Cadangan Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton, Anggota DPR Nilai Swasembada Pangan Makin Kuat
Erik S May 09, 2026 10:38 PM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Azis Subekti, menilai komitmen pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan mulai menunjukkan hasil konkret di lapangan.

Azis pun menyoroti cadangan beras nasional yang dikelola Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) kini telah menembus angka lebih dari 5 juta ton.

Menurutnya, capaian ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan kapasitas negara dalam menjaga ketahanan pangan pada level yang belum pernah dicapai sebelumnya.

"Stok ini meningkat tajam. Jika dibandingkan dua tahun lalu, lonjakannya bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat. Ini menunjukkan bahwa fondasi swasembada beras bukan lagi sekadar slogan politik tahunan, tapi mulai terlihat nyata," ujar Azis Subekti, Sabtu (9/5/2026).

Ia menjelaskan, lonjakan stok nasional tersebut didorong oleh serapan gabah petani dalam negeri yang sangat masif.

Hingga April 2026, penyerapan beras dari petani domestik tercatat telah mencapai 2,3 juta ton. Hal ini sejalan dengan peningkatan produksi nasional pada tahun 2025 yang menyentuh angka 34,69 juta ton, atau naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Azis mengungkapkan, temuan lapangan saat melakukan peninjauan ke gudang-gudang Bulog di berbagai wilayah, mulai dari ujung Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Papua, menunjukkan pola yang konsisten.

"Gudang-gudang Bulog di daerah terisi penuh. Stok relatif aman untuk 6 hingga 10 bulan ke depan di banyak wilayah. Bahkan, banyak gudang yang memerlukan tambahan ruang karena kapasitasnya sudah maksimal," terangnya.

Lebih lanjut, Azis menilai kehadiran negara saat ini memberikan ruang kepastian bagi para petani.

Kebijakan harga pembelian gabah di kisaran Rp6.500 per kilogram menjadi sinyal kuat bahwa petani tidak lagi dibiarkan berjalan sendiri saat panen raya.

Baca juga: Hashim: Kecukupan Pasokan Pupuk Bikin Target Swasembada Beras Terealiasi Lebih Cepat

"Ketika negara membeli dengan harga yang layak, petani berani menanam. Ketika petani menanam, produksi meningkat. Ketika produksi meningkat, Bulog menyerap dan stok nasional kita menguat. Ini adalah rantai yang mulai tersambung," jelas Azis.

Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada pada akhirnya tidak hanya diukur dari tumpukan beras di gudang, melainkan dari stabilitas harga yang dirasakan masyarakat di pasar.

Menurut Azis, kekuatan rantai pasok dan distribusi yang presisi menjadi penentu utama.

Ia menekankan pentingnya logistik yang efisien agar cadangan melimpah di gudang dapat meredam gejolak harga di setiap daerah.

"Pangan bukan hanya soal ketersediaan, ia adalah rasa aman. Rakyat tidak merasakan angka 5 juta ton itu di atas kertas, tapi mereka merasakannya di warung-warung melalui harga yang stabil," ucapnya.

Azis optimistis bahwa arah kebijakan pangan saat ini sudah bergerak menuju kemandirian yang lebih jujur, di mana ketergantungan pada impor mulai terkikis secara signifikan.

"Swasembada itu bukan tentang negara yang merasa cukup, melainkan tentang rakyat yang tidak lagi merasa kekurangan. Di situlah rakyat merasakan kehadiran negara yang sesungguhnya," pungkas Azis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.