Menteri Perindustrian Jadikan Tangan Dingin Artisan Bali Mesin Baru Industri Nasional
Putu Dewi Adi Damayanthi May 09, 2026 12:03 PM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menetapkan Bali sebagai simpul utama pengembangan industri kreatif tanah air melalui peresmian Balai Pemberdayaan Industri Fashion dan Kriya (BPIFK). 

Langkah strategis ini diambil untuk mengoptimalkan potensi besar artisan lokal Bali sekaligus mematahkan narasi deindustrialisasi dini yang kerap menerpa sektor manufaktur Indonesia. 

Menperin menegaskan bahwa industri pengolahan nasional nyatanya tetap resilien, terbukti dengan pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 4,84 persen pada triwulan pertama tahun 2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Sebagaimana ia tegaskan saat peresmian gedung perkantoran BPIFK yang berlokasi di Jalan Wana Segara, Kuta, Badung, Bali, pada Jumat 8 Mei 2026. 

Baca juga: CUAN Potensial dengan Kembangkan 18 Desa Wisata, Pemkab Dongkrak Pariwisata di Badung Utara!

Pemilihan Bali sebagai lokasi BPIFK bukanlah tanpa alasan yang kuat. Menurut Agus Gumiwang, Bali memiliki ekosistem yang luar biasa dengan adanya 25 sentra IKM fashion dan 197 sentra IKM kriya, yang menempatkan Pulau Dewata di peringkat keempat nasional untuk sentra kriya terbanyak.

"Bali telah lama dikenal sebagai salah satu pusat industri kreatif Indonesia yang tumbuh dari kekayaan budaya dan keterampilan masyarakatnya," ujar Menperin usai acara. 

Agus menambahkan bahwa status Kabupaten Gianyar sebagai World Craft City semakin memperkuat posisi Bali di kancah global.

Menperin pun memaparkan visinya menjadikan Bali sebagai hub yang menghubungkan produk artisan dengan pasar internasional. 

Ia memuji kreativitas dan kualitas pengerjaan para pengrajin lokal yang ia sebut sebagai Artisan. 

"Artisan-artisan yang memang sudah siap, inovasinya bagus-bagus, kreatif, dan cara mengerjakannya juga kualitasnya bisa terjaga dengan baik," ungkapnya. 

Menperin memproyeksikan kunjungan turis asing ke Bali akan meningkat eksponensial dalam waktu dekat, yang secara otomatis akan menjadi katalis positif bagi industri fashion dan kriya nasional.

Menperin menyambut hangat tantangan-tantangan industri dan berjanji akan memperjuangkan penetrasi pasar domestik. 

"Kalau hotel yang ada di Bali sudah menyerap produk-produk ini, saya kira akan menjadi benchmark bagi hotel-hotel lain di Indonesia," tegas Agus Gumiwang.

Tidak hanya soal estetika, pembangunan gedung BPIFK sendiri mencerminkan kearifan lokal yang dipadukan dengan standar modern melalui prinsip Bangunan Gedung Hijau (BGH). 

Penggunaan produk dalam negeri dalam proyek ini mencapai 92 persen dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sebesar 61,8 persen. 

Di sela-sela peninjauannya, Menperin sempat mengapresiasi penggunaan marmer lokal dan fasilitas panel surya yang ada di gedung tersebut.

Di luar urusan kriya dan fashion, Agus Gumiwang juga memberikan bocoran penting terkait kebijakan otomotif nasional. 

Ia menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan regulasi pemberian insentif untuk kendaraan listrik, baik mobil maupun motor, yang ditargetkan meluncur pada Juni 2026. 

"Kami sedang menyiapkan Permenperin-nya. Modelnya kira-kira hampir sama dengan bantuan pembelian yang pernah kita berikan sebelumnya," tutupnya. 

Dengan berbagai inisiatif ini, pemerintah optimis sektor manufaktur akan terus menjadi tulang punggung ekonomi dengan kontribusi PDB yang terus meningkat, yang saat ini telah mencapai 19,7 persen atau senilai Rp1.179 triliun.

Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta, menyatakan dukungan penuhnya terhadap program pemerintah pusat ini. 

Dalam kesempatan itu, ia memberikan tantangan agar produk-produk hasil pemberdayaan BPIFK dapat diserap oleh industri perhotelan di Bali. 

"Kami sudah barang tentu mendukung sepenuhnya program-program daripada Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perindustrian. Saya kira itu," kata Giri Prasta. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.