Selat Hormuz Kian Memanas, Jet Tempur AS Tembaki Kapal Tanker, Iran Ungkit Soal Bom Atom
Christoper Desmawangga May 09, 2026 11:09 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat (AS) menembaki dua kapal tanker berbendera Iran yang disebut mencoba menerobos blokade menuju pelabuhan Iran.

Insiden terbaru itu terjadi di tengah situasi kawasan yang masih belum stabil, mulai dari upaya diplomasi AS-Iran, serangan Hezbollah ke Israel, hingga ancaman terhadap keamanan Strait of Hormuz.

Militer AS menyebut dua kapal tanker tersebut dilumpuhkan menggunakan jet tempur Boeing F/A-18E/F Super Hornet milik Angkatan Laut AS.

Baca juga: Rusia dan China Siap Tolak Resolusi PBB Usulan AS dan Bahrain, Dinilai Terlalu Sudutkan Iran

United States Central Command atau CENTCOM mengatakan jet tempur menembakkan amunisi presisi ke bagian cerobong asap kapal agar tidak bisa memasuki wilayah Iran.

Dalam unggahan di media sosial X, CENTCOM juga merilis rekaman video serangan tersebut.

Sejak blokade diberlakukan pada 13 April lalu, militer AS mengklaim telah menghentikan secara paksa empat kapal yang disebut mencoba melanggar blokade.

Di sisi lain, jalur diplomasi masih terus dilakukan untuk meredakan konflik.

Baca juga: Pertempuran Terjadi di Selat Hormuz, Iran-AS Baku Tembak, Donald Trump Tanggapi Santai

Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani bertemu Wakil Presiden AS JD Vance di Washington pada Jumat (8/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Qatar mendorong pembaruan diplomasi guna mencapai kesepakatan baru dengan Iran.

Keduanya juga membahas upaya mediasi yang dipimpin Pakistan untuk menciptakan perdamaian permanen di tengah gencatan senjata yang masih rapuh.

Sementara itu, Hizbullah mengaku telah meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer Israel sebagai balasan atas serangan terbaru di Beirut dan wilayah selatan Lebanon.

Baca juga: Donald Trump Optimistis Perang dengan Iran Segera Berakhir, Ini Isi Negosiasi Damai AS

Otoritas Lebanon melaporkan sedikitnya 11 orang tewas akibat serangan terbaru tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut meminta negara-negara Eropa membantu menjaga keamanan Selat Hormuz.

“Dunia harus mulai bertanya pada diri sendiri, apa yang bersedia dilakukannya jika Iran mencoba menormalisasi kendali atas jalur air internasional? Saya pikir itu tidak dapat diterima,” kata Rubio, dilansir dari Kompas.com.

Dari pihak Iran, penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohammad Mokhber, menegaskan Selat Hormuz memiliki nilai strategis yang sangat besar bagi negaranya.

Baca juga: Donald Trump Optimistis Perang dengan Iran Segera Berakhir, Ini Isi Negosiasi Damai AS

“Selat Hormuz mewakili peluang yang sama berharganya dengan bom atom,” kata Mokhber.

Menurut dia, kemampuan memengaruhi ekonomi global melalui jalur laut tersebut menjadi kekuatan besar bagi Iran.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Saudi Arabia dilaporkan melarang AS menggunakan wilayah udara dan pangkalan militernya untuk operasi singkat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Namun, akses AS untuk penggunaan lain disebut masih tetap diizinkan.

Baca juga: 2,5 Jam Presiden Iran Bertemu Mojtaba Khamenei, Apa Isi Pembicaraannya?

Dampak konflik kini mulai merembet ke sektor penerbangan internasional.

European Union menyatakan maskapai penerbangan tidak boleh membebankan biaya tambahan bahan bakar kepada pelanggan setelah tiket dibeli.

Kebijakan itu muncul setelah harga bahan bakar penerbangan melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.

Sementara itu, United Arab Emirates melaporkan serangan baru Iran di wilayahnya.

Pemerintah UEA menyebut serangan rudal dan drone Iran menyebabkan tiga orang mengalami luka ringan hingga sedang. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.