Kisah Haru Petani Bawang Pinrang Bangkit, Hasil Tanam Diserap Program MBG
Ari Maryadi May 09, 2026 04:22 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG - Di sebuah sudut desa yang berada di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kisah tentang harapan dan kemandirian mulai tumbuh dari tanah yang sederhana. 

Diawali dari tujuh bedeng bawang merah di lahan sederhana Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua, harapan baru tumbuh bagi petani Pinrang.

Seorang petani, Anwar (56) membuktikan kerja kecil tak pernah sia-sia setelah panen perdana menghasilkan 218 kilogram bawang merah grade A yang langsung diserap Satuan Pelayana Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini mampu menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke akar rumput.

Di Pinrang, program ini berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Menghidupkan kembali peran petani lokal dalam rantai pasok pangan.

Berawal dari keresahan mitra SPPG yang susah mendapatkan bahan baku bahkan harus membeli dari luar kabupaten.  

Dikarenakan petani lokal belum mampu memenuhi semua permintaan tersebut.

Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Pinrang Andi  Tjalo Kerrang dan Koorwil BGN Pinrang Nining Angreani berinisiatif menggandeng pemerintah desa dan membentuk kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan bahan baku SPPG.

Kolaborasi lintas sektor ini kemudian juga menggandeng mitra SPPG Duampanua Pekkabata 02 dan SPPG Watang Sawitto 05, Arifain. 

Lahan seluas 30 are disiapkan oleh Kepala Desa Kaballangan, Kecamatan Duampanua. 

Sebuah bentuk dukungan nyata dari tingkat lokal. 

"Awalnya kaget karena saya dipercaya untuk memulai pilot project ini. Perasaannya campur aduk, karena inikan program prioritas Bapak Presiden," kata Anwar kepada Tribun-Timur.com, Sabtu (9/5/2026).

Dia mengatakan, di atas tanah itu, awalnya hanya tujuh bedeng yang dibuat untuk menanam bawang merah oleh Anwar. 

Sederhana, bahkan mungkin terlihat sepele. 

Namun di situlah harapan ditanam. 

"Percobaan pertama, kami tanam bibit bawang merah 18 kg  dengan kapasitas 7 bedeng. Alhamdulilah, menghasilkan sebanyak 218 kg bawang merah," ucapnya.

Dia menuturkan, hasilnya mengejutkan sekaligus membanggakan.

"Bawang merah yang tumbuh di 7 bedeng ini ternyata bawang merahnya padat, berwarna merah cerah, dan berukuran besar. Sebuah bukti bahwa tanah Pinrang mampu menghasilkan produk yang tidak kalah dari kabupaten lain," tuturnya.

Anwar mengatakan, Korwil, Satgas, dan mitra tidak hanya memberi arahan, tetapi juga turun langsung membantu. 

Sumber air disiapkan, bibit disediakan hingga kebutuhan alat disiagakan. 

Pak Anwar tidak lagi berjalan sendiri, ia ditemani oleh sistem yang mulai terbentuk.

"Mitra Pak Arifain membantu pengadaan sumber air. Sumur bor ini untuk antisipasi kemarau panjang. Supaya tidak kewalahan mengadakan air untuk penyiraman di kebun. Termasuk juga bibit bawang merah, pupuk, dan plastik mulsa untuk mengamankan gulma-gulma yang membandel di kebun," jawabnya.

Lebih penting lagi, hasil panen itu langsung diserap oleh SPPG Duampanua dan SPPG Watang Sawitto. 

Untuk pertama kalinya, rantai pasok itu berputar di dalam daerah sendiri dari petani lokal, untuk kebutuhan lokal. 

Bagi Pak Anwar, ini bukan sekadar hasil panen. 

Ini adalah kepastian.

"Hasilnya kami jual ke SPPG Pekkabata 02 dan SPPG Macorawalie 05 dan itupun masih butuh. Sementara yang kami punya itu terbatas. Sekarang kami tahu, apa yang kami tanam ada yang menunggu," ucapnya dengan rasa syukur.

Keberhasilan tujuh bedeng itu kini menjadi awal dari langkah yang lebih besar. 

Dengan penuh optimisme.

"Kami senang dengan program MBG ini. Ada ruang bagi kami untuk ikut membantu pasokan bahan baku. Terima kasih Bapak Presiden Prabowo Subianto. Dengan adanya program MBG ini, kami tidak ke sana ke mari untuk mencari pembeli," menjadi suara yang mewakili harapan banyak petani di sana.

Korwil Pinrang pun berharap, langkah kecil di Duampanua ini bisa menjadi pilot project bagi wilayah lain. 

Ia membayangkan setiap desa memiliki kekuatan yang sama—membangun ekosistem pangan yang mandiri, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.

"Dari lahan 30 are yang dipinjamkan Kepala Desa Kaballangan ini, akan menjadi titik awal atau pilot project di Duampanua. Yang tadinya 7 bedeng, saat ini ditambah 13 bedeng baru. Bukan hanya untuk meningkatkan produksi, tetapi juga untuk membuka peluang bagi lebih banyak petani agar ikut terlibat," tuturnya.

Nining menuturkan, setelah bawang merah, akan dilanjutkan dengan penanaman kangkung, buncis dan semangka.
 
"Sudah ada lahan yang disediakan Pak Desa Kaballangan. Setelah bawang merah ini, akan kami lanjutkan penanaman kangkung, buncis dan semangka," ujarnya.

Di tengah berbagai tantangan, kisah ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah kecil. 

Dari tujuh bedeng bawang merah, tumbuh sebuah keyakinan: bahwa ketika kepercayaan diberikan, masyarakat mampu menjawabnya dengan kerja dan hasil nyata.

Laporan wartawan Tribun-Timur.com Pinrang/Moh Faizal Lupphy S.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.