TRIBUNSUMSEL.COM - Di balik duka mendalam atas berpulangnya dr. Myta Aprilia Azmy, terselip secercah harapan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Seperti diketahui, dr. Myta Aprilia Azmy meninggal dunia diduga akibat beban kerja berat saat menjalani program internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi pada Sabtu (2/5/2026).
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memastikan masa depan pendidikan adik kandung almarhumah akan terjamin melalui beasiswa penuh hingga menyandang gelar dokter.
Adik dr. Myta yang saat ini tengah menempuh studi di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri) menjadi perhatian khusus Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin.
Baca juga: Myta, Dokter Internship Meninggal Dipaksa Kerja Tanpa Libur, Ahmad Sahroni: Penyalahgunaan Wewenang
Beasiswa ini diberikan agar putri kedua keluarga tersebut dapat menyelesaikan pendidikannya tanpa kendala biaya dan meneruskan jejak pengabdian sang kakak.
“Jadi memang adiknya juga di Fakultas Kedokteran Unsri belum selesai, dan ayah almarhumah ini baru kena stroke. Kemenkes memahami kondisi tersebut,” ujar Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, dalam konferensi pers di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (7/5), dilansir dari Tribunnews.com.
Mantan Dirut Bank Mandiri ini menuturkan, beasiswa kepada adik dr. Myta ini diberikan sampai selesai pendidikan kedokteran.
“Anak beliau yang kedua ini masih kuliah di FK Unsri. Kami Kementerian Kesehatan memutuskan untuk memberikan beasiswa kepada putri kedua beliau, sehingga lulus, untuk bisa meneruskan kakaknya yang sudah jadi dokter,” lanjut Budi.
Selain fokus pada pendidikan sang adik, Kemenkes juga memberikan bantuan medis bagi ayah almarhumah yang saat ini sedang berjuang pulih dari serangan stroke.
Seluruh proses kontrol kesehatan dan pengobatan akan difasilitasi secara berkala di rumah sakit milik Kemenkes yang berada di Palembang.
Langkah ini diambil sebagai bentuk empati negara terhadap keluarga tenaga medis yang gugur saat bertugas.
"Kemenkes memahami kondisi keluarga, terutama karena sang ayah baru saja terkena stroke. Kami pastikan pendampingan kesehatan berjalan stabil di Palembang," tambah Menkes.
Baca juga: Kemenkes Ancam Bekukan RSUD, Jika Terbukti Ada Kelalaian Atas Wafatnya dr Myta Aprilia
Tragedi ini menjadi momentum penting bagi Kemenkes untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem pendidikan kedokteran di rumah sakit, terutama terkait beban kerja berlebih dan praktik perundungan.
Menkes menegaskan bahwa kejadian ini harus menjadi titik balik perbaikan lingkungan kerja bagi dokter muda di Indonesia.
Lebih lanjut, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengultimatum jangan sampai ada kasus pemaksaan dan kekerasan atau perundungan dalam setiap tahapan pendidikan profesi setelah sarjana kedokteran.
"Jadi, perbaikan budaya kerja, pembelajaran, pemahiran pendidikan yang terjadi di rumah sakit untuk dokter-dokter muda kita, baik yang itu koas, internship, maupun PPDS, harus tidak ada lagi pembullyan, pemerasan, pemaksaan," ujar Budi.
Budi menyatakan pihaknya akan bertindak tegas dan terus berupaya untuk menghapuskan budaya-budaya yang lama dan buruk dalam sistem pendidikan dokter di Indonesia.
Dalam kasus dr. Myta, Budi mengungkap pihak Kemenkes RI membentuk tim investigasi untuk mengusut adanya dugaan tekanan kerja tinggi dan minimnya perlindungan bagi dokter muda.
Sejumlah pihak yang terkait pun digandeng, seperti alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (FK Unsri), almamater Myta.
Baca juga: Keluarga dr Myta Dukung Investigasi Kemenkes RI, Ini Curhat Terakhir Soal Jadwal Jaga Padat di Jambi
Pembentukan tim investigasi ini seperti yang dilakukan Kemenkes RI saat menangani kasus meninggalnya mahasiswa PPDS Universitas Diponegoro (Undip), dr. Aulia Risma Lestari, yang diduga mengakhiri hidup karena dirundung pada Agustus 2024 lalu.
"Untuk itu, sama seperti yang kita lakukan di Semarang waktu ada mahasiswa PPDS meninggal, kita sudah membentuk tim investigasi yang lengkap, terdiri dari Inspektorat Jenderal, Dirjen SDM Kesehatan, juga Dirjen Layanan Kesehatan yang pegang seluruh rumah sakit," jelas Budi.
"Kita ajak juga teman-teman dari IDI lokal, kita ajak juga dari PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), dan juga kita ajak Ikatan Alumni Universitas Sriwijaya Fakultas Kedokteran, karena itu yang pertama kali menulis surat resmi."
"Tim ini tidak hanya memeriksa laporan secara normatif dari rumah sakit dan dinas kesehatan bersangkutan, tapi juga saya minta khusus untuk langsung bertemu dengan seluruh dokter internship yang berinteraksi dengan yang bersangkutan, supaya semua informasinya kita dapat secara lengkap, terbuka, objektif, dan transparan."
Sebelum meninggal dunia, dr Myta sempat mendapatkan perawatan di Kuala Tungkal dan dirujuk ke rumah sakit di Provinsi Jambi.
Saat itu, kondisinya disebut sempat mengalami perbaikan, meski belum ada kejelasan terkait rekomendasi pemulangan.
Namun, setelah kembali ke Palembang, kondisi kesehatannya menurun dan harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUP Dr. Mohammad Hoesin selama kurang lebih tiga hari.
dr Myta akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 1 Mei 2026, pukul 11.20 WIB.
Prosesi pemakaman dilaksanakan di pemakaman umum Simpang Pendagan, Kelurahan Pasar Muaradua, Kecamatan Muaradua, Kabupaten OKU Selatan, yang dihadiri keluarga dan kerabat dengan suasana haru.
Kepergian dr Myta tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap sistem kerja dan perlindungan bagi dokter internship di Indonesia.
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com