Laporan Muhammad Azzam
TRIBUNBEKASI.COM, KARAWANG- Rute titik Kirab Budaya “Napak Tilas Pajajaran” dalam rangka peringatan Hari Jadi Tatar Sunda di Karawang akhirnya menjadi di Masjid Agung Syekh Quro.
Sebelumnya rute kirab itu dimulai dari Universitas Horizon menuju ke Kantor Pemda Karawang. Dan saat ini diubah menjadi titik mulainya di Stasiun Karawang Jalan Insinyur Juanda menuju Masjid Agung Syekh Quro.
Perubahan rute itu terjadi setelah kritik budayawan Karawang, Nace Permana. Sebab, tidak ada catatan sejarah raja Pajajaran dalam hal ini Prabu Siliwangi singgah ke kawasan kampus tersebut.
Nace menyampaikan apresiasi atas perubahan rute kirab yang berakhir di Masjid Agung Karawang.
Sebab, titik awal kirab dinilai tidak memiliki keterkaitan sejarah dengan jejak Prabu Siliwangi. Adanya perubahan rute, ia menilai kirab kini lebih memiliki makna historis dan spiritual.
"Sekarang saya justru mengapresiasi karena finish-nya di Masjid Agung Karawang. Itu jauh lebih tepat secara sejarah," ujarnya, Jumat (8/5/2026).
Menurut Nace, Masjid Agung Karawang merupakan lokasi yang memiliki nilai sejarah kuat dalam perkembangan Islam di tanah Sunda.
Baca juga: Pemprov Jabar Ungkap Alasan Rute Kirab Tatar Sunda Tidak dari Masjid Agung Syekh Quro
Baca juga: Soroti Rute Kirab Milangkala Tatar Sunda di Karawang, Budayawan Nilai Dedi Mulyadi Ngaco
Ia menyebut masjid tersebut berkaitan erat dengan Syekh Qurotul Ain, ulama yang dikenal dalam sejarah penyebaran Islam di Karawang.
Nace menjelaskan, murid Syekh Quro, yakni Subang Larang, menikah dengan Prabu Siliwangi. Dari keturunan keduanya lahir tokoh-tokoh besar seperti Walangsungsang, Rara Santang hingga Sunan Gunung Jati.
"Masjid Agung ini menjadi tempat yang tepat untuk menyemayamkan mahkota karena ada sejarah besar peradaban Islam dan Sunda di sana," katanya.
Ia berharap pelaksanaan kirab budaya ke depan tidak hanya berorientasi pada seremoni, tetapi juga mempertimbangkan aspek sejarah dan nilai budaya agar pesan yang disampaikan kepada masyarakat lebih kuat dan bermakna.
Berdasarkan pantauan, kawasan Alun-alun Karawang dekat Masjid Syekh Quro kini mulai dipasang panggung utama pada Jumat (8/5/2026) siang.
Sejumlah pekerja dan panitia tampak sibuk melakukan penataan area, pemasangan perlengkapan teknis, hingga pengaturan jalur kegiatan yang akan dipadati peserta kirab dan masyarakat.
Keberadaan panggung utama di Alun-Alun Karawang juga sekaligus mempertegas perubahan titik awal kirab yang sebelumnya sempat disebut akan dimulai dari kawasan Universitas Horizon.
Berdasarkan update terbaru dari panitia, titik start kini dipastikan berada di Jalan Ir. H. Juanda hingga titik akhir di Masjid Agung Syekh Quro di kawasan Alun-alun Karawang.
Kirab Mahkota Binokasih sendiri dijadwalkan berlangsung pada Sabtu malam, 9 Mei 2026 mulai pukul 19.30 WIB hingga 22.00 WIB. Prosesi budaya tersebut akan melibatkan puluhan rombongan kesenian dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Rute kirab dimulai dari Jalan Ir. H. Juanda, kemudian bergerak menuju Jalan Arif Rahman Hakim, melintasi Jalan Tuparev, dan berakhir di Alun-Alun Karawang sebagai titik utama perayaan.
Dalam kirab itu akan ada Kereta Kencana pembawa Mahkota Binokasih yang akan menjadi pusat prosesi budaya malam itu.
Selain itu, rombongan kirab juga direncanakan diiringi kuda tunggangan Gubernur Jawa Barat serta sejumlah pertunjukan seni tradisional dari 27 kabupaten/kota.
Setelah rombongan tiba di Alun-Alun Karawang, acara akan dilanjutkan dengan penampilan hiburan dan parade kesenian daerah yang disaksikan langsung oleh tamu undangan dan masyarakat. (MAZ)