Upaya KWI Diapresiasi, Badan Bahasa: Siapa Tahu Nanti Paus Bicara Bahasa Indonesia
Ferdinand Waskita Suryacahya May 09, 2026 07:53 AM

 

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin berharap Paus berbicara singkat menggunakan bahasa Indonesia.

“Siapa tahu nanti Paus bicara sepatah dua patah kata bahasa Indonesia. Apa kabar, Selamat Pagi, Terima Kasih, misalnya,” ujar Hafidz Muksin di kantornya di Rawamangun, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Hafidz mengungkapkan harapannya dalam pertemuan

Harapan Hafidz itu diungkapkan dalam pertemuannya dengan Komisi Komunikasi Sosial KWI yang kehadirannya didampingi Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI).  

PERTEMUAN BERSAMA (Dari kiri – Kanan) : Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI), Hafidz Muksin (kepala Badan Bahasa), Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan Bahasa), Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dan Dony Setiawan (Kepala Bidang Kemitraan dan Diplomasi Bahasa, Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dalam pertemuan di Gedung Badan Bahasa, Jakarta  Kamis (07/05/2026).
PERTEMUAN BERSAMA (Dari kiri – Kanan) : Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif Komisi Komsos KWI), Hafidz Muksin (kepala Badan Bahasa), Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan Bahasa), Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dan Dony Setiawan (Kepala Bidang Kemitraan dan Diplomasi Bahasa, Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra) dalam pertemuan di Gedung Badan Bahasa, Jakarta Kamis (07/05/2026). (HO/Istimewa)

Kehadiran KWI tersebut sebagai pemenuhan atas undangan Badan Bahasa menyusul penandatanganan MOU antara Komisi Komsos KWI dan Dikasteri (Kementerian) Komunikasi Vatikan, di Vatikan, Rabu (25/03/2026).  

Dalam pertemuan tersebut, Hafidz Muksin didampingi jajarannya termasuk Ganjar Harimansyah (Sekretaris Badan) dan Iwa Lukmana (Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra). 

Sementara Komisi Komsos KWI diwakili oleh Rm Petrus Noegroho Agoeng (Sekretaris Eksekutif) yang didampingi Abdi Susanto (Anggota Badan Pengurus) dan Stefani Irawati (Staf).  

Sedangkan PWKI diwakili AM Putut Prabantoro (Founder), Asni Ovier Dengen Paluin (Ketua), Yophiandi Kurniawan dan Algooth Putranto (Hubungan Luar Negeri) serta Stanislaus Jumar Sudiyana (Sekretaris).

Menurut Hafidz adanya bahasa Indonesia di Vatican News tidak sama dengan menerjemahkan isi Vatican News ke dalam bahasa Indonesia semata. 

“Ini bukan pakai AI, maka isinya dalam bahasa Indonesia bisa kita baca,” katanya. 

Hafidz berharap dengan kondisi saat ini di tengah masyarakat, segala hal sudah berbasis digital, maka penerjemahan yang tepat maupun isi tentang Indonesia kepada dunia luar, adalah hal penting. 
“Bukan sekedar menerjemahkan menggunakan AI,” katanya.  

Hafidz melihat, saat ini yang berkembang adalah Bahasa Indonesia dibawa para misionaris sebagai duta atau pengajar bahasa Indonesia di tempat misi mereka. 

“Karena selain misi keagamaan juga membawa misi budaya, yang sesuai dengan Indonesia.” 

Prihatin

Meski demikian, Hafidz menyatakan keprihatinannya, di saat Bahasa Indonesia diupayakan bisa berkibar di luar negeri, justru di dalam negeri ada kecenderungan masyarakat abai terhadap bahasa.

"Tidak seperti lambang negara, misalnya bendera diinjak, kita marahnya luar biasa. Batas negara dilanggar, kita juga marah. Tapi bahasa kok kita diam saja? Ini padahal kedaulatan kita,” ujarnya.

Fenomena ini, urainya, terjadi karena gengsi dan nilai, seperti kalau memakai bahasa asing, maka harga barang yang dijual lebih mahal. 

“Kopi hitam, jadi black coffee atau americano, jadi lebih mahal. Akhirnya kita lebih menghargai hal-hal berbau asing,” katanya. 

Sedangkan, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Iwa Lukmana menjelaskan posisi Indonesia di mata dunia. 

“Indonesia ini dikenal sebagai The biggest invisible country. Negara terbesar yang tidak kelihatan. Ini dalam konteks bahasa.” 

BERKAT PAUS - Piagam Berkat Paus Fransiskus untuk para misionaris dari Indonesia di seluruh dunia. Berkat ini diberikan pada Rabu (22/06/2022)
BERKAT PAUS - Piagam Berkat Paus Fransiskus untuk para misionaris dari Indonesia di seluruh dunia. Berkat ini diberikan pada Rabu (22/06/2022) (HO/Istimewa)

Selama ini, ujarnya, orang asing beranggapan bahwa bahasa Indonesia dan Melayu, sama. 

“Kita punya tugas memberi pemahaman pada publik dunia, bahasa Indonesia bukan bahasa Melayu,” kata Iwa. 

Saat ini, Badan Bahasa tetap menjalankan soft diplomacy melalui sosialisasi bahasa Indonesia di berbagai negara. 

“Di Mesir, sudah ada prodi (program studi) Bahasa Indonesia di Universitas Al Azhar,” ujar Iwa. 

Al Azhar dipilih karena menjadi tolok ukur dunia Islam. 

“Kami masuk dulu ke Al Azhar, supaya dunia Islam lainnya juga melihat,” katanya.

Langkah ini merupakan Grand Strategy agar Indonesia diperhitungkan dalam panggung politik dunia. 

“Salah satu elemen Soft Diplomacy, penyebaran Bahasa Indonesia,” katanya.  

Iwa menjelaskan, dalam dunia, bahasa adalah isu yg menentukan. Dia mencontohkan persoalan di Papua dengan gerakan separatis yang jadi tantangan pemerintah Indonesia hingga kini. 

“Gerakan separatis tidak pernah berbasis bahasa. Bahkan masyarakat Papua kenyataannya mengapresiasi Bahasa Indonesia.”

Sementara dalam upaya melestarikan khasanah istilah Katolik di Indonesia, Sekretaris Badan Bahasa Ganjar Harimansyah mengajak KWI dan wartawan Katolik menyumbang ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, untuk kosa kata Katolisitas. 

“Misalnya kata Diosesan, itu sudah umum di Katolik, bisa diungkapkan dan dipahami juga oleh masyarakat lain,” kata Ganjar. 

Saat ini ada lebih dari 200 ribu kata dalam KBBI, namun hanya 268 yang bernuansa Katolik.

BERITA TERKAIT

  • Baca juga: KWI: Kardinal Suharyo Akan Ikut Konklaf untuk Memilih dan Dipilih Sebagai Calon Pengganti Paus
  • Baca juga: Cerita di Balik Bahasa Indonesia Resmi Digunakan di Vatikan, Terkuak Sejarah Tahun 2022
  • Baca juga: KAJ dan Vatikan Serukan Penguatan Iman dan Pengawasan Anak di Era Digital Pasca Ledakan SMAN 72
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.