Erupsi Gunung Dukono Picu Kepanikan, Dua Pendaki Asal Singapura Dilaporkan Tewas dan 20 Orang Hilang
Muliadi Gani May 08, 2026 04:54 PM

Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, kembali mengalami erupsi pada Jumat (8/5/2026) pagi.

Letusan gunung api aktif tersebut memicu kepanikan setelah sebanyak 20 pendaki dilaporkan hilang dan diduga masih terjebak di kawasan gunung.

Dari total pendaki yang dilaporkan hilang, sembilan orang diketahui merupakan warga negara Singapura.

Media Singapura, Channel NewsAsia (CNA), melaporkan dua pendaki asal Singapura meninggal dunia akibat insiden tersebut.

Namun hingga kini proses identifikasi dan evakuasi masih terus berlangsung.

Erupsi Gunung Dukono dilaporkan menyemburkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 10 kilometer ke udara.

Kondisi itu membuat kawasan sekitar gunung dipenuhi abu tebal dan membahayakan aktivitas warga maupun pendaki.

Tim SAR gabungan dari Ternate saat ini dikerahkan untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap para korban.

Operasi penyelamatan dilakukan setelah Basarnas Command Center (BCC) menerima sinyal darurat atau SOS dari perangkat Garmin milik pendaki.

Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani, mengatakan sinyal darurat terdeteksi pada koordinat 1°42'13.7"N 127°52'50.2"E yang berada di kawasan Gunung Dukono.

“Laporan tersebut juga dikonfirmasi Kepala Desa Mamuya.

Di lokasi terdapat sejumlah pendaki yang mengalami luka-luka akibat terdampak aktivitas erupsi Gunung Dukono,” kata Iwan saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, Kepala Desa Mamuya secara resmi telah meminta bantuan SAR untuk melakukan evakuasi terhadap para korban yang berada di kawasan gunung.

Tim SAR kemudian bergerak menuju lokasi dengan tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik yang masih berlangsung.

Medan yang berat serta hujan abu vulkanik disebut menjadi tantangan utama dalam proses pencarian.

“Berdasarkan informasi yang diperoleh, total korban berjumlah 20 orang dan terdapat warga negara asing asal Singapura,” ujarnya.

Gunung Dukono sendiri dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia.

Gunung yang berada di utara Pulau Halmahera itu hampir terus-menerus mengalami erupsi dengan karakter letusan abu vulkanik periodik.

Sebelumnya, pada Senin 6 April 2026 lalu, Gunung Dukono juga mengalami erupsi pada pukul 09.26 WIT.

Aktivitas vulkanik yang tinggi membuat masyarakat dan wisatawan kerap diingatkan agar tidak mendekati kawasan kawah.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) selama ini mengimbau masyarakat, pengunjung, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius empat kilometer dari Kawah Malupang Warirang yang menjadi pusat erupsi.

Selain bahaya letusan, warga juga diminta waspada terhadap sebaran abu vulkanik yang dapat berubah arah mengikuti tiupan angin.

Abu vulkanik berisiko mengganggu kesehatan pernapasan dan jarak pandang.

Masyarakat di sekitar kawasan gunung disarankan menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat hujan abu terjadi.

Profil Gunung Dukono

Gunung Dukono terletak di utara Pulau Halmahera.

Halmahera adalah pulau terbesar di Kepulauan Maluku.

Pulau ini merupakan bagian dari provinsi Maluku Utara, Indonesia. 

Secara geografis, Gunung Dukono memiliki ketinggian sekitar 1.335 meter atau 4.380 kaki di atas permukaan laut dan termasuk jenis gunung api kompleks dengan beberapa kawah aktif.

Gunung ini memiliki sejarah letusan panjang sejak ratusan tahun lalu.

Letusan terakhir Gunung Dukono pada taun 2025.

Pada letusan besar tahun 1550, aliran lava bahkan disebut mengisi selat antara Pulau Halmahera dan lereng utara Gunung Mamuya.

Letusan tersebut mencapai skala 3 dalam Volcanic Explosivity Index (VEI).

Aktivitas erupsi kecil juga tercatat terjadi pada 1719, 1868, dan 1901.

Sejak tahun 1933 hingga sekarang, Gunung Dukono terus mengalami letusan kecil secara berkelanjutan dan menjadi salah satu gunung api paling aktif di kawasan timur Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.