Penyebab Cuaca Ekstrem pada Mei 2026, Sejumlah Wilayah Hujan Lebat saat Sore Padahal Siang Terik
Ani Susanti May 09, 2026 02:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Fenomena cuaca unik terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada awal Mei 2026.

Di tengah mulai menguatnya musim kemarau akibat Monsun Australia, sejumlah daerah justru masih diguyur hujan lebat hingga ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap alasan mengenai hal ini.

Itu seperti yang terlihat dari informasi di laman resminya.

BMKG menjelaskan, penguatan Monsun Australia membawa massa udara kering yang menyebabkan tutupan awan berkurang pada pagi hingga siang hari.

Kondisi tersebut membuat radiasi matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal sehingga memicu peningkatan suhu udara di berbagai wilayah.

Pada periode 4 hingga 6 Mei 2026, suhu maksimum lebih dari 35,0°C hingga 37,1°C tercatat di beberapa daerah, seperti Jawa Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Papua Barat, dan Sumatera Utara.

Tingginya suhu udara tersebut memicu pola konvektivitas atmosfer yang cukup signifikan. Akibatnya, pertumbuhan awan hujan meningkat pada sore hingga malam hari meskipun sejumlah wilayah mulai memasuki masa peralihan menuju musim kemarau.

Wilayah dengan Curah Hujan Tertinggi

BMKG juga mencatat hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem masih terjadi pada periode yang sama.

Curah hujan tertinggi tercatat di Jawa Barat mencapai 159 mm per hari. Selain itu, hujan ekstrem juga terjadi di Kalimantan Barat sebesar 131,8 mm per hari, Banten sebesar 129,0 mm per hari, Sulawesi Tenggara sebesar 129,8 mm per hari, serta Jawa Tengah sebesar 120,0 mm per hari.

Wilayah lain yang turut mengalami hujan lebat meliputi DKI Jakarta, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Riau, dan Jambi.

Menurut BMKG, kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah fenomena atmosfer global dan regional. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, serta Mixed Rossby-Gravity (MRG) terpantau aktif secara bersamaan.

Selain itu, keberadaan Siklon Tropis Hagupit di utara Papua turut memperkuat potensi pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

Baca juga: Daftar Wilayah Indonesia yang Mulai Masuk Musim Kemarau Mei 2026 Versi BMKG

Dalam sepekan ke depan, Monsun Australia diprakirakan semakin menguat.

Dominasi angin timuran diprediksi membawa massa udara dengan kandungan uap air lebih rendah dari Australia menuju Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tanda bahwa beberapa wilayah mulai memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.

Meski demikian, BMKG menilai potensi hujan masih tetap tinggi di sejumlah daerah akibat fenomena atmosfer tropis yang masih aktif.

MJO diperkirakan berada pada fase 2 dan bergerak menuju fase 3 di wilayah Samudra Hindia.

Aktivitasnya diprediksi memengaruhi sebagian besar wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Sabtu 9 Mei 2026, Pagi Berawan, Siang hingga Sore Cerah Terik

Gelombang Kelvin juga diprediksi aktif di pesisir timur Sumatera, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua.

Sementara Gelombang Rossby Ekuatorial diprakirakan aktif di sebagian wilayah NTT, Sulawesi bagian selatan, Maluku, dan pesisir barat Papua.

 Selain faktor global tersebut, aktivitas Siklon Tropis Hagupit diprediksi masih memengaruhi cuaca Indonesia dalam 48 jam ke depan.

Siklon ini diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum mencapai 35 knot dan tekanan udara minimum 1000 hPa, serta bergerak ke arah barat di sekitar Samudra Pasifik utara Papua Nugini.

BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang pada sore hingga malam hari, meskipun cuaca panas masih dominan terjadi pada siang hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.