TRIBUNPAPUABARAT.COM, BINTUNI - Paguyuban Keluarga Wong Jowo (Pakuwojo) Kabupaten Teluk Bintuni merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-14 dengan mengusung tema “Guyub Rukun Mbangun Karyo, Manunggal Ing Roso” yang berarti guyub rukun membangun karya dan bersatu dalam rasa.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pondopo Pakuwojo, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, Sabtu (9/5/2026), dan dihadiri pengurus, anggota paguyuban, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Pakuwojo, Syamsul Huda, mengatakan momentum HUT ke-14 sekaligus suasana tahun 1447 Hijriah menjadi kesempatan penting untuk memperkuat solidaritas sosial antarwarga, meningkatkan kepedulian terhadap sesama, serta mempererat hubungan organisasi dengan masyarakat maupun pemerintah daerah.
“Saya mengajak seluruh keluarga besar Pakuwojo untuk terus menanamkan nilai-nilai persatuan, kerukunan, dan persaudaraan sebagai pondasi utama organisasi kita. Perbedaan pendapat, pandangan, maupun latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk berpecah belah,” ujarnya.
Baca juga: Polda Papua Barat Dorong Petani Milenial OAP Lewat Program Jagung di Masni
Menurut Syamsul, keberagaman justru menjadi kekuatan dalam mempererat solidaritas dan rasa saling memiliki di antara seluruh anggota.
Ia menegaskan bahwa Pakuwojo didirikan bukan untuk kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu, melainkan sebagai rumah besar bersama yang menjunjung tinggi semangat gotong royong, musyawarah, dan kekeluargaan.
“Pakuwojo hadir bukan hanya untuk masyarakat Jawa, tetapi juga harus bersinergi bersama seluruh komponen masyarakat dan suku-suku yang ada di Teluk Bintuni,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Syamsul Huda juga menyinggung dinamika organisasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, khususnya terkait kepengurusan karteker.
Ia menegaskan bahwa kepengurusan karteker bersifat sementara dan bertugas menjalankan masa transisi organisasi, hingga terbentuk kepengurusan definitif melalui mekanisme musyawarah sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi.
“Karteker tidak boleh dijadikan alat untuk memperpanjang konflik ataupun memperuncing perbedaan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: BEM Pertanian se-Indonesia Diskusi Swasembada Pangan dengan Mentan Amran di Jakarta
Ia menjelaskan bahwa Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar pada 9 September 2024, belum berhasil menetapkan kepengurusan definitif karena fokus pada perbaikan AD/ART organisasi. Upaya pelaksanaan Musda kembali dilakukan pada 2025, namun belum terlaksana secara maksimal akibat kendala kepanitiaan.
Meski demikian, Syamsul berharap Musda yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat dapat berjalan dengan baik, lancar, dan menghasilkan kepengurusan definitif yang mampu membawa organisasi semakin maju.
“Saya yakin dan percaya, ketika kita mengedepankan hati, rasa persaudaraan, dan meninggalkan ego pribadi, maka semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik,” ucapnya.
Di akhir sambutannya, Syamsul Huda berharap di usia ke-14 tahun, Pakuwojo semakin dewasa, solid, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat maupun daerah di Kabupaten Teluk Bintuni.
“Semoga Pakuwojo tetap jaya, rukun, dan menjadi perekat persaudaraan bagi seluruh anggotanya,” tutupnya. (*)