SURYA.co.id, MOJOKERTO – Peristiwa tragis mengguncang warga Dusun Sumbertempur RT 02 RW 01, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (6/5/2026) pagi.
Seorang pria berinisial S alias T (42), yang sehari-hari bekerja sebagai badut penjual balon dan mainan anak-anak, tega membunuh ibu mertuanya serta menganiaya istrinya hingga mengalami luka berat.
Peristiwa berdarah itu terjadi di rumah kontrakan yang baru ditempati keluarga tersebut sekitar delapan bulan terakhir.
Saat menjalani pemeriksaan di Satreskrim Polres Mojokerto, Jumat (8/5/2026), tersangka tampak menangis dan mengaku menyesali perbuatannya.
Ia menyebut persoalan rumah tangga yang berkepanjangan menjadi pemicu dirinya nekat melakukan tindakan tersebut.
Berikut sederet curhat pelaku.
Di hadapan penyidik, tersangka mengaku telah lama menyimpan kecurigaan terhadap istrinya, Sri Wahyuni (35).
Ia menduga sang istri berselingkuh, namun memilih diam selama beberapa waktu.
"Istri saya selingkuh Pak Polisi, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama cuma saya ikuti alurnya. Tapi semakin dibiarin malah seperti itu," ujar tersangka S sambil menangis di Polres Mojokerto, Jumat (8/5/2026).
Selain dugaan perselingkuhan, tersangka juga mengaku merasa tidak dihargai oleh keluarga istrinya.
Perasaan sakit hati itu disebut terus menumpuk hingga akhirnya memicu emosi yang tidak terkendali.
Baca juga: Alasan Menantu Tega Bunuh Mertua di Mojokerto Terungkap, Ekonomi Atau Cemburu? Ini Kata Tetangga
Tersangka juga menceritakan kerasnya kehidupan yang ia jalani demi menghidupi keluarga.
Ia bekerja sebagai badut jalanan di sepanjang jalur Bangsal-Mojosari sambil menjual balon dan mainan anak-anak.
Menurut pengakuannya, ia kerap berjalan kaki sambil mendorong sepeda pancal sejauh puluhan kilometer dengan membawa anaknya yang masih berusia 3,5 tahun.
"Kok nggak lihat saya kerja, bawa anak kecil hujan-hujanan sampai panas kepanasan. Saya sering jalan dari Mojosari sampai ke rumah, anak juga ikut karena tidak ada yang merawat," ucapnya.
Ia menyebut penghasilannya tidak menentu. Dalam sehari, uang yang dibawa pulang terkadang hanya Rp4 ribu hingga Rp25 ribu.
Namun saat kondisi ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp300 ribu sampai Rp400 ribu per hari.
"Kalau Minggu berangkat dari rumah pukul 5 pagi pulang jam 10 malam," ungkapnya.
Di hadapan polisi, tersangka juga mengungkap rasa kecewanya karena sering dibanding-bandingkan soal penghasilan oleh istrinya.
Menurutnya, sang istri hanya mau mengurus anak apabila seluruh kebutuhan rumah tangga terpenuhi, termasuk uang belanja dan kebutuhan pribadi.
"Dia mau momong kalau kebutuhan terpenuhi semuanya, seperti uang belanja sendiri dan uang sekolah, uang dandan. Sedangkan seperti saya ini penghasilan tidak tentu," katanya.
Tersangka juga mengaku sakit hati karena kerap menerima ucapan yang menyinggung kondisi ekonominya.
"Sering bilang koyomu karo koyoku gak onok opo-opo e (Penghasilanmu dengan penghasilanku tidak ada apa-apanya)," kata tersangka.
Hingga kini, Satreskrim Polres Mojokerto masih mendalami kronologi lengkap serta motif di balik aksi pembunuhan dan penganiayaan tersebut.
Polisi juga telah mengamankan tersangka untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Kasus ini menjadi perhatian warga karena pelaku dikenal sebagai pekerja jalanan yang sehari-hari menghibur anak-anak dengan kostum badut.
Kasus di Mojokerto ini memperlihatkan bagaimana konflik rumah tangga yang dipendam terlalu lama dapat berubah menjadi tragedi.
Dugaan perselingkuhan, tekanan ekonomi, rasa tidak dihargai, hingga komunikasi yang buruk diduga menjadi faktor yang memperkeruh keadaan.
Meski begitu, persoalan rumah tangga dalam bentuk apa pun tidak dapat dibenarkan untuk diselesaikan dengan kekerasan.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya mencari jalan penyelesaian melalui komunikasi, keluarga, maupun pendampingan psikologis sebelum emosi berubah menjadi tindakan kriminal.
Kasus pembunuhan tragis terjadi di Dusun Sumbertempur RT 02/RW 01, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Rabu (7/5/2026) pagi.
Seorang perempuan paruh baya, Siti Arofah (54), tewas setelah diduga dibunuh oleh menantunya sendiri berinisial S (40).
Tak hanya itu, pelaku juga menganiaya istrinya, Sri Wahyuni (35), hingga mengalami luka parah dan kini dirawat intensif.
Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh Ketua RT setempat, M Suroto, yang merasa curiga saat melihat pelaku melintas di depan rumahnya.
Saat itu, pelaku terlihat membersihkan rumput dengan kondisi tangan berlumuran darah.
“Dia lewat depan rumah saya, tangannya ada darah. Katanya kena pecahan kaca, lalu langsung pergi,” ujar Suroto.
Merasa ada yang janggal, Suroto kemudian mendatangi rumah kontrakan pelaku. Namun, pintu rumah dalam kondisi terkunci dari dalam.
Rasa penasaran membuatnya mengintip melalui sela bagian atas pintu. Ia pun terkejut melihat Siti Arofah sudah tergeletak bersimbah darah di ruang tamu.
“Saya lihat ada genangan darah di lantai. Langsung saya laporkan ke polisi,” jelasnya.
Mendapat laporan tersebut, petugas bersama warga langsung menuju lokasi dan mendobrak pintu rumah.
Saat masuk, korban Siti ditemukan meninggal dunia di ruang tamu. Sementara itu, Sri Wahyuni ditemukan di ruangan belakang dalam kondisi luka parah.
Diduga, sebelum melarikan diri, pelaku sempat mengunci kedua korban dari luar rumah. Bahkan, kunci rumah dibuang ke dalam ruangan untuk menghambat akses masuk.
Korban Sri Wahyuni kemudian dievakuasi ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo Mojokerto untuk mendapatkan perawatan intensif.