Alasan Perusahaan Ramai-ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, 3 Hal ini Disinggung Profesor
Ani Susanti May 09, 2026 11:14 AM

TRIBUNJATIM.COM - Enam dari 10 perusahaan memilih memecat karyawan Generasi Z (Gen Z) beberapa bulan setelah mereka bekerja. 

Ini terungkap dari survei Intelligent.

Profesor New York University (NYU), Suzy Welch berpandangan temuan tersebut memperlihatkan apa yang sedang terjadi di dunia kerja saat ini.

Dia meneliti nilai-nilai yang dianut Gen Z melalui alat bernama The Values Bridge guna memetakan prioritas hidup seseorang berdasarkan nilai, bakat, dan minat.

"Data menunjukkan hanya 2 persen dari Generasi Z yang memiliki nilai-nilai yang diinginkan dan dicari oleh manajer perekrutan. Dari 98 persen yang tidak memiliki nilai-nilai yang dicari oleh manajer perekrutan, hanya 2 persen yang memilikinya itu angka yang sangat besar," kata Welch dilansir dari USA Today, Kamis (7/5/2026).

Riset ini melibatkan sekitar 200.000 orang untuk mengikuti tes tersebut dalam setahun terakhir.

Tiga hal utama yang paling dijunjung Gen Z ialah perawatan diri, kebebasan mengekspresikan diri secara autentik, serta keinginan membantu orang lain.

"Bagi para manajer perekrutan, nilai nomor satu yang mereka cari adalah prestasi, keinginan untuk menang. Nilai nomor dua yang mereka cari adalah fokus pada pekerjaan, keinginan untuk bekerja," jelas Welch.

"Ketiga adalah ruang lingkup, yaitu keinginan untuk belajar, beraktivitas, dan berpetualang yang umumnya, saya akan menerjemahkannya di tempat kerja sebagai perjalanan," imbuh dia.

Gen Z Pedulikan Individualitas

Perusahaan biasanya menginginkan pekerja untuk peduli pada kemenangan dan bekerja, sementara karyawan Gen Z lebih peduli pada perawatan diri dan individualitas. 

Welch menyebut, pekerja muda beranggapan bahwa pola kerja generasi sebelumnya tidak selalu menghasilkan kehidupan yang stabil.

Karenanya, mereka lebih mengutamakan keseimbangan hidup dan kesehatan mental dibandingkan mengejar karier secara agresif.

"Gen Z pada dasarnya mengatakan 'Saya tidak suka aturan-aturan itu. Itu adalah nilai-nilai Anda dan itu tidak berjalan dengan baik untuk generasi Anda. Saya tidak akan menerimanya. Orangtua saya memiliki nilai-nilai itu dan mereka menganggur pada usia 54 tahun'," tutur dia. 

Di sisi lain, Welch menegaskan dirinya tidak menganggap nilai-nilai yang dianut kebanyakan Gen Z sebagai sesuatu yang salah.

Pekerja muda tidak perlu mengubah prinsip hidup mereka hanya demi menyesuaikan diri dengan dunia kerja.

"Jika mereka mempertahankan prinsip yang seharusnya mereka pertahankan tidak seorang pun boleh mengubahnya. Mereka harus memahami bahwa ada konsekuensinya dan tidak akan mendapatkan jenis pekerjaan yang mungkin telah dipersiapkan sesuai gelar sarjana mereka," ucap dia.

Baca juga: Dapat Rp 700 Ribu Hari, Andri Tak Malu Jualan Gorengan Meski Gen Z, Ternyata Teruskan Jejak Ayah

Beberapa perusahaan yang sempat berdiskusi dengannya mengaku, saat ini tengah berjuang mati-matian untuk mendapatkan 2 persen pekerja sesuai standar.

Berdasarkan data Federal Reserve New York pada akhir 2025, tingkat pengangguran lulusan baru di Amerika Serikat mencapai 5,7 persen atau sekitar 1,5 poin lebih tinggi dibanding kelompok usia lain.

Hal tersebut dipengaruhi perubahan struktural perusahaan ataupun perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia sempat bertemu seorang mahasiswi berbakat lalu kesulitan mendapatkan pekerjaan, kendati memiliki kemampuan akademik yang bagus.

Lulusan baru disarankan lebih membuka diri terhadap berbagai jenis pekerjaan serta tidak hanya terpaku pada jalur karier sesuai jurusan kuliah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.