Distaru Akan Mediasi Sejumlah Pihak Terkait Polemik Pembangunan Lapangan Padel di Caman Bekasi
Joseph Wesly May 08, 2026 09:50 PM

 

Laporan jurnalis TribunBekasi.com, Rendy Rutama Putra

TRIBUNBEKASI.COM, PONDOK GEDE- Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melalui Dinas Tata Ruang (Distaru) akan mempertemukan sejumlah pihak terkait polemik pembangunan lapangan padel yang berdekatan dengan Asshodriyah Islamic School (AIS) di Jalan Caman Raya Jatibening, Kecamatan Pondok Gede.

Kepala Distaru Kota Bekasi, Arief Maulana mengatakan, pertemuan itu bertujuan untuk mediasi, dan dikhusukan terhadap pihak sekolah dengan manajemen padel.

Rencananya, mediasi akan dilakukan pada Senin (11/5/2026).

“Diagendakan akan segera diundang kedua belah pihak. Pihak sekolah sama pihak pemilik padel, tentunya kami bahas bersama supaya sama-sama menghasilkan suatu keputusan yang bisa diterima oleh kedua belah pihak,” kata Arief saat dikonfirmasi, Jumat (8/5/2026).

Arief menjelaskan, mediasi diperlukan lantaran lokasi pembangunan yang berdekatan dengan aktivitas belajar mengajar siswa.

Menurut dia, beragam aspek perlu dipertimbangkan, mulai dari keamanan hingga kenyamanan lingkungan sekolah.

“Kalau misalnya pembangunannya harus seperti apa, kan di situ berdekatan sekali informasinya dengan pihak sekolah. Baik dari segi terkait keamanan, kenyamanan, termasuk supaya tidak mengganggu aktivitas sekolahnya juga terhadap anak-anak di situ,” jelasnya.

Sebagai informasi, pembangunan lapangan padel di Jalan Caman Raya Jatibening, menuai kritik dari pihak sekolah AIS dan orangtua murid.

Baca juga: Lapangan Padel Dekat Sekolah di Bekasi Timbul Polemik, Distaru Hentikan Sementara Pembangunan

Baca juga: Orangtua Murid AIS Bekasi Tolak Pembangunan Lapangan Padel, Petisi Tembus 2.000 Tanda Tangan

Baca juga: Berdampingan dengan Sekolah, Pembangunan Lapangan Padel di Caman Bekasi Ditolak 

Keberatan itu timbul karena lokasi pembangunan disebut berdempetan langsung dengan area sekolah dan dinilai berpotensi mengganggu kegiatan belajar mengajar siswa.

"Kami dari pihak sekolah Asshodriyah Islamic School sangat menolak dengan adanya lapangan padel di belakang sekolah kami. Yang mana begitu dekat dengan lingkungan anak-anak," kata Kepala AIS Bekasi, Ahmad Baidowi.

Ahmad menjelaskan, pihak sekolah sejak awal telah menyampaikan keberatan terkait pembangunan lapangan olahraga tersebut

Menurutnya, pihaknya khawatir aktivitas di lapangan padel nantinya justru memunculkan kebisingan yang mengganggu konsentrasi siswa saat belajar.

"Ke depannya kami mengkhawatirkan mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar anak-anak kami," jelasnya.

Berkaitan keresahan itu, Ahmad menuturkan, pihak sekolah sempat melayangkan surat keberatan ke sejumlah instansi sejak awal tahun 2026.

Mulai dari Wali Kota, Dinas Tata Ruang (Distaru), Kecamatan, hingga Kelurahan.

Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut maupun respons atas surat tersebut.

"Alhamdulillah kami sudah mengirim surat dari awal sebelum pembangunan ini terjadi. Kami kirim ke wali kota, kelurahan, kecamatan, kemudian dinas-dinas terkait. Namun memang sampai saat ini belum ada follow up atau balasan," tuturnya.

Sebelumnya, Ahmad menyampaikan, lahan yang kini tengah dibangun sarana olahraga tersebut merupakan area penjualan tanaman hias.

Hanya saja, setelah masa kontrak berakhir pada Oktober 2025, lokasi tersebut digusur dan dilakukan pembangunan.

Kemudian pembangunan sempat dihentikan sementara saat Ramadan lantaran izin belum lengkap.

Akan tetapi, selepas Idul Fitri, pembangunan kembali berjalan setelah izin dikabarkan telah terbit.

"Ramadan itu sempat stop pembangunan karena belum ada izin. Setelah Idul Fitri tiba-tiba izin itu keluar untuk mendirikan lapangan padel ini," ucapnya.

Tak hanya pihak sekolah, penolakan juga datang dari para orangtua murid.

Seorang wali murid AIS Bekasi, Moniqe menilai pembangunan tersebut tidak memperhatikan aspek keselamatan siswa.

Sebab menurutnya, pihak manajemen padel tidak menyediakan pembatas maupun pengaman selama proses konstruksi berlangsung.

"Dari proses pembangunannya aja itu sudah berisik dan tidak safety. Harusnya kalau bangun ada jaring pengaman atau pembatas. Tapi sampai hari ini enggak ada," kata Moniqe.

Menurut Moniqe, suara aktivitas pembangunan bahkan terdengar hingga ke dalam kelas dan mengganggu kegiatan sekolah.

Satu contohnya terjadi saat pelaksanaan upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), suara pembangunan membuat siswa tidak fokus mengikuti pembinaan dari guru.

"Pas upacara Hardiknas kemarin, anak-anak jadi enggak fokus karena dengar suara pembangunan dari belakang," jelasnya.

Resah dengan hal itu, Moniqe menuturkan para orangtua murid mulai melakukan petisi penolakan pembangunan lapangan padel tersebut.

Sejak Rabu (6/5/2026) hingga kini, petisi itu telah ditandatangani hampir 2.000 orang.

"Kami pasang spanduk penolakan dan bikin petisi juga. Sampai sekarang sudah 1.900 lebih yang isi petisi," tuturnya.

Selain itu, Moniqe para orangtua juga ramai-ramai menyuarakan keluhan melalui media sosial (Medsos) dengan menandai sejumlah pejabat daerah agar persoalan tersebut segera mendapat perhatian.

"Kami berharap izin ini bisa ditinjau lagi. Kalau bisa dibatalkan ya dibatalkan demi keamanan dan kenyamanan anak-anak belajar," harapnya. (M37)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.