Serunya Lepas Tukik ke Laut di Bengkulu Tengah, Wisata Edukasi yang Kini Ramai Pengunjung
Ricky Jenihansen May 09, 2026 06:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Suryadi Jaya

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU TENGAH - Suasana pantai di Desa Pekik Nyaring, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah, mulai ramai didatangi pengunjung sejak musim bertelur penyu berlangsung pada April 2026.

Tidak hanya melihat konservasi penyu, masyarakat juga bisa merasakan pengalaman melepas tukik ke laut sebagai bagian dari wisata edukasi pelestarian lingkungan.

Pengurus Konservasi Penyu Alun Utara, Zulkarnedi, mengatakan kondisi konservasi saat ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya setelah mendapat bantuan perbaikan rumah penyu dari jajaran kepolisian.

“Alhamdulillah kondisi konservasi penyu Alun Utara sekarang sudah sangat membaik karena kemarin ada bantuan dari Kapolda, Kapolres Bengkulu Tengah, dan Kapolsek Pondok Kelapa yang membantu memperbaiki rumah penyu,” ujar Zulkarnedi saat diwawancarai, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, sejak awal April hingga Mei 2026, penyu mulai ramai naik ke pantai untuk bertelur.

Hingga kini, tercatat sudah ada sekitar 10 sarang penyu yang ditemukan, terdiri dari enam sarang pada April dan empat sarang pada Mei.

“Kalau total telurnya ada yang 100 butir, ada juga yang sampai 150 butir per induk,” katanya.

Menurut Zulkarnedi, telur-telur penyu tersebut membutuhkan waktu sekitar 60 hari atau dua bulan untuk menetas menjadi tukik.

Faktor suhu pasir dan kondisi alam sangat memengaruhi keberhasilan penetasan.

“Nah kalau waktu penetasan itu 60 hari. Biasanya sudah menetas kalau suhunya bagus,” jelasnya.

Wisata Edukasi Pelepasan Tukik

Selain fokus menjaga telur penyu, pihak konservasi juga membuka ruang bagi masyarakat yang ingin berkunjung.

Wisatawan bahkan diperbolehkan ikut melepas tukik ke laut sebagai bagian dari edukasi pelestarian lingkungan.

“Konservasi penyu ini bukan milik pribadi, tapi milik semua orang. Jadi masyarakat sangat kami harapkan datang berkunjung, baik dari Bengkulu maupun luar daerah,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengunjung tidak dipungut biaya masuk maupun parkir.

Namun, untuk kegiatan pelepasan tukik, pengunjung diminta memberikan biaya adopsi sebagai bentuk dukungan terhadap biaya perawatan dan konservasi.

“Selain biaya adopsi itu tidak ada lagi biaya lain. Kami juga tidak memungut parkir,” ujarnya.

Lokasi Camping dan Kendala Konservasi

Tak hanya menjadi lokasi pelepasan tukik, kawasan konservasi tersebut juga mulai dikenal sebagai lokasi wisata alam dan camping.

Sejumlah komunitas hingga sekolah alam dari luar daerah disebut rutin datang untuk berkemah dan belajar tentang konservasi penyu.

“Sekolah Alam Mahira dari Bengkulu sering ke sini, ada juga sekolah alam dari Bekasi dan kemarin dari Palembang sempat hadir bermain dan berkemah di sini,” kata Zulkarnedi.

Meski demikian, pihak konservasi masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan dana untuk kompensasi telur penyu yang ditemukan warga serta kurangnya wadah pengeraman telur.

“Telur penyu ini sering ditemukan masyarakat, sementara kami masih kekurangan dana untuk biaya kompensasi dan juga ember untuk tempat pengeraman,” tutupnya.

Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini

 


© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.