Kisah Yuli Meliani Ajak Pelaku UMKM Kolaborasi di Gerai Sangsa Binaan BRI, Tak Pikir Profit Sendiri
Ariestia May 09, 2026 12:29 PM

Yuli Meliani bisa saja fokus pada bisnis dan meraup untung untuk dirinya pribadi. Namun, itu bukan jalan yang ia pilih. Berbekal pengalaman, Yuli justru aktif mengedukasi sambil berkolaborasi dengan pelaku usaha lainnya. Bahkan usaha dengan jenis produk yang mirip dengan miliknya.

SAMBAL Empat Sungai. Itulah merek produk kuliner milik Yuli Meliani yang dirintisnya sejak bertahun-tahun.

Sambal botolan yang kini terdiri dari lima varian rasa itu menjadi salah satu produk andalan yang dijual di Gerai Sangsa, Jalan Datuk Setia Maharaja, Pekanbaru.

Selain yang Original, Sambal Empat Sungai juga memiliki varian Sambal Teri, Sambal Cumi, Sambal Jambal dan Sambal Ikan Salai. Semua varian rasa ini diolah otentik sesuai selera masyarakat Melayu, Riau.  

Bukan tanpa alasan. Yuli memang ingin di Riau ada produk sambal kemasan yang khas seperti sambal dabu-dabu di Manado dan sambal ala Sunda di Jawa Barat.

Hal penting lainnya, bahan-bahan yang dipakai untuk mengolah sambal itu didapat dari petani lokal.

"Saya kerja sama dengan petani lokal. Karena saya juga mau memajukan ekonomi lokal. Makanya, dari hulu ke hilir, bahan baku yang dipakai produk-produk Gerai Sangsa adalah hasil petani maupun peternak lokal," kata Yuli kepada Tribun, Jumat (24/4) lalu.

Cabai untuk Sambal Empat Sungai merupakan hasil panen petani di Pekanbaru dan Kampar. Sementara, ikan salai yang jadi bahan salah satu varian sambal diambil dari pelaku usaha di Kampar.

Sementara, minyak yang dipakai adalah minyak kelapa yang lebih mahal dari minyak kelapa sawit. Minyak itu mereka olah sendiri dari kelapa petani lokal agar kualitasnya terjaga.  

Berkat kegigihannya itu, Sambal Empat Sungai semakin terkenal. Bahkan sampai ke mancanegara.

"Sambal ini sudah dijual di Kota Al-Wakrah, Qatar. Sekarang kami juga sudah kirim ke Kazakhstan, Dubai, hingga Zimbabwe. Kemarin sempat ada permintaan satu kontainer juga dari Jeddah. Tapi kita tidak bisa memenuhi karena waktu itu belum memiliki Certificate of Conformity," tuturnya.

Certificate of Conformity, kata Yuli, diterbitkan Mutu Internasional yang menunjukkan suatu produk diolah secara baik dan higienis.

Sejak 14 Januari 2026, CV Pangan Sari Jaya yang menaungi Gerai Sangsa sudah mengantongi sertifikat tersebut. Artinya, peluang ekspansi ke luar negeri semakin terbuka.
Berkolaborasi

Yuli tak mau raup untung sendiri. Ia ingin berdampak pada lingkungan sosialnya.

"Saya rasa, kalau hanya memikirkan profit untuk diri sendiri saja nggak berkah. Kenapa tidak teman-teman juga terlibat di gerai ini," ujarnya.

Makanya, selain produk yang ia hasilkan sendiri, Yuli juga merangkul pengrajin dan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lain terlibat di Gerai Sangsa. Kini, kurang lebih 400 jenis produk dapat diperoleh di gerai yang berdiri sejak 2018 itu.

"Di Gerai Sangsa ada keripik tempe sagu yang bahan bakunya banyak di Riau. Ada juga Melayu Crackers, kerupuk yang terbuat dari kulit ikan patin. Kita tahu, ikan patin banyak sekali di Riau," kata dia.

Lalu, ada Ayam Ungkep Ibu Yuli dan berbagai makanan beku lainnya. Ada kerupuk kulit ikan salmon, pisang kipas, madu dan gula merah hasil olahan petani-petani kelapa di Tembilahan, Indragiri Hilir.

Pada para petani penghasil gula merah itu, Yuli mendorong agar segera membuat sertifikat halal. 

"Alhamdulillah, 15 hari setelah sertifikat halal keluar, 36 ton gula merah dikirim ke Malaysia dari Tembilahan," tuturnya.

