Tabiat Ashari Pengasuh Ponpes Tersangka Pencabulan di Pati Dibongkar Tetangga, Jarang Srawung Warga
Musahadah May 09, 2026 01:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Terungkap tabiat Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo di Pati yang menjadi tersangka pelecehan seksual santriwati, 

Ternyata, Ashari yang sebelumnya dikenal sebagai tabib atau dukun sebelum mendirikan pondok pesantren ini tergolong tertutup kepada warga sekitar. 

Anwar, tetangga Ashati mengakui selama ini tidak pernah mendengar adanya persoalan di dalam pesantren sebelum kasus tersebut mencuat dan memicu aksi massa.

Ia menuturkan, sosok Ashari dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga sekitar.

Meskipun dikenal sebagai sosok yang baik, Ashari disebut jarang bersosialisasi atau "srawung" dengan masyarakat setempat.

Baca juga: Masa Lalu Ashari Pengasuh Ponpes Tersangka Cabuli Santri di Pati, Bukan Kiai tapi Dukun Rawat Yatim

“Ya baik, tapi tidak pernah srawung (bergaul). Tertutup terus. (AS) biasanya terlihat hanya saat pengajian bersama santri,” ungkap Anwar, pemilik toko kelontong tepat di sebelah pondok pesantren putri

Menurut Anwar, para santri yang menimba ilmu di sana berasal dari berbagai daerah, bahkan hingga luar pulau.

"Ada yang dari Kudus, Jakarta, kemudian juga ada yang di Kalimantan setahu saya," pungkasnya.

Berdasarkan pantauan Kompas.com di lokasi pada Sabtu (9/5/2026), tidak terlihat lagi aktivitas pengajian atau rutinitas santri seperti biasanya.

Hanya tampak kendaraan warga sekitar yang sesekali melintas di depan bangunan pesantren.

Anwar  mengungkapkan perubahan drastis ini terjadi dalam enam hari terakhir.

“Baru enam hari ini sepi. Santri kemarin sudah pulang semua, sekarang sudah tidak ada,” ujar Anwar saat ditemui di tokonya, Sabtu (9/5/2026).

Kekecewaan dan kekhawatiran pihak keluarga membuat hampir seluruh santri dievakuasi dari pondok.

Bukan Kiai tapi Dukun

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, Abdul Ghaffar Rozin, mengungkap masa lalu Ashari. 

Ditegaskan bahwa Ashari bukan lah seorang kiai seperti yang dilabelkan selama ini.

Ashari juga bukan pengasuh pesantren di bawah naungan NU.

Berdasarkan penelusuran PWNU Jateng, sosok Asyhari sebenarnya adalah seorang tabib atau dukun yang membuka praktik ritual penyembuhan dan kemudian mendirikan lembaga pendidikan.

“Dia itu sebetulnya bukan kiai. Dia tabib, dukun. Ini yang perlu kita klarifikasi sebetulnya yang di mana-mana itu disampaikan sebagai kiai,” tegas Rozin saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (8/5/2026).

• Nasib Pilu Korban Pelecehan Seksual Kiai Ashari di Pati, Masih Nangis, Jijik dan Takut Jelang Nikah

Rozin menduga pelaku merasa percaya diri tidak akan tersentuh hukum karena memiliki jaringan klien yang luas dari berbagai kalangan, termasuk diduga dari unsur aparat.

Banyak masyarakat yang mendatangi pelaku untuk meminta doa atau menjalani ritual pengobatan tertentu.

“Kliennya bermacam-macam, mungkin juga ada dari aparat. Hal ini yang mungkin membuat yang bersangkutan percaya diri untuk tidak tersentuh hukum,” tuturnya.

Lebih lanjut, Rozin memastikan bahwa Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ndolo Kusumo milik pelaku bukan merupakan bagian dari Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU).

Sebagai informasi, RMI adalah badan otonom PBNU yang menaungi sekitar 4.000 pesantren di Jawa Tengah.

“Pesantren itu bukan anggota RMI NU. Ini penting agar publik tidak menggeneralisasi seluruh pesantren akibat kasus individu ini,” kata Rozin yang juga pernah menjabat sebagai Ketua RMI PBNU periode 2015-2021.

