"Penghasilanmu Nggak Ada Apa-apanya" Badut Jalanan Nekat Habisi Mertua dan Lukai Istri
rival al manaf May 09, 2026 03:11 PM

TRIBUNJATENG.COM - S (42) pria yang bekerja sebagai badut jalanan dan penjual mainan nekat menghabisi mertua dan menganiaya istrinya.

Dendamnya memuncak dan akhirnya meledak pada Rabu (6/5/2026) pagi. Semua dipicu masalah rumah tangga yang terus bertambah setiap hari.

Kini ia jadi tersangka kasus pembunuhan ibu mertua sekaligus penganiayaan istri di Mojokerto. 

S mengaku nekat melakukan aksi brutal karena dipicu rasa sakit hati terhadap istrinya berinisial SW (35).

Baca juga: Kebutuhan Dokter di Jawa Tengah masih tinggi, Tantangan Kesehatan Makin Kompleks

Baca juga: Kisah Beno dan Jumiatun, Pasutri asal Pati Berniat Jualan Kasur ke Medan, Kini Jadi Korban Bus ALS

 

Diketahui, kasus pembunuhan mertua dan penganiayaan istri ini terjadi di rumah kontrakannya Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Rabu (6/5/2026) pagi.

Usai kejadian, tersangka sempat kabur sebelum akhirnya ditangkap polisi di kawasan Asemrowo, Surabaya, pada hari yang sama sekitar pukul 14.00 WIB.

Saat menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polres Mojokerto, tersangka beberapa kali menangis saat menceritakan kehidupan rumah tangganya.

Ia mengaku sudah lama mengetahui dugaan perselingkuhan istrinya, namun memilih diam hingga akhirnya emosinya memuncak.

"Istri saya selingkuh Pak Polisi, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama cuma saya ikuti alurnya. Tapi semakin dibiarin malah seperti itu," ujar S di hadapan penyidik, Jumat (8/5/2026), dilansir dari TribunJatim.

Menurutnya, selama ini dirinya merasa tidak pernah dihargai sebagai suami meski bekerja keras setiap hari demi keluarga.

Tersangka mengaku mencari nafkah dengan menjadi badut sekaligus berjualan balon dan mainan anak di sepanjang jalur Bangsal-Mojosari, Mojokerto.

Tak jarang, ia bahkan harus berjalan kaki puluhan kilometer sambil mendorong sepeda ontel dan membawa anaknya yang masih berusia 3,5 tahun.

"Kok (korban) enggak lihat saya kerja, bawa anak kecil hujan-hujanan sampai panas kepanasan.

Saya sering jalan (berjualan) dari Mojosari sampai ke rumah, anak juga ikut karena tidak ada yang merawat," terangnya.

S mengaku terpaksa membawa anaknya setiap kali berjualan lantaran sang istri tidak mau mengurus jika semua kebutuhan rumah tangga belum terpenuhi.

Di sisi lain, penghasilannya sangat kecil dan tidak menentu. Dalam sehari, dirinya kadang hanya membawa pulang uang Rp 4.000 hingga Rp 25.000.

Namun sesekali saat ramai, ia pernah mendapat Rp 300.000-Rp 400.000 sehari.

Terkadang, sang istri bersedia merawat anak saat tidak ada kerja lembur. "Istri kalau katanya enggak lembur, mau momong anak. Cuma kerjanya tidak menentu, tidak jelas. Saya terakhir mengantar ke pabrik sablon," bebernya.

Tersangka juga mengaku sering dibanding-bandingkan oleh istrinya terkait penghasilan.

Ucapan yang dilontarkan kepadanya berkali-kali itu membuat S menyimpan dendam. "Sering bilang 'penghasilanmu dengan penghasilanku tidak ada apa-apanya', yang itu berulang. Dan kalau dinasehati, selalu bantah, lalu bilang 'tidak mencukupi tidak usah menasehati'," kata tersangka S.

Namun, konflik rumah tangga mereka disebut terus memburuk hingga berujung tragedi.

Meski memiliki berbagai alasan, tersangka mengaku menyesali tindakannya yang telah menghilangkan nyawa ibu mertuanya dan membuat istrinya mengalami luka berat akibat KDRT.

Kini, hal yang paling dipikirkannya adalah nasib anaknya yang masih kecil.

"Saya menyesal, tapi saya cuma kepikiran anak yang masih kecil," tutupnya. (*)

Sumber: kompas.com.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.