SURYA.co.id, SURABAYA - Kementerian Sosial (Kemensos) menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Sabtu (9/5/2026).
Kerja sama yang berlangsung di Gedung KH Saifuddin Zuhri UINSA itu memuat penguatan pengawasan dan pendampingan lembaga kesejahteraan sosial (LKS).
Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan kerja sama tersebut difokuskan pada monitoring dan evaluasi lembaga kesejahteraan sosial.
Lembaga tersebut meliputi mulai dari panti asuhan, panti lansia, hingga lembaga bagi penyandang disabilitas.
Baca juga: Satu Siswa Sekolah Rakyat Jombang Mundur, Dinas Sosial Cari Penggantinya Sesuai Ini
Harapannya, kolaborasi tersebut dapat menghasilkan lembaga yang profesional, taat prosedur, dan benar-benar menjadi tempat aman bagi masyarakat yang dilayani.
“Kita memang akan ada beberapa kerja sama dengan UINSA untuk beberapa kegiatan. Salah satunya monitoring dan evaluasi untuk lembaga kesejahteraan sosial,” kata pria yang akrab disapa Gus Ipul itu di sela acara.
Menurutnya, Kemensos ingin seluruh lembaga kesejahteraan sosial memiliki legalitas yang jelas, terakreditasi, dan dikelola sumber daya manusia yang memadai.
Selain itu, pengelolaan pendanaan lembaga juga harus transparan dan dapat diawasi bersama.
“Kami ingin lembaga-lembaga kesejahteraan sosial seperti panti asuhan, panti lansia, maupun lembaga untuk penyandang disabilitas berbenah agar mengikuti prosedur yang benar. Bagaimana mereka beroperasi, memiliki izin, dan terakreditasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, jangan sampai lembaga kesejahteraan sosial justru menjadi tempat yang tidak aman dan gagal memberikan rehabilitasi maupun pemberdayaan kepada penghuninya.
"Jangan sampai bukan melindungi, tetapi justru merusak masa depan mereka yang berada di sana,” katanya.
Dalam kerja sama itu, UINSA akan dilibatkan dalam pendampingan, monitoring, evaluasi, edukasi, hingga advokasi kepada pengelola lembaga kesejahteraan sosial.
Mahasiswa juga akan diterjunkan untuk membantu memastikan seluruh prosedur dan persyaratan dipenuhi.
Untuk tahap awal, program tersebut diterapkan lebih dahulu di Jawa Timur.
Gus Ipul menyebut UINSA dipilih sebagai mitra pertama karena dinilai memiliki sumber daya manusia yang memadai dan telah menjalin komunikasi dengan Kemensos sebelumnya.
“Nanti kami juga akan mencoba bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan pemerintah kabupaten/kota. Jadi ini kerja bersama antara Kementerian Sosial, gubernur, bupati, wali kota, dan pelaksanaannya menggandeng UINSA,” ujar mantan Wakil Gubernur Jawa Timur tersebut.
Dalam kesempatan yang berlangsung di acara Wisuda Uinsa ke-114 tersebut, Gus Ipul juga menyampaikan orasi ilmiah di hadapan para wisudawan UINSA.
Ia mengingatkan tantangan besar yang akan dihadapi generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, wisuda bukan garis akhir pendidikan, melainkan titik transisi dari pencari ilmu menjadi pemecah masalah dan pengemban tanggung jawab sosial.
“Wisuda adalah titik transisi dari mencari ilmu menjadi pengemban tanggung jawab, dari pembelajar menjadi pemecah masalah, dari individu yang disiapkan menjadi generasi yang akan menyiapkan masa depan bangsa,” tuturnya.
Gus Ipul mengingatkan, menjadi sarjana merupakan sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
Di tengah masih tingginya angka anak putus sekolah, para lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kepedulian sosial.
Ia mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan lebih dari 4 juta anak usia sekolah belum sekolah, putus sekolah, atau berpotensi putus sekolah. Karena itu, pemerintah menghadirkan program Sekolah Rakyat bagi keluarga miskin ekstrem.
Menurutnya, tantangan terbesar menuju Indonesia Emas 2045 bukan sekadar pembangunan ekonomi, melainkan ketimpangan kesempatan yang masih terjadi di masyarakat.
“Indonesia Emas bukan hanya proyek pembangunan, ia adalah proyek pembangunan manusia dan peradaban. Salah satu tantangan terbesar bangsa ini adalah ketimpangan akses terhadap masa depan. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama,” ujarnya.
Rektor UINSA Akhmad Muzakki mengajak para wisudawan menjawab tantangan masa depan dengan membangun “algoritma kebajikan” dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, perilaku dan jejak digital yang dibangun seseorang hari ini akan menentukan masa depannya di kemudian hari.
“Hidup itu soal algoritma. Apa yang kita lakukan hari ini akan membentuk algoritma kita di masa mendatang. Maka jangan bangun algoritma dengan kecerobohan,” ujarnya.
Ia mengingatkan para lulusan agar bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah mengunggah komentar negatif yang justru dapat merusak citra diri sendiri.
Selain itu, Prof Muzakki juga menekankan pentingnya kesiapan menghadapi tekanan dan tantangan di dunia kerja.
Menurutnya, lulusan dengan nilai akademik tinggi belum tentu berhasil jika tidak mampu bekerja di bawah tekanan.
“Bisa sukses tanpa tekanan itu tidak istimewa. Tapi begitu Anda tetap berkinerja baik dalam tekanan, itu baru top,” ujarnya.
Ia pun mengingatkan para wisudawan bahwa kehidupan setelah lulus akan menghadirkan tantangan yang lebih kompleks dibanding masa perkuliahan.
"Kalau muncul tantangan kembali, tidak perlu memulai dari angka satu, karena sudah punya pengalaman menyelesaikan tantangan sebelumnya,” tuturnya.