Dari Konflik Iran–Amerika, Mantan KASAU Chappy Hakim Ajak Indonesia Perkuat Kedaulatan Udara
Feryanto Hadi May 09, 2026 10:35 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- PRESIDENT Club bersama Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menggelar peluncuran dan diskusi buku terbaru karya Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim berjudul National Air Power: Belajar dari Perang Iran–Amerika, Kamis (7/5), di President Lounge, Menara Batavia, Jakarta.

Peluncuran buku National Air Power ini menandai bertambahnya sumbangsih pemikiran bagi dunia dirgantara dan pertahanan Indonesia dari salah satu tokoh senior kedirgantaraan Tanah Air.

Marsekal TNI (Purn) Chappy Hakim ialah tokoh militer sekaligus pemikir strategis di bidang kedirgantaraan Indonesia.

Ia merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU) periode 2002–2005 dan dikenal luas sebagai penulis aktif di bidang kedirgantaraan, pertahanan, dan keamanan. Sudah lebih dari 50 buku ia tulis dan buku-bukunya menjadi salah satu rujukan utama dalam literasi militer di Indonesia.

Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) dan aktif mendorong penguatan pemahaman air power dalam konteks geopolitik global.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia ini, Chappy Hakim membahas bagaimana kekuatan udara saat ini tidak lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan militer semata. Tapi juga bagian dari strategi negara dalam menjaga kedaulatannya di tengah dinamika geopolitik global.

“Misi dari (meluncurkan) buku sebenarnya ialah untuk menyadarkan kita semua betapa pentingnya wilayah udara kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya mengajak ‘yuk mari kita kelola dengan baik’. Kita buat long term strategic planning untuk membangun sistem pertahanan nasional yang di bawahnya ada subsistem yang bernama Sistem Pertahanan Udara Nasional. Karena pelajaran dari konflik di Timur-Tengah menunjukkan bahwa musuh sangat mudah menyerang sebuah negara melalui udara. Itu yang sangat prinsip,” ujar Chappy Hakim usai peluncuran buku.

Pandangan tersebut kemudian dituangkan Chappy Hakim secara lebih mendalam melalui buku National Air Power. Lewat buku tersebut, pembaca diajak melihat secara komprehensif konsep national air power atau kekuatan udara nasional. Chappy –sapaan akrabnya– menekankan bahwa kekuatan udara bukan lagi sekadar pelengkap dalam sistem pertahanan, namun salah satu instrumen utama dalam menjaga kedaulatan, keamanan, serta kepentingan nasional suatu negara. 

Pembahasan dalam buku ini juga disusun begitu sistematis. Mulai dari landasan pemikiran serta teori kekuatan udara dari masa ke masa.

Chappy membedah bagaimana teori-teori ini berkembang sejak awal abad ke-20 – saat teknologi penerbangan pertama kali digunakan untuk tujuan militer – hingga bertransformasi menjadi kekuatan yang sangat dominan di era modern saat ini.

Ia juga mampu memberikan penjelasan mendalam mengenai hubungan timbal balik antara kekuatan udara dengan pencapaian kepentingan nasional melalui berbagai studi kasus strategis.

“Salah satu nilai jual utama dari buku ini adalah analisis tajam terhadap peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah mengubah jalannya dunia. Pak Chappy Hakim menggunakan sejumlah studi kasus penting untuk menunjukkan betapa besarnya dampak kekuatan udara terhadap strategi pertahanan dan tatanan keamanan global,” kata Kartini Nurdin Ketua Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Peristiwa-peristiwa yang dibahas, antara lain: (1) serangan ke Pearl Harbor – sebuah bukti sejarah bagaimana kekuatan udara mampu memberikan efek kejut strategis yang melumpuhkan, (2) pemboman Hiroshima dan Nagasaki – contoh ekstrem penggunaan kekuatan udara sebagai penentu akhir dari sebuah konflik berskala besar, (3) serangan 11 September 2001 – sebuah pengingat modern akan kerentanan ruang udara dan bagaimana ancaman udara dapat mengubah arah kebijakan keamanan dunia 

“Lebih jauh lagi, buku ini secara khusus mengambil pelajaran dari dinamika Perang Iran-Amerika Serikat. Melalui perspektif ini, pembaca diajak untuk memahami bagaimana kekuatan udara diuji dalam konflik kontemporer yang melibatkan persinggungan teknologi, diplomasi, dan taktik militer yang sangat kompleks,” kata Kartini Nurdin. 

Membangun kekuatan udara untuk berdamai

Peluncuran buku ini turut menghadirkan Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pertahanan RI periode 2009–2014, sebagai keynote speaker.

