TRIBUNSOLO.COM, BOYOLALI – Melambungnya harga minyak goreng subsidi MinyaKita di pasaran mulai dikeluhkan masyarakat hingga pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Boyolali.
Meski pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) sebesar Rp 15.700 per liter, kenyataannya harga MinyaKita di sejumlah pasar tradisional kini mencapai Rp 21 ribu per kemasan.
Kondisi tersebut membuat para pedagang kecil harus memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah naiknya biaya produksi.
Salah satunya dialami Sulami, pedagang sempol yang berjualan di kawasan pasar.
Ia mengaku terpaksa mengurangi jumlah tusukan dalam setiap porsi dagangannya demi menutupi kenaikan harga minyak goreng.
Baca juga: Pembuatan Rebana di Boyolali ini Hanya Gunakan Kulit Kambing Betina, Ini Alasannya
“Sebenarnya meresahkan kalau apa-apa naik. Kalau jualan, porsinya saja yang dikurangi untuk menutup harga yang mahal. Biasanya beli Rp10.000 dapat 20 tusuk, sekarang cuma bisa kasih 18 tusuk,” ujar Sulami.
Menurutnya, strategi mengurangi porsi menjadi pilihan paling memungkinkan karena ukuran sempol yang dijual sudah terlalu kecil untuk dikurangi lagi.
Tak hanya pedagang, kalangan ibu rumah tangga juga mulai beralih ke merek minyak goreng lain karena selisih harga dengan minyak premium dianggap sudah tidak terlalu jauh.
Lia, salah seorang warga Boyolali, mengatakan MinyaKita kini mulai ditinggalkan konsumen.
Selain harga yang melonjak, kualitas minyak dinilai kurang tahan lama untuk digunakan menggoreng berulang kali.
“Sekarang selisihnya cuma seribu rupiah sama merek premium seperti Fortune. Kalau premium buat goreng tiga kali masih aman, sedangkan MinyaKita cepat sekali hitam. Jadi orang mending nambah seribu tapi kualitasnya jelas lebih bagus,” katanya.
Kenaikan harga MinyaKita ini pun dikhawatirkan semakin membebani masyarakat kecil, terutama pelaku UMKM yang sangat bergantung pada minyak goreng untuk kegiatan usaha sehari-hari.
Baca juga: Jokowi di Solo Bantah Isu Dirinya Membeli NasDem Tower: Kelas Saya UMKM
(*)