Update Hari ke-70 Perang Iran: AS-Iran Saling Tembak di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Runtuh
SERAMBINEWS.COM – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat pada hari ke-70 konflik, setelah kedua pihak dilaporkan saling baku tembak di kawasan strategis Selat Hormuz.
Dilansir Serambinews melalui Aljazeera (8/5/2026), Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata dengan menyerang dua kapal di dekat Selat Hormuz serta menargetkan wilayah sipil di pesisir selatan negaranya.
Tuduhan tersebut langsung dibantah oleh pihak militer Amerika Serikat.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukannya justru mencegat serangan dari Iran yang dianggap “tidak beralasan” dan kemudian melakukan serangan balasan sebagai bentuk pertahanan diri.
Baca juga: AS-Iran Memanas di Selat Hormuz, Trump Pastikan Gencatan Senjata Tetap Berlaku
Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di Pulau Qeshm, wilayah yang memiliki posisi strategis di pintu masuk Selat Hormuz.
Sistem pertahanan udara Iran juga dikabarkan berhasil mencegat sejumlah drone yang terbang di atas kawasan tersebut.
Pulau Qeshm selama ini dikenal sebagai salah satu titik penting dalam strategi pertahanan laut Iran, terutama dalam menghadapi potensi ancaman di jalur pelayaran internasional.
Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran semakin terbuka, menyusul pembicaraan yang disebutnya “sangat baik”.
Namun, di saat yang sama, Trump juga memperingatkan bahwa aksi militer dapat kembali ditingkatkan jika Iran menolak kesepakatan tersebut.
Baca juga: Pakistan Optimistis Kesepakatan AS–Iran Segera Tercapai
Di sisi lain, Iran juga membantah keterlibatannya dalam insiden ledakan kapal Korea Selatan di Selat Hormuz. Kedutaan Besar Iran di Seoul menegaskan bahwa pihaknya tidak terlibat dalam serangan tersebut dan menyebut tuduhan yang beredar sebagai tidak berdasar.
Situasi semakin kompleks dengan munculnya laporan bahwa Iran telah membalas serangan dengan menargetkan kapal militer AS di sekitar selat. Pemerintah Iran bahkan memperingatkan akan memberikan respons yang lebih keras jika serangan kembali terjadi.
Di tengah eskalasi ini, upaya diplomasi tetap berlangsung. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dilaporkan bertemu dengan Paus untuk membahas konflik tersebut.
Sementara itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengutuk serangan terhadap infrastruktur sipil di kawasan Teluk.
Di kawasan Timur Tengah, ketegangan juga meluas.
Baca juga: Presiden Iran Masoud Pezeshkian Ungkap Isi Pertemuan dengan Mojtaba Khamenei
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan akan terus melanjutkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon.
Serangan terbaru dilaporkan menewaskan sedikitnya 11 orang, termasuk anak-anak.
Dampak konflik ini juga terasa pada sektor global, khususnya energi.
Harga minyak dunia sempat melonjak hingga 7,5 persen akibat bentrokan di Selat Hormuz, sebelum kembali turun ke kisaran 101 dolar AS per barel.
PBB juga memperingatkan bahwa sekitar 1.500 kapal dan awaknya masih terjebak di Teluk akibat penutupan jalur tersebut oleh Iran. Kondisi ini semakin memperburuk gangguan pada rantai pasokan energi global.
Meski kedua pihak masih mengklaim gencatan senjata tetap berlaku, fakta di lapangan menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari kata usai, dengan risiko eskalasi yang terus meningkat dari hari ke hari.
Baca juga: Timnas Iran Minta Jaminan FIFA sebelum Berangkat ke Amerika Serikat Tampil di Piala Dunia 2026