimalkan PBJT Listrik demi Dongkrak PAD
"Benar, Selasa kemarin anak Harimau Sumatera muncul di perkebunan masyarakat sejak pukul 13:00 WIB," kata Ade saat dikonfirmasi, Rabu (6/5/2026).
Setelah kemunculan itu ujar Ade, perangkat nagari setempat dan Bhabinkamtibmas melaporkan ke BKSDA Sumbar.
Dalam laporannya, pihak BKSDA menerima informasi bahwa 10 warga langsung mengamankan diri di pondok usai melihat keberadaan harimau.
"Kami langsung ke lokasi dan mengevakuasi warga tersebut bersama tim gabungan lainnya ke tempat aman," jelasnya.
Ia menambahkan, BKSDA lalu melakukan penanganan dengan metode penyisiran menggunakan opsi evakuasi harimau melalui bius atau perangkap.
Baca juga: Pembangunan Sekolah Rakyat di Dharmasraya Dikebut, Target Selesai 20 Juni 2026 Demi Siswa Baru
"Sejak saat itu, sampai Rabu dini hari sekira pukul 01.00 WIB, kami tidak lagi menemukan harimau di Matua Katik," tambahnya.
Sementara, terkait penyebab munculnya anak Harimau Sumatera tersebut, Ade belum menjelaskan secara detail.
Sedangkan pihaknya dan tim gabungan lain, masih berada di lokasi kemunculan Harimau Sumatera.
TribunPadang.com terus menginformasikan perkembangan lainnya mengenai kemunculan satwa langka tersebut.
Insiden kecelakaan tunggal tragis kembali terjadi di wilayah hukum Polres Dharmasraya, Sumatera Barat.
Seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) berinisial WR (15) dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di Jalan Umum Jalur Dua, Jorong Pasar Baru, Kenagarian Sungai Rumbai, Kamis (7/5/2026).
Peristiwa memilukan tersebut terjadi sekira pukul 15.30 WIB. Korban yang mengendarai sepeda motor Honda Scoopy berwarna hitam tanpa plat nomor polisi itu mengembuskan napas terakhirnya di lokasi kejadian akibat luka serius di bagian kepala.
Kapolres Dharmasraya melalui Kasatlantas Polres Dharmasraya, Iptu Wahyuli Amra mengonfirmasi rincian kronologi kejadian yang menimpa remaja asal Jorong Kambang Baru tersebut.
Baca juga: Tekan Ketimpangan, Pemkab Solok Selatan Verifikasi Data Penerima Bantuan Listrik dan Sekolah Rakyat
Menurutnya, kecelakaan bermula saat korban melaju dari arah SPBU Putra Mandiri.
"Korban bergerak dari arah SPBU Putra Mandiri menuju Simpang SMKN 1 Sungai Rumbai dengan kecepatan tinggi," ujar Iptu Wahyu saat memberikan keterangan.
Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP), kondisi jalan yang menurun diduga menjadi faktor utama korban kehilangan kendali atas kendaraannya.
Dalam kecepatan tinggi tersebut, sepeda motor Scoopy yang dikendarai WR kehilangan keseimbangan secara mendadak.
Akibat kejadian tersebut, motor korban oleng hingga menyebabkan korban terjatuh dan terpental ke sisi sebelah kiri badan jalan.
Baca juga: 6.000 Jiwa di Anduring Butuh Penyeberangan, Sekda Hendra Aswara: Sementara Rakit yang Bisa Digunakan
Benturan keras pun tak terhindarkan saat tubuh korban menghantam aspal dengan sangat kuat.
Akibat benturan tersebut, korban mengalami luka robek dan retak pada bagian kepala.
Kondisi luka yang sangat parah membuat nyawa pelajar malang tersebut tidak dapat tertolong lagi dan dinyatakan meninggal dunia tepat di lokasi jatuhnya kendaraan.
Warga sekitar yang melihat kejadian langsung berusaha memberikan pertolongan.
Pihak kepolisian yang mendapat laporan segera menuju lokasi bersama tim medis untuk mengevakuasi korban menggunakan ambulans menuju RSUD Sungai Rumbai.
"Petugas kami sudah mendatangi TKP untuk melakukan penanganan awal. Jenazah korban dievakuasi ke RSUD terdekat sementara kendaraannya kami amankan," lanjut Iptu Wahyuli.
Baca juga: Menilik Lokasi Lansia Hanyut di Nagari Anduring, Pemkab Padang Pariaman Siapkan Jembatan Bailey
Selain mengevakuasi korban, personel Satlantas Polres Dharmasraya juga melakukan olah TKP secara mendetail.
Petugas tampak mengukur titik koordinat kecelakaan serta membuat sketsa kejadian untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Pihak kepolisian juga telah mengamankan barang bukti berupa satu unit sepeda motor Honda Scoopy hitam milik korban.
Secara fisik, motor tersebut hanya mengalami kerusakan ringan berupa lecet-lecet pada bodi bagian kiri, namun dampak pada pengendara sangat fatal.
Baca juga: Pemko Padang Tempel Label Putih di Hewan Kurban Sehat, Warga Wajib Cek Gigi Sapi Sebelum Beli
Tak hanya mengolah TKP, polisi juga mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi mata di lokasi serta mencatat identitas lengkap pengendara.
Saat ini, kasus kecelakaan tunggal tersebut tengah ditangani oleh Polsek Sungai Rumbai bersama Satlantas Polres Dharmasraya.
Menyikapi tragedi ini, Iptu Wahyu memberikan peringatan keras sekaligus imbauan kepada seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Dharmasraya.
Ia menyoroti fenomena anak di bawah umur yang dibiarkan membawa kendaraan bermotor ke jalan raya.
"Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh orang tua agar lebih bijak. Jangan biarkan anak-anak kita yang masih di bawah umur dan belum memiliki SIM untuk mengendarai kendaraan bermotor," tegasnya.(*)