Pertanyakan Izin dari Kementerian Agama

Terkait status lembaga pendidikan tersebut, Rozin turut mempertanyakan mekanisme pemberian izin pesantren dari Kementerian Agama (Kemenag).

Ia menyebut awalnya pelaku hanya membuka rumah yatim piatu gratis yang kemudian berkembang menjadi sekolah.

“Saya sendiri tidak tahu bagaimana ceritanya rumah yatim ini mendapatkan izin pesantren. Mungkin Kemenag bisa menjawab hal ini,” ujarnya.

Mengenai proses hukum, Rozin menyayangkan lambannya penanganan di Polresta Pati.

Meski keluarga korban telah melapor sejak 2024 dengan pendampingan LBH Ansor, kasus ini baru mencuat kembali setelah viral di tahun 2026.

“Saya harap pelaku dihukum seberat-beratnya dan dalam proses hukum dia harus mengakui kalau dia bukan kiai,” pungkas Rozin.

Kemenag akan Cabut Izin

DITANGKAP - Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Pati yang jadi tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati, akhirnya ditangkap polisi di Wonogiri setelah sempat buron.
DITANGKAP - Ashari, pengasuh Ponpes Ndholo Kusumo Pati yang jadi tersangka kasus dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati, akhirnya ditangkap polisi di Wonogiri setelah sempat buron. (Surya.co.id/Satreskrim Polres Pati)

Terpisah, Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menegaskan, Kemenag akan mencabut tanda daftar (Ijop) Pesantren Ndolo Kusumo imbas kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oleh salah satu oknum kiai.

"Sejalan dengan proses afirmasi terhadap para santri, Kemenag juga akan mencabut tanda daftar (Ijop) Pesantren Ndolo Kusumo, Tlogosari, Tlogowungu, Kabupaten Pati," kata Basnang, dalam keterangan resminya, Selasa (5/5/2026).

Basnang menambahkan, pihaknya bersama Kanwil Kemenag Jawa Tengah sudah mengunjungi ponpes tersebut untuk memberikan pendampingan sekaligus mengambil langkah yang diperlukan.

Kemenag mengambil keputusan untuk memindahkan para santri ke sejumlah lembaga, baik itu pesantren, sekolah, atau madrasah.

Perpindahan ini dilakukan agar pendidikan para santri terus berlanjut meski proses hukum kasus tersebut masih bergulir.

"Kami akan pindahkan para santri agar bisa melanjutkan sekolah di lembaga pendidikan yang ada di Kabupaten Pati," kata Basnang.

Selain para santri, Kemenag juga akan memproses kepindahan Khusus Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan ke madrasah atau sekolah binaan Kementerian Agama dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pati.

Adapun, santri Ndolo Kusumo berjumlah 252 anak.

Sebanyak empat santri masih belajar di tingkat Raudlatul Athfal.

Ada 89 sembilan santri tingkat Madrasah Ibtitadiyah dan 30 anak di antaranya kelas 6 yang sudah mengikuti ujian dari 4-12 April 2026.

Lalu, ada 91 santri yang belajar di Sekolah Menengah Pertama, 50 santri di Madrasah Aliyah, dan 8 santri tidak sekolah atau hanya mondok.

Mereka semua tinggal atau mukim di pesantren.

"Seluruh santri Ndolo Kusumo yang mukim di pesantren, sudah dipulangkan ke rumah masing-masing pada 2 dan 3 Mei 2026," ucap Basnang.

Ada enam lembaga pendidikan yang akan menjadi tujuan kepindahan para santri Ndolo Kusumo, yakni:

  • MI Khoiriyatul Ulum Sitiluhur, Gembong, Kab. Pati
  • MI Matholiun Najah Tlogosari, Tlogowungu, Kab. Pati
  • SMP Al-Akrom Banyuurip, Margorejo, Kab. Pati
  • MA Al-Akrom Banyuurip, Margorejo, Kab. Pati
  • MA Assalafiyah Lahar, Gembong, Kab. Pati
  • MA Khoiriyatul Ulum Trangkil, Kab. Pati.  (kompas.com/tribun jateng)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.