Gelaran Lebaran Depok 2026 yang berlangsung pada 5-9 Mei 2026 sukses mencuri perhatian masyarakat dan menjadi daya tarik wisata budaya. Bertempat di Alun-Alun Timur Grand Depok City, acara yang mengangkat tradisi Betawi ini diperkirakan menarik puluhan ribu pengunjung, dengan lonjakan tertinggi terjadi pada malam puncak akhir pekan.
Salah satu tradisi yang paling menyita perhatian adalah "Nyuci Perabotan" yang digelar pada Rabu, 6 Mei 2026. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan bersih-bersih, tetapi memiliki makna filosofis sebagai simbol penyucian diri dalam menyambut Idul Fitri.
Lintang Yuniar Pratiwi dari UPTD Tahura, selaku pengelola Alun-Alun Timur, menjelaskan bahwa tahun ini menjadi kali ketiga lokasi tersebut menjadi pusat perayaan Lebaran Depok.
"Nyuci perabot merupakan bagian dari rangkaian Lebaran Depok. Selain bermakna sukacita menyambut Idul Fitri, juga sebagai refleksi menyucikan diri. Membersihkan rumah dan perabot menjadi simbol bersuci diri," ujarnya.
Untuk mendukung pelaksanaan tradisi tersebut, panitia menyediakan pasokan air dari toren agar aktivitas tetap berjalan tanpa mengganggu operasional alun-alun.
Memasuki akhir pekan, antusiasme pengunjung terus meningkat. Data sementara menunjukkan jumlah kunjungan harian telah melampaui 5.000 orang. Bahkan, pada puncak acara Sabtu (9/5/2026), jumlah pengunjung diprediksi menembus 10.000 hingga 50.000 orang.
Hari puncak akan dimeriahkan berbagai kegiatan, mulai dari arak-arakan (pawai) sejak pagi hingga penampilan grup musik Wali Band pada pukul 21.00-22.30 WIB yang dipastikan menjadi magnet utama.
Guna memastikan kelancaran acara, pihak pengelola bekerja sama dengan berbagai dinas dan instansi terkait. Pengamanan diperkuat, termasuk dukungan petugas tambahan dari alun-alun lain serta pendataan panitia dan pelaku UMKM yang menginap di area acara.
Namun, pengunjung diimbau untuk memperhatikan akses dan transportasi. Pada malam puncak, sebagian ruas jalan di kawasan GDC akan ditutup untuk mendukung jalannya pawai dan mengurai kepadatan.
"Pengunjung disarankan menggunakan transportasi umum agar tidak kesulitan parkir, mengingat potensi lonjakan massa sangat besar," tambah Lintang.
Selain itu, pengelolaan kebersihan dan sanitasi juga menjadi perhatian utama. Volume sampah yang meningkat diantisipasi melalui kerja sama dengan petugas kebersihan dari DLHK. Para pelaku UMKM pun diwajibkan menyediakan kantong sampah di setiap booth.
Untuk kenyamanan pengunjung, pengelola juga menambah fasilitas toilet portabel di sejumlah titik strategis, lengkap dengan pompa air untuk memastikan pasokan air tetap lancar meski digunakan secara intensif.
Menutup pernyataannya, Lintang menegaskan komitmen untuk terus menjadikan alun-alun sebagai pusat aktivitas warga sekaligus ruang pelestarian budaya lokal.
"Filosofi alun-alun adalah pusat kegiatan masyarakat. Kami ingin menjaga fasilitas tetap optimal sekaligus membangun kolaborasi agar semua pihak turut menjaga kawasan ini bersama-sama," pungkasnya.





