Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Imam Nawawi
TRIBUNJATIM.COM, LUMAJANG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur mencatat sebanyak 79 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang ditemukan selama 2026.
Hal itu berdasarkan akumulasi laporan Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Lumajang mulai Januari hingga April tahun ini.
Baca juga: Positif Narkoba, 31 Wisatawan Surabaya di Pantai Wediawu Malang Kini Jalani Rehabilitasi
"Kasus DBD dari januari sampai april 2026 total 79 kasus," ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Lumajang, dr Marshall, melalui pesan singkat WhatsApp, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, puluhan pasien yang terpapar penyakit tersebut sangat bervariasi usianya, mulai dari balita, anak hingga dewasa.
"Umur 1-4 tahun, satu kasus, umur 5-14 tahun 6 kasus, umur 15-44 tahun ada 11 kasus dan 44 tahun ke atas ada 5 kasus," kata Marshall.
Jumlah pasien yang ditemukan terserang penyakit akibat nyamuk aides aegypti tertinggi pada awal tahun.
Kata dia, pada Januari 2026, ada sebanyak 34 kasus.
Sementara pada Februari dan Maret 2026 jumlah kasus yang ditemukan justru mengalami penurunan signifikan, dan meningkat kembali pada April.
"Januari 34 (kasus), Februari 13 (kasus), Maret 9 (kasus) dan April 23 (kasus)," ungkap Marshall.
Sementara dari 23 kasus yang ditemukan pada April 2026 kemarin.
Marshall mengungkapkan, ada satu pasien sampai meninggal dunia akibat DBD, sebab kondisinya sudah terlalu parah.
"Jadi dari 23 kasus bulan April, 1 di antaranya meninggal dunia. Benar (parah) kondisinya sampai terjadi syok akibat DBD," ulasnya.
Marshall mengatakan, penyakit ini kadang tidak bisa diprediksi, sebab dapat menyebabkan efek syok yang berbahaya, bahkan mengakibatkan meninggal dunia.
"Tergantung dari kondisi kekebalan pasien dan tingkat virulensi virus DBD-nya," ulasnya.
Oleh karena itu, Marshall mengimbau kepada warga apabila mengalami demam selama tiga hari dan tidak kunjung turun, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
"Atau belum tiga hari demam tapi disertai dengan tambahan gejala yang berat seperti nyeri perut muntah."
"Segera periksa ke fasyankes tanpa harus menunggu tiga hari," bebernya.
Gejala DBD sebetulnya hampir menyerupai malaria, sebab setiap penderita juga akan mengalami demam.
"Yang membedakan kalau DBD adalah demam disertai dengan nyeri otot dan sendi serta dapat diserta perdarahan ringan seperti mimisan atau gusi berdarah," katanya.
Sementara penyakit malaria, lanjut Marshall, demam yang dialami pasien bersifat periodik, bisa setiap hari panas. tapi kadang dua hari sekali demamnya datang.
"Tergantung jenis malarianya. Dan malaria lebih mudah diketahui apabila pasien ada riwayat pernah berada/bekerja di daerah endemis malaria seperti di daerah perkebunan atau perhutanan di Papua, Kalimantan, dan lain-lain," tuturnya.