TRIBUN-MEDAN.com - Tarif fantastis dibalik motif nekatnya para pelaku praktik joki Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) capai ratusan juta.
Berdasarkan hasil pemeriksaan Polrestabes Surabaya terhadap 14 tersangka yang telah diamankan, mayoritas pelaku mengaku terdesak faktor ekonomi.
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfi Sulistiawan, mengungkapkan bahwa para pelaku umumnya berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Upah besar dari hasil menjoki menjadi daya tarik utama untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu keluarga.
“Karena memang keterbatasan dana dan memang yang dia dapatkan ini adalah untuk memenuhi kebutuhan dia termasuk membantu juga ke keluarga,” tutur Luthfi dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2026).
Baca juga: Baru Pulang Piket, Brigadir Arya Supena Tewas Diduga Ditembak Pencuri Motor
Tarif Fantastis hingga Ratusan Juta Rupiah
Praktik ilegal ini ternyata memutar uang dalam jumlah yang sangat besar. Untuk satu kali order jasa joki UTBK, tarif yang dipatok kepada peserta berkisar antara Rp 500 juta sampai Rp 700 juta.
Nilai tersebut nantinya dibagi-bagi kepada anggota sindikat di setiap klaster.
Khusus untuk penjoki lapangan yang bertugas mengerjakan soal secara langsung, mereka biasanya menerima upah sebesar Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per ujian.
Namun, angka ini bisa melonjak drastis jika targetnya adalah universitas ternama.
Baca juga: Real Madrid Denda Valverde dan Tchouameni Rp 10 Miliar, Keduanya Menyesal Terlibat Perkelahian
“Untuk kampus favorit, upah penjoki bisa sampai Rp 75 juta," jelas Luthfi.
Beroperasi Sejak 2017 dan Gunakan Peralatan Canggih
Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa aksi sindikat ini diduga telah berlangsung cukup lama, yakni sejak periode 2017 hingga 2026, sebelum akhirnya terbongkar pada 21 April 2026 lalu.
Dalam menjalankan aksinya, mereka menggunakan peralatan profesional untuk memalsukan identitas peserta agar lolos dari pemeriksaan pengawas.
Baca juga: Kronologi Brigadir Arya Supena Ditembak Pencuri Motor, Polisi Selidiki Identitas Pelaku
Sejumlah barang bukti telah disita oleh petugas, di antaranya:
Luthfi menegaskan pihaknya berkomitmen untuk membongkar jaringan ini hingga ke akar-akarnya, termasuk mengejar para peserta ujian yang terbukti menyewa jasa mereka.
"Kita harus bongkar jaringan joki ini supaya tidak mencederai dunia pendidikan kita," tegasnya.
(tribun-medan.com)
Sumber: kompas.com