Disdik Jabar Larang Perpisahan Mewah, SMAN 3 dan SMAN 5 Bandung Pilih Konsep Sederhana di Sekolah
Seli Andina Miranti May 08, 2026 04:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -  Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat  menerbitkan aturan ketat terkait pelaksanaan kegiatan perpisahan atau wisuda bagi siswa SMA dan SLB tahun ajaran 2025/2026. 

Melalui Surat Edaran Nomor 23016/PW.01/SEKRE, seluruh sekolah diminta melaksanakan kegiatan perpisahan di lingkungan sekolah masing-masing sebagai tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Barat dalam pembangunan pendidikan menuju “Gapura Pancawaluya”.

Aturan tersebut menekankan agar kegiatan perpisahan dilaksanakan secara sederhana, mengedepankan nilai kebersamaan, tidak membebani orang tua, serta tetap memiliki nilai edukatif dan kekeluargaan.

Baca juga: 6 Aturan Perpisahan Sekolah 2026 di Jawa Barat: Dilarang Pungutan sampai Konvoi Kelulusan

Sejumlah sekolah di Kota Bandung pun mulai menyesuaikan konsep perpisahan mereka dengan regulasi tersebut, di antaranya adalah SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung yang memilih menggelar acara di lingkungan sekolah dengan konsep sederhana namun tetap khidmat.

Wakasek Humas SMAN 3 Bandung, Agung Hadiat Zamil menjelaskan, sekolahnya sejak dulu memang tidak pernah menggelar acara perpisahan di luar sekolah. 

“Tahun ini, konsep yang diangkat adalah nuansa Sunda yang mengedepankan rasa kebersamaan dan penghormatan kepada guru,” kata Agung saat ditemui di SMAN 3 Bandung, Jalan Belitung No 8, Jumat(8/5/2026).

Ia mengatakan, acara perpisahan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 mendatang. 

Konsep Sunda yang diusung akan menghadirkan berbagai penampilan seni dari adik kelas untuk kakak kelas mereka.

“Konsep yang diangkatnya konsep Sunda yang khidmat, mengutamakan seperti arahan dari dinas, mengutamakan kebersamaan, kekhidmatan, rasa terima kasih dari siswa kepada guru-gurunya,” katanya.

Berbagai ekstrakurikuler bernuansa budaya akan turut tampil dalam acara tersebut. Mulai dari kelompok angklung, LSS, hingga kelompok vokal Cafe 3 yang seluruh penampilannya dipersembahkan oleh siswa kelas bawah untuk siswa kelas 12.

“Kalau pertunjukan sih mungkin lebih ke persembahan dari adik-adiknya kepada kakak kelasnya. Jadi di sini memang ada beberapa ekskul yang identik dengan kesundaan. Ada ekskul angklung, ada LSS, lalu kelompok vokal juga,” ungkapnya.

Baca juga: Contoh Teks MC Perpisahan Sekolah Kelas 12 SMA/Sederajat, Lengkap Mukadimah dan Susunan Acara

Menurut Agung, persiapan acara sebagian besar dilakukan oleh adik kelas melalui latihan ekstrakurikuler, sementara siswa kelas 12 tinggal menunggu pelaksanaan acara.

Agung menuturkan bahwa inti dari kegiatan perpisahan di SMAN 3 bukan sekadar seremoni pelepasan, melainkan peneguhan identitas siswa sebagai bagian dari almamater sekolah.

“Acara perpisahan ini kita memang berfokus kepada siswa itu secara resmi sudah menjadi alumni. Jadi di dalam acara itu ada penyerahan siswa menjadi alumni,” jelasnya.

Dalam acara tersebut, siswa juga akan menyampaikan rasa terima kasih kepada guru melalui lagu-lagu seperti Himne Guru dan Terima Kasihku kepada Guru. Beberapa siswa bahkan biasanya memberikan bunga kepada guru mereka sebagai simbol penghormatan.