Dalam paparannya, Purnomo menekankan pentingnya mengedepankan diplomasi dibandingkan pendekatan hard power dalam menjaga kedaulatan negara. Menurutnya, sebagai negara berkembang yang masih membutuhkan banyak kemitraan strategis, Indonesia perlu mengutamakan pendekatan diplomasi atau soft power, sehingga penggunaan kekuatan militer benar-benar menjadi pilihan terakhir.

 Purnomo mengatakan, saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan, dirinya selalu membangun koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri dalam merumuskan kebijakan pertahanan nasional. Meski demikian, ia juga menyoroti adanya sejumlah negara yang memilih pendekatan berbeda dengan mengedepankan strategi “attack first” sebelum diplomasi dilakukan.

 “Jadi posisinya, Kementerian Luar Negeri berada di depan, sementara Kementerian Pertahanan mengikuti,” ujar Purnomo.

Meski mengutamakan diplomasi, Purnomo menilai kemandirian pertahanan udara nasional tetap penting untuk dibangun sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan negara.

Namun, menurutnya, membangun kekuatan pertahanan – dalam hal ini kekuatan TNI – bukan ditujukan untuk berperang, melainkan menjaga perdamaian.

Ia bercerita bahwa tantangan terbesar dalam membangun pertahanan pada masa dirinya menjabat adalah keterbatasan anggaran karena Indonesia baru saja melewati krisis ekonomi 2008.

Konflik Iran–Amerika ubah wajah perang modern

Sesi diskusi peluncuran buku ini tak kalah menarik.

Diskusi menghadirkan Dr. Nasir Tamara, pakar politik Timur Tengah dan penulis buku Revolusi Iran, dengan moderator Tascha Liudmila, News Anchor Nusantara TV.

Dalam paparannya, Dr Nasir Tamara membahas bagaimana perang modern antara Iran dan Amerika tidak selalu dilakukan secara langsung, tapi juga lewat operasi intelijen, kelompok sekutu, drone, serangan siber, dan pihak ketiga.  

Dalam sesi yang sama, Chappy Hakim juga menyoroti pentingnya membangun industri pertahanan nasional yang mandiri, khususnya di bidang teknologi udara, drone, dan sistem pertahanan strategis.

Menurut Chappy, Indonesia perlu belajar membangun industri pertahanan udara yang lebih mandiri, adaptif, dan berbasis teknologi, dengan mengambil pelajaran dari pengalaman Iran menghadapi tekanan geopolitik global. Seperti diketahui, Iran tetap bisa membangun teknologi pertahanan meski bertahun-tahun terkena embargo dan sanksi internasional.

“Konflik Iran dan Amerika telah menciptakan sejarah baru dalam taktik dan strategi perang udara. Kedua negara menunjukkan dominasi kekuatan udara yang kini berkembang ke arah perang siber, mulai dari pemanfaatan artificial intelligence (AI) hingga drone. Saat ini, perang bukan lagi sekadar kekuatan senjata, melainkan telah berubah menjadi perang sistem melawan sistem,” kata Chappy.

Drone murah vs sistem senjata mahal

Founder and Chairman Jababeka Group sekaligus founder President University dan President Club, Setyono Djuandi (SD) Darmono, mengatakan buku ini penting untuk memperluas wawasan tak hanya bagi kalangan militer, tapi juga akademisi, pembuat kebijakan dan masyarakat luas. 

“Saya kira buku ini memang sangat penting, terutama untuk pembuat kebijakan, dalam arti polisi atau tentara yang menjaga udara Indonesia. Buku ini membuka wawasan kita bahwa konflik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan negara besar. Iran menunjukkan bagaimana pertahanan udara yang kuat dan penggunaan drone berbiaya rendah mampu menghadapi sistem persenjataan modern yang jauh lebih mahal,” kata SD Darmono.

“Buku National Air Power hadir pada momentum yang tepat, di tengah dunia yang sedang menyaksikan bagaimana kekuatan udara saling berhadapan dalam konflik Iran dan Amerika Serikat. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, penguasaan wilayah udara bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan strategis yang sangat penting,” kata Executive Director President Club Prof. Chandra Setiawan.

Menanggapi hal itu, Chappy Hakim menyampaikan harapannya agar buku ini bisa bermanfaat bagi banyak orang dan memperkaya literasi kedirgantaraan di Indonesia.

 “Saya berharap, dengan pengalaman dan sedikit pengetahuan yang saya punya, yang dibuat secara utuh menjadi sebuah buku, bisa turut mencerahkan kehidupan manusia,” tutupnya.

Acara ini turut dihadiri oleh Hadi Tjahjanto, Panglima TNI periode 2017–2021 dan Kepala Staf Angkatan Udara periode 2017-2018, Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Presiden Prof. Budi Susilo Soepandji, kalangan akademisi, praktisi pertahanan, dan diplomat yang memiliki perhatian terhadap isu geopolitik dan keamanan global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.