Selain makanan, Gerai Sangsa juga menjual produk kriya seperti kain tenun dan tanjak yang merupakan kekayaan Riau yang mesti diangkat. Dengan harapan, tradisi khas Riau itu semakin dikenal banyak orang.

Yuli juga menginisiasi kelompok UMKM penghasil produk sambal. Di situ, Yuli aktif mengedukasi pelaku usaha cara membuat kemasan yang baik agar sambalnya awet. Termasuk mengedukasi soal hak kekayaan intelektual atau HAKI, perusahaan perseorangan, paten dan sebagainya.

Dia juga mendorong pelaku UMKM sambal memakai bahan-bahan lokal. Karena dari sisi harga, harga cabai petani lokal biasanya lebih murah.

Yuli menganggap pelaku usaha lainnya sebagai saingan meski yang dijual sama-sama sambal. Justru ia ingin dengan pembinaan tersebut, UMKM penghasil sambal bisa lebih terakselerasi atau cepat berkembang.

Tidak masalah baginya bila produk UMKM lain berdampingan dengan produk sambal miliknya saat diperdagangkan di gerai maupun swalayan.

"Bagi saya tidak masalah. Kan saya punya pangsa pasar sendiri," tutur wanita berhijab ini.

Pelatihan

Seiring berjalan waktu, gerai yang namanya diambil dari Raja Melayu Sangsapurba ini melangkah maju. Salah satunya disokong lewat perhatian dan bantuan Bank BRI Pekanbaru.

"BRI sering memberi pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha. Contohnya digitalisasi dan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang saat ini sedang booming," tutur Yuli.

Bahkan, Yuli mengakui pelatihan AI perdana yang ia ikuti berasal dari BRI. Kepada Tribun, Yuli menunjukkan foto-foto produk yang ia hasilkan dengan sentuhan teknologi akal imitasi tersebut. Menurutnya, foto-foto yang kini ia pajang di dinding gerai itu sangat bagus.

BRI juga melatih para pelaku usaha di Gerai Sangsa cara mengemas produk yang baik. Gerai Sangsa kerap diajak mengikuti sejumlah event lokal maupun nasional. Seperti pameran-pameran dan program UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Guna memperluas jangkauan pasar, Gerai Sangsa juga dilibatkan dalam pelatihan pemanfaatan Localoka, platform e-commerce dan agregator pemasaran besutan BRI. Beberapa produk Gerai Sangsa juga ada yang dipajang di Menara BRI Lancang Kuning Jalan Jenderal Sudirman Pekanbaru.

Pihak BRI juga kerap memesan sejumlah produk dari Gerai Sangsa. Tak jarang, dari pesanan BRI itu, Yuli mengajak pelaku UMKM lain untuk terlibat. Terutama bila produk pelaku usaha tersebut sesuai dengan permintaan pihak BRI.

Untuk membantu pelaku UMKM, BRI menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pinjaman-pinjaman mikro tanpa agunan.

"Beberapa mitra Gerai Sangsa ada yang mendapat bantuan KUR BRI," katanya. Sejumlah mitra lainnya ada juga yang menerima bantuan peralatan.
Klaster

Sebelumnya, Widia Apriani, Department Head Ultra Micro BRI Region 2 Pekanbaru menjelaskan bahwa Gerai Sangsa adalah Klaster Usaha binaan BRI dalam Program Klasterku Hidupku.

Menurutnya, Klaster Usaha merupakan kelompok usaha yang terbentuk berdasarkan kesamaan kepentingan, kondisi lingkungan dan/atau keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota.

Klaster Usaha itu memiliki tiga kriteria. Yaitu jumlah pelaku usaha yang terkumpul minimal 8 orang, bisa sudah atau belum terbentuk asosiasinya. Bila belum, menjadi tugas Mantri BRI untuk membentuknya.
Klaster Usaha juga memiliki kesamaan wilayah antarpelaku usaha. Seperti RT, RW, desa, dan pasar. Bisa juga kesamaan wilayah yang terikat pada perjanjian kerja sama dengan perusahaan inti atau plasma.

Kriteria ketiga, memiliki usaha atau komoditas sejenis.

Menurut Widia, Gerai Sangsa merupakan nasabah BRI dan sering bekerja sama melalui kegiatan pemberdayaan. Di samping itu, kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pelatihan sebagai upaya peningkatan kapasitas usaha dan mutu produk. (Tribunpekanbaru.com/Hendra Efivanias)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.