“Nah akhirnya acara perpisahan di sini itu mengusung konsep bagaimana cara agar siswa itu tetap merasa memiliki sekolah. Jadi walaupun dia sudah bukan siswa, diingatkan kembali bahwa dia itu di pundaknya membawa nama besar almamaternya,” katanya.

Agung berharap para siswa setelah lulus tidak melupakan sekolah mereka dan tetap membawa nilai-nilai yang telah dipelajari selama tiga tahun pendidikan.

Ia menambahkan, pembelajaran yang dimaksud bukan hanya soal akademik, tetapi juga pembentukan karakter sesuai nilai Pancawaluya yang kini digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Karakter yang sekarang paripurna, Pancawaluya, berakhlak mulia karena ke depan siswa itu harus kembali lagi ke sekolah dengan kabar-kabar baiknya sebagai manusia yang lebih matang atau sukses,” tambahnya.

Sementara itu, Wakasek Kesiswaan SMAN 5 Bandung, Amat Misnati, mengatakan pihak sekolah juga berpedoman penuh terhadap surat edaran Disdik Jabar. Menurutnya, konsep awal perpisahan di SMAN 5 bahkan dirancang sangat sederhana.

Pada awalnya, sekolah hanya berencana menggelar apel sederhana yang diisi pengumuman prestasi siswa, jalur kelulusan perguruan tinggi, serta menyanyikan himne bersama sebagai simbol persaudaraan almamater.

Baca juga: 6 Aturan Perpisahan Sekolah di Jawa Barat, Tak Boleh Ada Pungutan ke Siswa

“Jadi hanya apel, kemudian disebutkan juara-juara, disebutkan siapa sudah lolos di mana melalui jalur apa, ada apresiasinya. Setelah apel selesai, siswa diarahkan kembali ke kelas masing-masing untuk menerima rapor, ijazah, dan buku kenangan bersama orang tua mereka,” ucap Amat.

Amat  mengatakan konsep tersebut juga dirancang untuk meminimalisasi potensi konvoi kelulusan maupun kegiatan di luar pengawasan sekolah.

“Harapannya pulangnya juga dengan orang tuanya. Jadi kekhawatiran tentang konvoi dan lain sebagainya harusnya tidak terjadi,” katanya.

Namun dalam perjalanannya, sejumlah orang tua menginginkan adanya nuansa seremoni agar momen kelulusan tetap terasa berkesan bagi siswa. 

WAWANCARA - Wakasek Kesiswaan SMAN 5 Bandung, Amat Misnati
WAWANCARA - Wakasek Kesiswaan SMAN 5 Bandung, Amat Misnati (Tribun Jabar/Putri Puspita Nilawati)

Pihak sekolah kemudian mengundang perwakilan orang tua untuk berdiskusi mencari solusi yang tetap sesuai aturan.

“Kemudian tersampaikanlah bahwa penginnya anak-anak datang ke sekolah, dipasangin medali kelulusan, kemudian naik ke panggung,” tutur Amat.

Akhirnya, kemarin 7 Mei 2026 ada acara yang biayanya dari orang tua siswa berupa panggung sederhana, tenda, dan penampilan seni yang seluruh pengisi acaranya berasal dari siswa sendiri.

Menurutnya, penampilan tersebut tidak membutuhkan persiapan khusus karena para siswa sebelumnya sudah menjalani latihan untuk ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N).

“Minggu lalu anak-anak lomba di FLS3N sehingga mereka sudah mengalami rangkaian latihan persiapan dan anak-anak sudah siap tampil,” ujarnya.

Terkait kegiatan perpisahan di luar kota atau study tour, Amat menegaskan sejak adanya larangan dari gubernur, sekolah tidak lagi melaksanakan kegiatan massal satu angkatan ke luar daerah.

Meski demikian, ia menjelaskan kegiatan kunjungan masih dimungkinkan dalam konteks pembelajaran  dan tidak bersifat wajib bagi seluruh siswa.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.