SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kasus joki dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 di Surabaya terungkap di dua kampus pelaksana, yakni Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Temuan tersebut kemudian berkembang hingga mengarah pada dugaan jaringan joki terorganisir yang kini ditangani Polrestabes Surabaya.
Ketua Umum Tim Penanggung Jawab Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2026, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT. mengatakan, panitia telah memperkuat sistem pengawasan sejak tahun lalu untuk mendeteksi berbagai bentuk kecurangan dalam UTBK.
Baca juga: Ternyata Joki UTBK Unesa Tak Berkutik karena Bahasa Madura, Nilai Tinggi dan Siasatnya Patah
Menurutnya, pengungkapan kasus di Surabaya menjadi bukti bahwa sistem pengawasan mulai berjalan efektif dalam menemukan praktik curang yang dilakukan secara sistematis.
“Peserta itu akan kami blacklist. Kemudian bagi pelaku joki yang masih tercatat sebagai mahasiswa aktif, bisa saja dikeluarkan dari kampus,” ujar pria yang menjabat sebagai Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) saat ditemui SURYA.co.id, di Gedung Rektorat Unesa, Sabtu (9/5/2026).
Ia menjelaskan, salah satu pengungkapan bermula dari temuan pihak Unesa saat pelaksanaan UTBK pada April lalu.
Sementara dugaan serupa juga ditemukan di UPNVJT dan kemudian dikembangkan oleh kepolisian.
Prof Eduart mengapresiasi langkah kampus pelaksana UTBK yang aktif melakukan pengawasan selama ujian berlangsung hingga berhasil menemukan indikasi kecurangan.
“Kami memberikan apresiasi kepada teman-teman di Unesa karena cukup konsisten mengawal pelaksanaan UTBK, sehingga ditemukan adanya kejahatan joki yang terorganisir,” katanya.
Panitia SNPMB bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, lanjutnya, akan memberikan sanksi tegas bagi seluruh pihak yang terlibat, baik peserta maupun mahasiswa aktif yang menjadi pelaku joki.
Sebelumnya, Polrestabes Surabaya membongkar sindikat joki UTBK yang melibatkan peserta, mahasiswa cumlaude, hingga aparatur sipil negara (ASN).
Polisi mengungkap modus yang digunakan antara lain pemalsuan identitas peserta dan penggunaan joki akademik untuk membantu peserta lolos ke program studi favorit di perguruan tinggi negeri.