TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Kelangkaan dan antrean panjang Bahan Bakar Minyak (BBM), subsidi jenis Bio Solar di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah kembali menuai sorotan masyarakat.
Tidak hanya soal sulitnya mendapatkan solar, warga juga ramai menyoroti dugaan praktik pungutan liar (pungli) hingga premanisme yang disebut terjadi di area antrean SPBU.
Keluhan itu ramai bermunculan di media sosial, terutama setelah video antrean kendaraan di sejumlah SPBU viral di Instagram.
Salah satu akun media sosial bernama RonyTokyo, menuliskan komentarnya dengan nada kecewa.
"Percuma jga viral gk bakal ditindak....rata? pemain nya ya orng bersragam.....," tulisnya.
Komentar serupa juga datang dari akun ferry.co2 yang menyinggung dugaan adanya biaya tambahan saat membeli BBM.
"Hanya di Kalimantan beli minyak bayar parkir sama bayar tips petugas yg ngisi," tulisnya.
Sorotan lebih tajam disampaikan akun @dinaasurus yang menyebut praktik dugaan pungli hingga aktivitas pelangsir solar subsidi sudah berlangsung lama.
"Jangan hanya diam tutup mata dan telinga seolah olah tidak tau kalau di 3 SPBU Sampit banyak premanisme pungli di antrian solar subsidi bio solar. Kasus ini sudah belasan tahun terjadi gak mungkin kalian para aparat tidak tau," tulis akun tersebut.
Akun itu juga meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap dugaan praktik yang merugikan masyarakat tersebut.
Sementara akun lainnya mengajak masyarakat terus menyuarakan kondisi di lapangan.
"Mari viralkan. Bergerak menuju pusat, posting video antrean di setiap SPBU. Rakyat jangan takut mengkritik kejadian di lapangan," tulis akun @megah_jaya_abadi.
Di tengah ramainya keluhan masyarakat, kondisi antrean BBM di Sampit pada Sabtu (9/5/2026) siang terpantau relatif lebih lancar dibanding hari-hari sebelumnya.
Pantauan di SPBU Jalan MT Haryono dan SPBU Pelita menunjukkan antrean kendaraan tidak sepanjang biasanya.
Namun kondisi itu disebut bukan karena distribusi BBM membaik, melainkan stok solar subsidi sedang kosong sehingga banyak truk angkutan memilih menunggu pengisian ulang.
Terlihat sejumlah sopir truk tampak memarkir kendaraannya di sekitar SPBU sambil berharap mobil tangki Pertamina segera datang.
Salah seorang sopir truk bernama Anto mengaku sudah beberapa jam menunggu untuk mendapatkan solar.
“Saya mau isi solar, tapi katanya stok habis. Jadi terpaksa nunggu lagi pengiriman dari pihak SPBU,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi seperti ini bukan pertama kali terjadi dan sangat mempengaruhi aktivitas para sopir angkutan.
Baca juga: Meski Stok Ditambah, Antrean BBM di Palangka Raya Masih Panjang, Pelajar dan Guru Ikut Mengeluh
Baca juga: Masalah BBM di Kalteng, ini Pesan Penting dan Permintaan DPD RI Teras Narang ke Pertamina dan Pemda
Sulitnya mendapatkan BBM subsidi disebut membuat biaya operasional kendaraan melonjak.
Di sisi lain, distribusi barang juga ikut terdampak karena kendaraan angkutan harus menghabiskan waktu berjam-jam di antrean SPBU.
Akibatnya, harga kebutuhan pokok dan barang distribusi dikhawatirkan ikut terdampak apabila kondisi tersebut terus berlangsung.