Solusi Bosan Obat, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo Buka Klinik Bekam dan Terapi Akuatik
Daniel Ari Purnomo May 09, 2026 07:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, WONOSOBO - Di tengah derasnya arus pengobatan medis modern saat ini, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo justru menghadirkan sebuah terobosan unik yang rupanya masih terbilang jarang dimiliki oleh rumah sakit di tingkat daerah.

Rumah sakit tersebut secara resmi meluncurkan Layanan Kesehatan Tradisional Asiri Syifa sekaligus Pusat Rehabilitasi Medik dan Terapi Fisik pada Sabtu (9/5/2026).

Layanan baru ini menjadi alternatif menjanjikan bagi masyarakat yang ingin menjalani pengobatan tidak hanya mengandalkan obat medis semata, tetapi juga lewat terapi tradisional yang dipastikan tetap dikawal oleh tenaga kesehatan profesional serta teruji secara ilmiah.

Baca juga: Rismawati Senang Dapat Modal Usaha dalam PKU Akbar PNM Cabang Purwokerto di Bumiayu Brebes

“Oh iya, kami memang melancarkan layanan ini karena sebenarnya kebutuhan masyarakat juga,” kata Dedi.

Menurut penjelasannya, layanan kesehatan tradisional ini dihadirkan sama sekali bukan untuk menggantikan peran dari terapi dokter spesialis, melainkan agar dapat dipadukan secara holistik dengan pengobatan medis modern yang sudah ada.

“Jadi ini yang kita sinergikan, jadi bukan berarti kontradiksi dengan layanan dokter,” ujarnya.

Dalam lingkup operasional layanan Asiri Syifa ini, RS PKU Muhammadiyah Wonosobo turut menyediakan berbagai jenis terapi menarik, mulai dari pembukaan klinik herbal, akupunktur, bekam, hingga penerapan terapi akuatik yang difungsikan khusus untuk rehabilitasi medik.

Menurut Dedi, khusus untuk terapi akupunktur, metode ini tidak hanya digunakan untuk sekadar penanganan rasa nyeri di tubuh, tetapi juga sangat dapat dimanfaatkan bagi program penurunan berat badan serta terapi pendukung dalam mengatasi berbagai jenis penyakit kronis pasien.

Selain hal itu, pihak rumah sakit juga telah menyiapkan sarana terapi akuatik yang nantinya akan diaplikasikan untuk membantu mempercepat proses tahapan rehabilitasi pasien.

Dedi menyebut bahwa layanan kesehatan tradisional yang terintegrasi dan berbasis rumah sakit sebenarnya masih belum banyak dikembangkan di wilayah Kabupaten Wonosobo.

Oleh karena alasan itu, pihaknya terus mencoba menghadirkan sebuah konsep layanan utuh yang memadukan antara kenyamanan terapi konvensional dan tradisional di dalam satu pintu sistem pelayanan kesehatan.

“Semua ramuan jamu ini sudah dikaji secara ilmiah, sehingga komposisinya sudah terpercaya,” katanya memastikan.

Pasien nantinya juga akan diberikan keleluasaan penuh untuk memilih ragam metode terapi sesuai dengan kecocokan dan kebutuhan tubuhnya, baik itu murni pengobatan medis, racikan herbal, maupun kombinasi perpaduan dari kedua cara pengobatan tersebut.

“Bisa menjadi pilihan tidak hanya pengobatan minum obat tapi bisa dengan minum jamu atau terapi herbal,” ujar Dedi.

Menurut Dedi, tingkat permintaan terhadap layanan kesehatan tradisional saat ini terpantau cukup tinggi. Hal itu terutama datang dari para pasien penyakit kronis yang mulai merasa jenuh dengan rutinitas konsumsi obat-obatan farmasi dalam jangka panjang.

Ia mengungkapkan bahwa layanan akupunktur rupanya menjadi salah satu jenis terapi yang diklaim paling banyak diminati oleh masyarakat semenjak fasilitas tersebut mulai dibuka untuk umum.

“Animonya juga lumayan cukup banyak yang membutuhkan akupuntur,” ujarnya.

Bahkan, sejumlah pasien juga disebut sudah mulai merasakan adanya perubahan positif pada kondisi kesehatan mereka setelah mereka dengan rutin menjalani terapi tersebut.

Pengembangan masif pada layanan kesehatan tradisional di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Wonosobo ini rupanya juga mendapat pendampingan intensif dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta melalui skema program Sister Hospital.

Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, drg. Nusati Ikawahju mengatakan bahwa langkah pendampingan ini dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek peningkatan kompetensi SDM hingga menyentuh urusan tata kelola layanan kesehatan tradisional.

Menurut drg. Nusati, negara Indonesia sejatinya memiliki sebuah potensi yang luar biasa besar dalam urusan pengembangan obat herbal. Sumber daya tersebut berbasis pada kekayaan alam lokal yang kelak bisa dimanfaatkan optimal bagi peningkatan standar pelayanan kesehatan.

“Kekayaan alam di Indonesia ini sangat luar biasa,” ujarnya memuji.

Ia juga turut menilai bahwa tren kesadaran terhadap penggunaan terapi alami saat ini mulai berkembang pesat di berbagai belahan negara lain, terutama difokuskan untuk penanganan keluhan penyakit kronis layaknya diabetes mellitus dan hipertensi.

Di sisi lain, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, turut menyambut gembira dan sangat mengapresiasi hadirnya fasilitas inovatif layanan kesehatan tradisional di RS PKU Muhammadiyah Wonosobo ini.

Kondisi geografis pegunungan dan tanah yang subur di wilayah tersebut membuat banyak warganya terbiasa menanam berbagai jenis tanaman obat keluarga (toga) seperti jahe, kunyit, kencur, hingga serai di halaman atau pekarangan rumah mereka.

“Kalau nenek moyang kita dulu selalu memanfaatkan tanaman seperti kencur, jahe, dan macam-macamnya untuk obat tradisional,” kata Afif mengenang tradisi leluhur.

Ia menilai bahwa besarnya potensi budidaya tanaman herbal di Wonosobo sangat bisa dikembangkan dengan skala yang lebih serius lagi ke depannya, mengingat hal ini sangat didukung oleh iklim alam sekitar yang cocok untuk lahan budidaya tanaman obat.

Menurut Afif, tersedianya layanan kesehatan tradisional yang terintegrasi langsung di dalam rumah sakit menjadi suatu langkah penting. Hal ini bertujuan agar tren penggunaan herbal tidak lagi dilakukan secara sembarangan oleh masyarakat berdasarkan feeling, melainkan murni berbasis ilmu pengetahuan modern dan berada di bawah pengawasan langsung dari tenaga ahli.

“Kalau di sini semua dengan ilmu dan ahlinya,” katanya.

Sebagai bentuk support system, Pemerintah Kabupaten Wonosobo sendiri menegaskan kesiapannya untuk membuka peluang kerja sama yang luas dalam hal pengembangan program kebun sehat serta budidaya ragam tanaman obat di tingkat petani guna mendukung penuh pasokan layanan kesehatan tradisional di daerah tersebut. (ima)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.